December 11, 2007

Nikmatnya 'dihargai' dan Indahnya Toleransi

Gambar diambil dari situs ini.

Sore ini anak-anakku, Fadli dan Alif, pulang sekolah. Seperti biasa, mereka memperlihatkan segala sesuatu yang dibawa atau dititipkan oleh gurunya, seperti surat, pekerjaan rumah, atau kadang-kadang hadiah tanda kasih.

Tapi sore ini bawaan Alif agak spesial, sebuah amplop berisi kartu ucapan selamat atas rencana keberangkatan kami sekeluarga menunaikan ibadah haji. "Frau" Ruth Gummersbach, berujar:

"We all wish you a pleasant flight to Kairo, and good hadj in Mekka"

Mengapa spesial? Ya, karena ucapan selamat ini disampaikan oleh seorang yang berbeda agama. Bagiku, inilah wujud dari sebuah toleransi antarsesama umat beragama. Aku pun ingin mengucapkan "Fröhliche Weihnachten und ein glückliches neues Jahr 2008" bagi mereka yang merayakannya!

Lebih dari sekedar toleran, Sekolah "Erick-Kästner" ini sungguh telah memperlihatkan pengakuan dan penghargaan atas kebebasan umat beragama lain untuk menjalankan ritual berdasarkan keyakinan masing-masing. Libur Natal masih seminggu lagi, tapi Kepala Sekolahnya, "Frau" M. Blankertz, mengizinkan anak-anakku untuk berlibur lebih awal karena harus mengikuti kami yang akan menunaikan ibadah haji, mereka bahkan memberikan ucapan selamat pula bagi kami.

Dengan perlakuan seperti itu, sungguh aku merasakan 'kenikmatan' sebagai minoritas umat beragama, yang hidup di tengah-tengah mayoritas umat beragama lain. Pengalaman menjadi minoritas memang penting untuk membentuk sikap toleran. Andai saja setiap umat berbeda agama bisa hidup berdampingan, sungguh indah hidup ini.

Salajengna......

December 10, 2007

Si Encep "Sabondoroyot" Munggah Haji

Kalau tidak ada aral melintang, besok (11/12), aku, istri tercinta dan ketiga buah hatiku akan memulai perjalanan yang jauh berbeda dengan perjalanan-perjalanan kami sebelumnya selama tinggal di Jerman sejak pertengahan 2006 lalu.

Kalau sebelumnya kami sering pesiar mengunjungi kota-kota cantik di Eropa, kini tiba gilirannya kami melakukan perjalanan yang lebih bersifat spiritual, yakni ibadah haji, atau orang Sunda bilang mah, munggah haji….

Ya, begitulah, meski dengan langkah tertatih-tatih karena lumayan banyaknya rintangan teknis administratif, alhamdulillah akhirnya semua persiapan selesai dengan baik. Ini berkat saudara-saudara kami di Bonn dan Koeln yang dengan gigih membantu mengurus semua persyaratan administratif yang diperlukan, terima kasih Pak Bram, terima kasih Pak Hosi, terima kasih Pak Harto dan Bu Irma, sekarang “Si Encep” sabondoroyot mau munggah haji………….

Salah satu ‘kunci perantara’ hingga aku dan keluarga bisa mendapatkan izin perjalanan haji adalah karena aku menggabungkan jadwal haji dengan kegiatan akademik lain yang berkaitan dengan tugas utamaku sebagai peneliti tamu atas beasiswa the Alexander von Humboldt Foundation di Jerman. Selain itu, yang juga sangat menentukan diproses atau tidaknya visa haji kami adalah surat undangan untuk menunaikan haji dari Pak Nursamad Kamba, Kepala Konsulat Haji di KJRI Jeddah.

Sungguh aku juga bersyukur bermitra dengan Edwin Wieringa, Professor yang mengundangku untuk melakukan penelitian di Jerman, yang sangat baik hati, empati, dan bisa mengerti semua yang aku butuhkan, sehingga ia pun memberikan dukungan penuh bagi rencana haji yang digabungkan dengan aktivitas akademik ini.

Salah satu agenda akademikku adalah pada tanggal 12 Desember nanti, saat aku akan memberikan ceramah di hadapan mahasiswa-mahasiwa Indonesia berbagai tingkatan di Cairo, dalam sebuah acara bertajuk: “Filologi dan Revitalisasi Kajian Naskah-naskah Keagamaan Nusantara di Cairo”. Atase Kebudayaan dan Pendidikan KBRI Cairo berkenan mengundangku sebagai pembicara tunggal. Konon, acaranya sendiri dikerjasamakan dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir.

Sehari kemudian, pada pagi dan siang harinya, aku akan melakukan ‘riset singkat’ di dua perpustakaan besar di Cairo, yakni Perpustakaan Dar al-Kutub dan Perpustakaan Universitas Al-Azhar. Kebetulan beberapa manuskrip yang menjadi sumber primer penelitianku tersimpan di dua perpustakaan ini; dan aku telah mendapatkan salinannya beberapa waktu lalu atas bantuan kawan-kawan di Cairo, khususnya Pak Amin Samad.

Sebuah acara ramah tamah pada sore harinya juga rupanya sudah diagendakan oleh Racipta, sebuah paguyuban alumni santri Pesantren Cipasung di Mesir. Cipasung! Ah, aku sangat bangga, Pesantren ini yang pertama membentukku menjadi seorang santri. Wah, aku senang bukan kepalang, karena berarti juga akan berkumpul dengan kawan-kawan dari 'habitat' yang sama, meski pasti berbeda angkatan.

Nah, baru kemudian pada malam harinya kami akan memasuki Kota Jeddah, menginap semalam di Kota ini, dan kemudian menuju Makkah untuk mengikuti ritual pelaksanaan ibadah umrah dan haji,
sebelum dilanjutkan ziarah ke Kota al-Madinah al-Munawwarah.

Seharusnya, di Saudi Arabia sendiri aku melakukan riset tambahan dengan mengunjungi
King Faisal Center for Research and Islamic Studies, karena beberapa sumber penelitianku juga terdapat di sini. Tapi, agenda ini kemungkinan besar tidak akan terlaksana, mengingat semua lembaga di Saudi Arabia tutup selama musim haji.

Menurut rencana, tanggal 28 Desember kami sudah akan meninggalkan Jeddah, dan kembali mampir di Cairo untuk melanjutkan agenda riset serta melengkapi dengan wisata di Kota Piramid ini. Baru kemudian pada 31 Desember kami akan kembali ke Bonn, dan menyongsong tahun baru 2008 di kota nan resik ini. Semoga semua rencana kami ini akan berjalan dengan baik, dan mendapat Rida-Nya, amin.

Ah, aku ingin mempersembahkan perjalanan hajiku ini secara khusus buat Bapakku di kampung halaman, seorang yang sering berkata: “Bapak bangga Encep bisa jalan-jalan ke Negara-negara lain, tapi akan lebih bangga kalau juga menyempatkan ‘jalan-jalan’ ke Mekkah”. Moga Bapak yang kini hanya bisa berbaring di atas kasur menyempurnakan kebanggaan buat anaknya. Si Encep munggah haji, Pak…!



Salajengna......

December 9, 2007

Kepala Sekolah yang Pemulung.........

Berita Indosiar di bawah ini membuat aku tidak bisa banyak berkata-kata....ah, hidup ini!

Hidup, tak selamanya bisa memilih. Itulah yang dirasakan Mahmud, seorang guru, bahkan kini menjadi kepala sekolah salah satu sekolah agama di Cengkareng, Jakarta Barat. Ia seperti hidup di antara dua dunia yang sangat berbeda, menjadi guru di satu saat, dan karena alasan ekonomi menjadi pemulung sampah di saat lain. Inilah potret nyata kehidupan guru di tanah air.

Selengkapnya, silahkan baca di sini

Ssssst....dulu aku juga pedagang asongan di Jakarta, sudah sepatutnya aku bersyukur nasib baik masih berpihak padaku.....terima kasih Tuhanku!

Salajengna......

December 2, 2007

Bejat!!!

Bangsa ini sungguh menyimpan banyak masalah, Pak! Biarkan aku teriak selagi aku bisa....!

Tengoklah berita tentang konspirasi jahat ini: lima arca purbakala yang telah menjadi aset Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah selama puluhan tahun ternyata telah dipalsukan oleh Kepala Museum Radya Pustaka sendiri, Kanjeng Raden Tumenggung Dharmodipuro alias Mbah Hadi, yang berkonspirasi dengan orang-orang picik tak berbudaya!

Tentu ini bukan berita baru. Eksploitasi dan penjualan benda-benda cagar budaya dalam bentuk manuskrip-manuskrip kuno sesungguhnya telah berlangsung lebih lama. Masyarakat pemilik naskah-naskah tersebut secara pribadi dan turun temurun merasa bahwa tidak ada yang salah dengan penjualan khazanah budaya yang dipegangnya karena barang-barang itu adalah properti pribadinya.

Itulah bedanya Indonesia dengan negara lain. Di Jepang, undang-undang Negaranya mengatur bahwa benda-benda bersejarah bukanlah properti pribadi, melainkan milik Negara, sekalipun awalnya berada di tangan orang per orang, sehingga benda-benda ini harus diserahkan kepada Negara dan disimpan di museum-museum yang dikelola dengan baik, tentunya tidak 'dirampok' oleh kepala museumnya sendiri.

Mbah Hadi sungguh telah berkhianat, bukan hanya terhadap Museum Radya Pustaka atau warga solo belaka yang telah mengangkatnya sebagai sesepuh, melainkan terhadap bangsa Indonesia yang bersama-sama telah 'melahirkan' arca Agustya, Durga Mahesa Sura Madini, Durga Mahesa Sura Madini II, Siwa, dan arca Mahakala ratusan tahun yang lalu.

Ah, Mbah.......

Salajengna......

November 20, 2007

Fatwa Abu Bakar Ba'asyir

Suatu siang saat santai menikmati liburan bersama keluarga, aku menerima telpon seorang Ibu yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Jerman. Ia menikah dengan seorang Jerman, dan telah menjadi warga negara Jerman.

Dengan sedikit tergopoh-gopoh ia menceritakan kepadaku bahwa baru saja ia membaca berita di sebuah media Muslim, yang mengutip 'fatwa' seorang ulama: 'haram hukumnya seorang muslim hidup di Negara Kafir"...Ibu ini jadi ketakutan, bahwa selama ini ia berarti melaksanakan suatu perbuatan haram yang dilarang agama....

Sontak aku terkejut, untuk sementara aku berusaha menjelaskan ke Ibu itu bahwa kita juga tidak perlu terburu-buru dan menelan mentah-mentah berita di internet, meskipun dari situs yang mengatasnamakan Islam. Aku berjanji untuk mempelajari berita itu....

Belakangan, aku pun menemukan sumber kegelisahan sang Ibu tadi, rupanya benar, 'fatwa' itu berbunyi: “Orang Islam haram hidup di negeri kafir, itu tidak boleh. Orang Islam harus menjadi warga negara di negara Islam, itulah ketetapan dan perintah Allah”, tak lain dan tak bukan, ulama yang mengungkapkan hal tersebut adalah Abu Bakar Ba'asyir yang dikutip pernyataannya di sini. Ah, aku tidak sependapat, Ustaz...........!

Meski belum pernah ketemu langsung, aku yakin Abu Bakar Ba'asyir adalah seorang yang secara praktik keagamaan sangat saleh. Tapi, jujur aku akui pula, banyak pandangan radikalnya tentang Islam yang aku tidak sependapat. Salah satunya ya 'fatwa' yang baru dikeluarkannya ini, meskipun ia melandasi pernyataannya itu dengan kutipan al-Quran surat al-Nisa: 59.

Bagiku, ini adalah sebuah contoh versi tafsir atas sebuah ayat al-Quran, bukan 'hukum pasti' yang dihendaki Allah dengan sebenar-benarnya. Abu Bakar Ba'asyir punya hak untuk menafsirkan ayat tersebut seperti yang ia katakan, tapi soal benar dan tidaknya, hanya Allah yang Mahatahu.

Aku sendiri merasa punya hak untuk tidak sependapat dengannya, dan memahami ayat itu bukan sebagai larangan hidup di sebuah negara non-Muslim.

Dari berbagai literatur tafsir yang aku baca, ayat itu sering dijadikan sebagai justifikasi bahwa dasar hukum Islam itu ada empat: al-Quran, Hadis Nabi, Ijma, dan Qiyas. Ini kalau bunyi ayatnya lengkap dikutip. Sayangnya dalam berita itu disebutkan bahwa Abu Bakar Ba'asyir hanya mengutip separuh ayat, dan langsung menafsirkan keharusan ketaatan kepada 'ulil amri' sebagai keharusan seorang Muslim hidup di sebuah negara Islam.

Menurutku, Abu Bakar Ba'asyir berlebihan dalam membenci serta mencurigai Barat dan non-Muslim, tidak bisa bersikap objektif. Ia menutup mata bahwa dalam beberapa hal, negara yang dikelola oleh non-Muslim lebih bisa menciptakan ketertiban, keadilan, dan kesejahteraan bagi warga masyarakatnya, sementara tidak jarang sebuah negara yang dikelola oleh kalangan Muslim malah tidak pernah berhasil menciptakan keadilan, kepatuhan hukum, kejujuran, dan kesejahteraan di kalangan warganya. Kalau begitu, mana yang lebih baik?

Ahh, aku tidak heran kalau konflik antarumat beragama di Indonesia tidak pernah berhenti, karena fatwa-fatwa dari tokoh-tokoh agamanya sering tidak menyejukkan hati, dan sebaliknya malah manas-manasi......


Salajengna......

November 16, 2007

Menjadi 'Pemulung' di Bonn

Mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir bagi kami menjadi 'pemulung' di Jerman..., memungut barang yang dibuang, tapi juga sambil membuang barang yang sudah bosan kami pake. Ya, begitulah tradisi Sperrmull yang ada di Negeri ini.

Sadar bahwa kemungkinan ini Sperrmull terakhir sebelum pulang kampung, sambil membuang perabotan, aku pun sengaja keliling di jalan sekitar, kaya ronda, sekedar untuk 'menikmati' suasana yang belum tentu aku temui lagi. Waktu menunjukkan jam 18.00, tapi matahari sudah lama terbenam, maklum lagi musim winter.

Sperrmull adalah jadwal empat atau lima bulanan yang diatur oleh Pemerintah Kota di mana orang boleh membuang barang-barang apa saja yang sudah tidak ingin disimpannya di rumah. Tidak selalu sampah tak berguna yang dibuang, tapi seringkali juga barang-barang yang masih layak pakai dan terawat dengan baik, biasanya karena penggunanya sudah ingin mengganti dengan barang baru, atau bisa juga karena orangnya mau pindahan.

Kami sendiri mengumpulkan banyak perabotan rumah saat Sperrmull, hampir tidak ada yang kami beli baru, kecuali barang elektronik. Kasur, meja makan, kursi, meja kerja, semuanya adalah 'barang bekas' yang dibuang, tentu kami memilih-milih yang masih baik. Setip musim Sperrmull, kami buang barang-barang tertentu, dan kami ganti dengan barang baru. Ah, menarik sekali kehidupan sosial kemasyarakatan di sini, semuanya serba tertib, tidak ada barang atau sampah bertumpuk g karuan, semuanya serba terjadwal, dan patuh pula diikuti warganya....

Sperrmull juga jadi lahan bisnis tersendiri bagi warga tertentu. Biasanya, pada malam menjelang Sperrmull, banyak mobil box besar berkeliling mencari barang-barang yang masih bagus, mungkin untuk dijual sebagai 'second hand', mereka biasanya mengutamakan barang-barang metal dan kayu, seperti mesin cuci atau lemari yang masih utuh. Jadi, kalau ingin dapet barang bagus, ya harus dulu-duluan sama mereka-mereka yang bawa mobil box itu.

Begitulah sudut kehidupan di Kota ini, dan juga kota-kota lain di Jerman tentunya. Mungkin kami akan merindukannya suatu saat. Di beberapa negara lain pun tradisi Sperrmull memang ada, cuma di kita yang belum. Yah, maklumlah ini hanya 'urusan kecil dan sepele', mungkin Pemerintah masih harus mengutamakan mengurus perut sebagian rakyat yang belum tertangani dengan maksimal. Semoga ke depan.....amin.

Salajengna......

November 8, 2007

Sesat Menyesatkan: ‘Fatwa’ dari Masa Lampau

Membaca berita-berita tentang sesat menyesatkan yang lagi marak di Tanah Air, ingatanku melayang ke masa lebih dari 300 tahun lalu.....

Pada paro kedua abad 17, Nuruddin al-Raniri di Aceh mengeluarkan fatwa bahwa ajaran wahdatul wujud yang diajarkan Hamzah Fansuri dan Shamsuddin Sumatrani adalah sesat, pengikutnya boleh dibunuh.

Ajaran wahdatul wujud sendiri mengajarkan kesatuan wujud, bahwa alam itu adalah pancaran dari Tuhan. Cuma, ada orang yang mungkin agamanya belum terlalu mantap, lalu kebablasan mempelajari dan memahami ajaran ini, lalu ia mengklaim bahwa ia sdh menyatu dengan Tuhan, dan tidak lagi perlu melaksanakan kewajiban syariat.

Karena saat itu al-Raniri menjadi ulama yang menjadi patron Istana (mungkin sekarang mah kaya MUI kali yah), Sultan Iskandar Tsani mendengar dan melaksanakan fatwa itu. Kitab-kitab yang ditulis oleh kedua ulama itu dibakar pada sekitar tahun 1642 di depan Masjid Baiturrahman Aceh. Sejumlah pengikutnya dikejar-kejar dan dihukum mati. Kehilangan kitab-kitab karangan Hamzah Fansuri dan al-Sumatrani itu adalah salah satu tragedi intelektual yang pernah terjadi di Aceh akibat konflik sosial-keagamaan yang terjadi.

Pada 1661, ulama Aceh lainnya, Abdurrauf Singkel, pulang kampung setelah belajar agama di Makkah dan Madinah selama 19 tahun. Ia kayaknya gak tega melihat konflik berdarah dan berkepanjangan akibat perbedaan faham keagamaan di kalangan Muslim itu. Lalu ia minta fatwa dan saran kepada gurunya di Madinah, kira2 bunyinya: “gimana baiknya nih
Ustaz menyikapi masalah sosial-keagamaan di Kampoeng ane”? Abdurrauf sendiri pernah belajar wahdatul wujud kepada gurunya yang bernama Ibrahim al-Kurani itu, tapi dia tetap mengajarkan ketaatan pada aspek-aspek syariat.

Fatwa itu lama sekali tidak datang, maklum dulu blm ada email, jadi komunikasi agak lambat, permintaan fatwanya saja dititipkan kepada orang yang mau naek haji, yang baru akan sampai di Mekah beberapa bulan kemudian, padahal Abdurrauf sudah ditanya terus oleh Sultanah Safiatudin, penguasa baru yang menggantikan Sultan Iskandar Tsani, dan mengangkatnya jadi ulama Istana menggantikan al-Raniri.

Sambil menunggu, Abdurrauf menulis kitab, dikasih judul Tanbih al-Mashi, semacam pedoman hidup jadi Sufi. Ia, antara lain menulis:

“Kalau kita menjumpai ada orang yang mengklaim bahwa manusia dan alam adalah identik secara mutlak dengan Tuhan, yakinlah bahwa itu keliru, kecuali dulu emang begitu pada zaman azali. Tapi kalau kita menjumpai ada orang yang terlalu gampang mengutuk dan menyesatkan orang lain, itu juga tidak benar, karena Nabi pernah bilang: sesungguhnya orang yang suka mengutuk itu tidak bisa menjadi orang yang mati syahid atau orang yang mendapat syafa'at di hari kiamat.”

Nah, pada sekitar 1665, fatwa dari gurunya di Madinah pun datang, berupa kitab berjudul Ithaf al-Dhaki, semacam ‘Persembahan bagi orang suci’. Panjang banget memang karya itu, kira-kira 100 halaman, itupun tergantung jumlah baris per halamannya, dan tentunya dalam bahasa Arab. Yang penting di situ gurunya bilang:

"...Kalau memahaminya benar, tidak ada kontradiksi antara ajaran kesatuan Wujud (wahdat al-wujud) dengan hukum-hukum syariat, dan ajaran itu juga tidak bertentangan dengan tuntutan agama untuk mematuhi perintah berbuat baik dan larangan berbuat buruk. Artinya, merasa menjadi orang suci boleh, tapi kewajiban syariat (maksudnya shalat, puasa, dll) seyogyanya tetap jalan terus..."

Guru Syiah Kuala itu juga bilang:

"...Semua fenomena alam ini pada hakikatnya adalah manifestasi (mazhar) Tuhan, dan semuanya diciptakan oleh serta atas Kehendak-Nya, siapapun yang menjumpai sebuah kebaikan dalam fenomena alam, hendaklah ia memuji Allah, karena Dia bermurah hati menciptakannya, padahal tidak ada keharusan bagi-Nya untuk melakukan apapun, karena pada dasarnya Dia tidak membutuhkan alam semesta. Tapi, barangsiapa menjumpai hal yang sebaliknya (keburukan, kesesatan, dan sebangsanya), hendaklah ia tidak mencela kecuali kepada dirinya sendiri, karena “Dia telah memberikan setiap sesuatu bentuk ciptaannya” (20: 50). Katakan saja olehmu: “Allah mempunyai hujjah (alasan) yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya” (6: 149)..."

Sungguh santun dan indah kedengarannya fatwa itu, tidak ada kata ‘tangkap’, ‘bunuh’, atau yang serem-serem lainnya…………..semua diminta santun dan menggunakan ‘wisdom’ dalam menyikapi fenomena alam ciptaan-Nya.

Salam damai dari Bonn

Salajengna......

October 12, 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H

Selamat Idul Fitri 1428
Powered by Smilebox
Click to play | Make your own Smilebox


Tak terasa waktu terus bergulir, ini adalah Idul Fitri kami yang kedua selama tinggal di Bonn. Selalu muncul rasa sedih karena tidak berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, maklum kumpul bersama sudah jadi tradisi.

Tahun depan, insya Allah kami akan bisa menyicipi kembali ketupat lebaran di kampung halaman.

Buat semuanya, saya dan keluarga mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin.

Taqabbalallhu minna wa minkum, kullu 'am wa antum bi khair...



Salajengna......

October 8, 2007

Ingin tapi tak bisa



Aku ingin menulis, tapi aku sedang tidak mood, aku tak bisa...
Aku ingin tertawa, tapi tak bisa...
Aku ingin menangis, tapi tak bisa...
Aku ingin diam, tapi tak bisa...
Aku ingin marah, tapi tak bisa...
Aku ingin berhenti nulis, tapi juga tak bisa...



Salajengna......

September 20, 2007

Persembahan buat Sayangku...

Aku ingin mempersembahkan tulisan ini khusus buat mantan pacarku (eitt..jangan mikir yang nggak-nggak dulu yah.., ini pacar yang terakhir kok!), yang kini tentu saja sangat setia berada di sampingku, Ida. Kenapa aku ingin menuliskan sebuah coretan?

Ceritanya, sejak awal Agustus lalu, Ida mengambil kursus bahasa Jerman di Goethe Institut, berangkat jam 08:00 pagi, sampai jam 13:30 an. Nah, sejak itu, hampir setiap pagi aku menemani si kecil, Jiddane, yang baru mau berumur 3 tahun pada 15 November nanti.

Dari situlah aku bisa merasakan, bagaimana tidak mudahnya ngemong anak yang masih balita, ya ngatur makannya, bersihin pipisnya, ganti pampersnya, dan menjaga ritme agar dia tidak bosan lalu menangis, maklumlah, tidak seperti kalau di Indonesia, di sini kebetulan tidak ada tetangga yang sama-sama punya anak kecil, jadi kami berdua bermain di rumah saja, sambil menunggu dua kakaknya pulang sekolah dan OGS sampai jam 16:00. Jujur saja, kadang aku dibuat gak sabar oleh ulahnya.

Untungnya jenis penelitianku tidak mengharuskan aku berada di satu tempat, seperti laboratorium atau kantor tertentu misalnya; aku bisa mengerjakan kewajiban pokokku untuk membaca, meneliti, dan menulis di mana saja, karena semua sumber primer yang berupa manuskrip ada dalam laptop mungilku, jadi aku tetep bisa 'bekerja' sambil ngemong Jiddane.

Nah, aku tiba-tiba membayangkan, istriku dulu mengandung ketiga anak kami selama masing-masingnya 9 bulan, lalu menyusui mereka, dan melakukan rutinitas ngemong anak seperti yang aku alami sekarang ini sejak kami dikaruniai anak pertama, Fadli, pada 1997! tentu kami melakukannya bersama, tapi aku akui porsi tanggung jawab istriku mungkin lebih dari 90% dalam hal ini, aku hanya nambahin aja. Belum lagi soal masak, satu hal yang sampai sekarang aku tidak bisa menggantikannya. Kalau ceplok telor sama bikin Indomie goreng sih gak masalah....!

Begitulah tanggungjawab berat istriku sebagai seorang ibu. Tidak heran kalau Nabi sampai tiga kali menegaskan bahwa orang yang paling patut kita hormati adalah ibu, baru setelah itu ayah. Konon, surga juga berada di bawah telapak kaki ibu, dalam pengertian restu ibu adalah kunci seorang anak mendapat rida Tuhan.

Dalam cerita rakyat, kita juga mengenal kisah tentang maling kundang yang mendapat petaka akibat durhaka kepada ibunya....jadi, dalam sudut pandang ini, posisi perempuan, dalam hal ini khususnya ibu, sungguh mendapat posisi yang sangat terhormat, bukan saja dalam pandangan agama, tapi juga budaya kita.

Aku kini juga suka bertanya-tanya sendiri, mengapa dalam sejumlah literatur keagamaan istri sepertinya dinomor duakan? dalam sebuah kitab misalnya dijelaskan bahwa istri tidak punya hak untuk menengok ayahnya yang sakit sekalipun kalau tidak mendapat izin suami, atau seorang istri akan dilaknat oleh malaikat sepanjang malam jika menolak untuk diajak berhubungan oleh suaminya. Ah, aku yakin itu pasti karena pengaruh budaya partriarkis yang sedemikian kuat. Kita memang perlu menyegarkan kembali pemahaman keagamaan kita.

Aku hanya berharap dan berdoa, semoga istriku memberikan restunya bukan hanya buat anak-anak kita, tapi juga untukku, karena aku sadar betul tidak akan bisa menapak karir seperti yang aku peroleh sekarang ini kalau kau tidak secara ikhlas mendampingiku....., apalagi aku mungkin belum bisa membuatmu bahagia sepenuhnya...

Cup sayangku buatmu....

Salajengna......

September 13, 2007

Ramadhan di Bonn

Sore ini, kawanku, Ging Ginanjar, penyiar Radio Jerman, Deutsche Welle di Bonn, mengajakku ‘ngawangkong’ soal pengalaman menjalankan ibadah puasa di Jerman. Ini memang Ramadhan tahun kedua bagi kami sekeluarga selama tinggal di Jerman. Hasil obrolan kami itu telah disiarkan pada 13 September 2007 acara siaran pagi, jam 05.00-06.00 WIB, meski jangan kaget, Ging menyebut statusku sebagai mahasiswa Magister di Uni Koeln, ah jadi muda lagi dong...!

Banyak yang berbeda memang, antara menjalankan puasa di Negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam dengan berpuasa di Negara seperti Jerman, di mana masyarakat Muslim adalah minoritas.

Pasalnya, puasa Ramadhan di Indonesia tidak hanya sekedar sebagai ritual agama semata, melainkan lebih dari itu ada unsur-unsur ritual budayanya. Nah, hal terakhir inilah yang terasa sekali hilang dari nuansa puasa di sini. Tentunya kawan-kawan yang tinggal di negara-negara lain pun merasakan hal yang sama.

Menjelang Ramadhan misalnya, masyarakat Muslim Indonesia memiliki tradisi berziarah ke makam orang tua dan leluhurnya; menjelang sahur pun biasanya ada anak-anak muda yang menabuh kentongan, bahkan ember, dan berkeliling kampung untuk membangunkan sahur. Pengeras suara di masjid-masjid juga seringkali seperti berlomba untuk membaca salawat, tadarus, dan alunan azan. Menjelang magrib juga ada tradisi ngabuburit, jalan-jalan sore ke taman atau ke alun-alun masjid sambil menunggu beduk magrib. Tradisi yang tak kalah menariknya tentu adalah makan kolak…..wah, jadi pengen nih!

Mungkin beberapa tradisi seperti itu tidak biasa terjadi di kota-kota besar, tapi pengalamanku hidup di kampung, nuansa demikian sangat berkesan dan tak pernah terlupakan. Nah, semua itu kini benar-benar hilang dari sekeliling kami saat Ramadhan, laptopku pun terpaksa menggantikan tugas sang bilal untuk mengumandangkan azan.

Untungnya, setiap Jumat dan Sabtu, masyarakat Muslim asal Indonesia di Bonn bersama-sama menggelar tarawih berjamaah di gedung eks KBRI. Saat itulah biasanya ada yang bikinin masakan khas bulan Ramadhan, lumayan untuk mengobati rasa rindu kampung halaman.

Dari segi godaan berpuasa, berpuasa di Eropa, yang punya empat musim ini, juga punya dinamika tersendiri. Kalau di Indonesia kita biasa menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 8 jam, di sini bisa 14 sampai 15 jam, tergantung musimnya. Yang lebih berat tentunya kalau Ramadhan jatuh pada musim panas, bayangkan…puasa mulai jam 3 dinihari sampai jam 10 malam! Ah, untungnya April depan insya Allah kami akan pulang kampung, duh rindunya…!

Salajengna......

September 6, 2007

"Promosi Wajah" di Portal Melayu

Belum lama ini aku mendapat email dari Redaksi Melayu Online ---sebuah portal yang baru dipublikasikan setahun belakangan ini, dan didedikasikan untuk mempromosikan berbagai hal berkaitan dengan dunia Melayu--- bahwa profilku sebagai peneliti Melayu ditampilkan pada rubrik tertertu.

Ini aku anggap sebagai sebuah pengakuan dan penghargaan tak ternilai atas aktivitas yang selama ini aku jalani sebagai peneliti naskah-naskah kuno keagamaan. Dulu aku tidak berfikir pengen jadi macam-macam dengan menekuni bidang yang tidak banyak diminati ini, aku jalani saja seperti air mengalir, kalau pun sekarang mulai kelihatan buahnya, aku hanya bisa bersyukur.

O ya, tentang profil di Portal Dunia Melayu Online itu, silahkan klik di sini.

Salajengna......

September 2, 2007

Berfikir untuk Hari Esok...

Agama banyak mengajarkan kita untuk bertafakkur, merenungkan siklus kehidupan yang kita alami; katanya, di dalam proses tafakkur itu ada banyak pelajaran yang bisa membuat kita lebih arif dalam memandang arti kehidupan.

Kalau dipikir-pikir, sejak tinggal di Jerman setahun lalu, orientasi kehidupanku tidak pernah ditujukan untuk kepentingan 'hari ini' di Jerman, melainkan lebih memikirkan bagaimana 'hari esok' jika aku telah kembali ke Indonesia. Kenapa? karena aku sudah tahu pasti bahwa masa tinggalku di Jerman hanya sementara, April 2008 kami sekeluarga sudah pasti harus kembali ke Tanah Air.

Oleh karenanya, aku tidak terlalu memikirkan bagaimana bermegah-megah hidup di sini, bagaimana membeli perabotan rumah yang lux, dan menghindari pembelian barang-barang yang tidak mungkin dibawa pulang ke Indonesia. Sebaliknya, aku hanya berfikir, apa yang akan dan bisa aku bawa pulang nanti, oleh-oleh apa yang bermanfaat, kerja keras apa yang bisa mendongkrak kualitas dan kapasitasku sebagai seorang peneliti, dan yang juga penting, memperbanyak tabungan. Bagiku, hari esok di Indonesia adalah hari di mana aku dan keluarga akan hidup 'selamanya', sementara di Jerman sini, kami hanya hidup sementara.

Pola berfikir seperti ini membuatku bisa hidup sederhana, menikmati 'fasilitas' hidup apa adanya, dan selalu berusaha untuk sebanyak-banyaknya membekali diri demi kepentingan kehidupan kami di Indonesia jika kelak sudah kembali. 'Toh di sini cuma sebentar', begitu aku selalu mengingatkan diriku, istriku, dan anak-anakku.

Lalu aku merenung, bukankah cara berfikir seperti ini yang diajarkan agama untuk memandang kehidupan di dunia yang fana ini? karena agama mengajarkan adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia ini yang lebih abadi, dan menegaskan bahwa kehidupan di akhirat itu lebih penting daripada kehidupan di dunia ini (93: 4), meski agama juga mengajarkan agar kita tidak melalaikan kehidupan dunia (28: 77).

Yah, begitulah...sebagai manusia kadang-kadang kita memang khilaf bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, meski kita sudah yakin bahwa suatu saat niscaya kita akan meninggalkan alam fana ini. Apa yang dibawa? tiada lain selain bekal kebaikan selama hidup di dunia. Nabi bilang, yang dibawa hanya tiga: sadakah zariah, ilmu yang bermanfaat, dan keturunan yang saleh (al-hadis).

Sifat khilaf dan lupa itulah yang terkadang membuat kita hidup berlebihan, selalu merasa tidak cukup, dan tidak pernah memikirkan bekal untuk hari esok, semoga tidak...!


Salajengna......

August 26, 2007

'Ustaz' yang Kebablasan...

Tanpa sengaja, beberapa hari lalu anakku nemu sebuah link video di YouTobe mengenai ceramah agama seorang Ustaz, sebut saja 'R'. Aku tidak tahu persis di mana lokasi dia ceramah, tapi pasti di daerah Sunda, dugaanku di Bandung. Aku pun tertarik mendengarkannya.

Awalnya aku tertarik karena mendengar logat Sundanya yang masih kental, maklum telinga Sundaku rupanya masih sensitif, lagian rasanya aku sudah lama tidak mendengarkan ceramah ulama lokal.

Tapi, mengikuti kata per kata ceramah Ustaz ini, telingaku mulai merasa tidak nyaman, isi ceramahnya lebih banyak mengandung provokasi untuk tidak menyukai pemeluk agama lain, khususnya Yahudi dan Nasrani, semua materi dikemukakan dalam kerangka adanya, menurut anggapan dia, teori konspirasi Yahudi-Nasrani untuk menghancurkan Islam. Tentu dia juga mengutip ayat al-Quran, meski bacaannya tidak terlalu fasih untuk ukuran seorang Ustaz, aku mafhum, dia seorang muallaf.

Aku tahu, setiap pemeluk agama harus meyakini kebenaran agama yang dipeluknya. Tapi aku tidak pernah setuju kalau cara mengajak untuk meningkatkan iman itu melalui hujatan dan celaan terhadap agama lain, rasanya lebih baik memperbaiki dapur sendiri daripada menghabiskan energi mengurusi, bahkan menjelek-jelekkan dapur orang.

Ustaz ini seperti sudah menemukan kebenaran yang maha hakiki, seolah surga hanya miliknya, dan seakan tidak rela berbagai surga dengan orang lain, sehingga didoakannya orang lain agar masuk neraka...na'uzubillah min dhalik!

Ustaz ini menurutku juga sangat bias jender, dia beberapa kali menggambarkan perempuan dengan tidak sepatutnya, misalnya mengumpamakan perempuan berpakaian levis ketat dengan seekor ‘munding’ (kerbau).

Tapi dengan begitu, aku jadi tambah penasaran untuk mengklik video sambungan ceramah Ustaz ini, dan ternyata ‘provokasi’nya semakin menjadi-jadi. Dengan dalih harus hati-hati terhadap hal-hal yang mungkin masih syubhat atau bahkan tidak halal, dia menyebut haramnya sejumlah makanan dan minuman, bahkan termasuk minuman air putih kemasan yang menurutnya keuntungannya diperuntukkan bagi ‘orang kafir’.

Puncak ketidakberesan Ustaz ini, yang sempat membuat aku setengah berteriak, adalah ketika ia menghalalkan, dan bahkan menganjurkan, tindakan pemerkosaan terhadap perempuan yang berpakaian menor. Ia bahkan bersumpah akan menjadi orang pertama yang memperkosa di hadapan hadirin, jika saat itu ada perempuan berpakaian menor yang masuk ke arena pengajian. Astagfirullah…..!

Aku tahu, seorang Ustaz perlu bercanda untuk menyegarkan suasana, tapi apa yang dilakukan oleh Ustaz ini menurutku sudah kelewat batas…toh Islam juga mengajarkan kita untuk menyampaikan sesuatu melalui tindakan santun dan kata-kata yang baik. (16: 125).

Aku terus terang menangis dalam batin, mengapa masih ada orang-orang yang tega membodohi umat seperti itu. Aku yakin, untuk membangun kejayaan umat bukan melalui provokasi agar antar agama saling bermusuhan, tapi melalui saling pengertian. Aku jadi berburuk sangka, jangan-jangan Ustaz ini banyak berdusta, dia mengaku telah keliling ke 7 negara (Cina, Korea, Venezuela, Australia, Jerman, Belanda, dan Vatikan) untuk belajar teologi, dan mengaku bahwa rumah mertuanya ada di Belanda, tapi anehnya, menurutnya Paris dan Prancis itu adalah dua negara…!

Aku memang baru bisa mengunjungi beberapa Negara di Asia dan tinggal di Eropa, tapi dengan begitu aku bisa melihat dan merasakan, betapa ada kebaikan di mana-mana; aku bisa belajar bagaimana umat mayoritas memberikan kenyamanan kepada kelompok minoritas; aku merasakan nikmatnya kebersamaan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau sebagai minoritas aku diancam, dimaki, dan bahkan diintimidasi, meski melalui kata-kata…..

Ah, ini cuma uneg-unegku, aku juga hanya manusia, sudut pandangku bisa keliru, tapi jujur baru kali ini aku mendengar ada Ustaz yang menghalalkan pemerkosaan, meski mungkin cuma becanda……

Salajengna......

August 18, 2007

Percaya Dulu, Urusan Belakangan...

Waktu di Jakarta, aku lumayan sering mendengar Kak Edi, panggilan akrab untuk Prof. Azyumardi Azra, bilang bahwa dalam pola kehidupan sehari-hari, masyarakat kita lebih sering berangkat dari anggapan bahwa seseorang itu tidak jujur, sehingga mereka sering harus selalu waspada jangan sampai 'dikadalin' orang.

Penjual, misalnya, jangan mudah percaya kalau ada pembeli yang belakangan mengembalikan barang yang sudah dibelinya, karena alasan tidak berfungsi maksimal, atau sedikit cacat. Bisa jadi pembeli itu 'ngakalin' karena pengen ganti barang baru, padahal cacatnya bukan karena bawaan sewaktu dibeli.

Kini, semenjak aku menjadi bagian dari masyarakat di Bonn khususnya, dan Jerman pada umumnya, saya merasa bahwa masyarakat di sini lebih sering berangkat dari anggapan bahwa seseorang itu baik, jujur, dan tidak suka 'ngadalin'.

Pernah misalnya...aku membeli dua buah City Roller di Real buat Fadli dan Alif; setelah 10 hari dipake, baut salah satunya lepas entah dimana. Aku tahu ini bukan murni kesalahan pihak penjual, karena harusnya aku juga ngecek baut-baut itu. Lalu, mumpung belum lewat 14 hari, aku memutuskan menukarnya kembali ke Real. Dan, tanpa 'ba bi bu', aku langsung mendapatkan uangku kembali.

Bandingkan misalnya ketika sebelum berangkat ke Jerman, aku membeli sebuah Kamera SLR (Single Lense Reflex) Canon EOS 350D di Mangga Dua, dengan garansi 2 tahun. Saat dipake di Jerman, setiap aku shot gambar, ada goresan tipis membentang di bagian dalam kaca Kamera, yang aku yakin sudah ada sebelumnya.

Dan saat kembali ke Jakarta dua bulan kemudian, aku pun komplain ke penjual. Apa yang terjadi? dia bilang mungkin itu akibat keteledoranku, how come...?! aku pun diminta membayar biaya tambahan jika ingin Kamera itu diganti dengan yang lain. Dan seperti biasa, sebagai konsumen, di Indonesia kita lebih sering dibuat tidak berdaya oleh penjual...

Contoh lain, setelah kami sekeluarga cek kesehatan di dokter Gigi di Siegburg, seperti biasa aku mengirimkan tagihan yang aku terima dari sang dokter, yang kebetulan Wong Surabaya, ke pihak asuransi untuk mendapat penggantian biaya. Nah, beberapa waktu kemudian aku mendapat pemberitahuan dari Asuransi bahwa penggantian biaya medis tersebut semuanya sudah ditransfer ke rekeningku, sementara aku ternyata lupa belum membayarnya ke dokter itu, meski memang tenggat waktunya masih ada 10 hari...karena merasa malu dan menyesal (meski pihak Asuransi pasti tidak tahu), aku pun segera transfer ke Sang dokter.

Jadi, coba pilih, apakah lebih baik 'menganggap bahwa pada dasarnya orang lain itu tidak jujur', sehingga kita harus waspada, atau mendingan 'menganggap bahwa pada dasarnya orang lain itu baik dan jujur', dan biarkan hukum alam menyeleksinya?



Salajengna......

August 7, 2007

Hamburg: Model Lain Kota di Jerman

Foto: Landungsbrücken

Di penghujung liburan sekolah anak-anak, bersyukur aku dan keluarga masih dapat menikmati indahnya Hamburg, Kota terbesar kedua setelah Berlin. Ini berkat Kang Ahya yang merekomendasikan kami bersilaturahmi ke Keluarga Mas Prio dan Mbak Ninoek di Kota Pelabuhan itu.

Dibanding kota-kota lain di Jerman yang pernah kami kunjungi, Hamburg kayaknya punya kesan unik tersendiri. Kota ini tampak sangat metropolis berkat Pelabuhan tuanya yang sangat terkenal, Landungsbruecken. Di Kota ini pula untuk pertama kalinya kami ketemu Toko dan Restoran Indonesia, “Cita Rasa”, yang memang katanya cuma satu-satunya di Jerman. Hamburg juga punya Doner unik yang belum pernah kami temukan di kota-kota lain di Jerman.

Kami mengawali perjalanan hari pertama di jantung Kota tempat berdirinya gedung Rathaus, tentunya setelah istirahat sejenak di rumah kawan baru kami, Mas Prio dan Mbak Ninoek.

Setiap memandang gedung-gedung tua di kota-kota di Jerman, aku sering termenung, betapa Negeri ini pandai merawat dan merajut sejarahnya. Rathaus yang tampak megah ini konon pertama kali dibangun pada 1189. Pernah hancur pada 1842, Rathaus Hamburg mengalami restorasi pada 1886, dan akhirnya diresmikan pada 1887.

Seperti biasa kalau lagi berkunjung ke sebuah kota, sore itu kami ingin sekali menunggu saat matahari terbenam, sehingga bisa menikmati kelap-kelipnya lampu Rathaus, plus shot foto sunset di Alster. Sayangnya, hujan kembali turun, kami pun terpaksa pulang tergesa-gesa.

Kekecewaan di hari pertama sungguh tergantikan keesokan harinya, karena cuaca begitu cerah, dan Mas Prio, yang ternyata seorang fotografer handal ini, dengan sangat telaten menunjukkan lokasi-lokasi mana saja yang patut dikunjungi dan indah untuk berfoto.

Landungsbruecken adalah tujuan kami berikutnya. Dermaga ini menghubungkan para pengunjung ke kota-kota lainnya seperti Finkenwerder, Oevelgoenne, dan Blankenesse menggunakan kapal Feri yang tiketnya menyatu dengan tiket Bus, U-Bahn, dan S-Bahn, suatu kemudahan yang baru di Kota ini kami menjumpainya.

Selesai wisata dengan Feri, kami mengunjungi Miniatur Wunderland, sebuah objek wisata yang menghadirkan “the largest model railway in the world”. Tentu saja anak-anak kami begitu antusias, maklum selama di Jerman ini, salah satu ‘hobi’ mereka, khususnya Jiddane, adalah melihat kereta api lewat, dan tentu saja menaikinya.

Akhirnya, prejalanan hari kedua berakhir seiring dengan terbenamnya matahari di Pelabuhan Elbe, sungguh pemandangan yang sangat indah, boleh lihat sebagian foto-foto Sunset ini di Album Flickr sebelah.

Hari terakhir adalah milik anak-anak, khususnya Fadli dan Alif. Mereka sangat menikmati beberapa jenis permainan, seperti Bom-Bom Car dan pesiar di “rumah hantu” di Arena Hamburger Dom, sebuah Festival terbesar Jerman Utara, yang setiap tahun diadakan pada April, Agustus, dan November.

Sebelum itu, kami juga sempat menikmati “Planten und Blumen”, sebuah lapangan luas yang sangat cocok sebagai tempat wisata keluarga. Rasanya baru di sini kami menjumpai Spielplatz besar dengan permainan basah-basahan yang sangat menggoda anak-anak. Sayangnya, sore itu kami sudah harus kembali ke Bonn, jadi anak-anak gak bisa menikmati permainan yang disediakan.

Akhirnya, sesaat sebelum naik kereta ICE ke Bonn, kami mencicipi Doner khas Hamburg yang lain daripada yang lain. Aku gak perlu cerita ramuannya deh (karena memang gak ngerti), yang jelas kalau di tempat lain satu potong Doner pun gak pernah habis kami makan (bukan karena gedenya, tapi kurang cocok rasanya), di Hamburg anak-anakku sanggup menghabiskan satu porsi masing-masing. Ah, apa karena mereka kelaparan yah? Mungkin juga dua-duanya. Tapi, sungguh deh, Doner Hamburg memang beda…..!

Mas Prio, Mbak Ninoek, dan ananda Alisha, makasih yah atas kemurahan hatinya menampung kami berlima, semoga suatu saat kami bisa membalas kebaikannya.

Salajengna......

July 30, 2007

Sama Rata Tidak Selalu Berarti Baik

Selama tinggal di Jerman, aku malah lebih punya waktu banyak buat keluarga. Mungkin karena terkondisikan kultur di sini, jam kerja dan jam istirahat pun terbagi dengan baik. Beda kalau lagi di Jakarta, aku rasanya harus banting tulang siang malam, Senin sampai Minggu, untuk mencari tambahan penghasilan. Dari segi ini, hidup di Jerman jauh lebih baik, aku bisa duduk mengerjakan kewajiban pokokku dengan konsentrasi penuh, dan "dapur tetap ngebul".

Menjelang malam pada hari tertentu, aku juga suka 'kebagian tugas' harus menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur buat anak-anak. Tentu saja istriku lebih sering menemani mereka tidur, setiap hari bahkan.

Selain cerita para nabi, anak-anakku rupanya suka dengan cerita Sufi, Nasrudin Hoja, yang memang lucu tapi seringkali menyimpan pelajaran berharga. Dus, aku pun sering berusaha mengingat-ingat lagi cerita-cerita yang pernah aku dengar dari para ustaz, orang tua, atau saudara-saudaraku saat kecil dulu. Internet juga banyak membantu mencari sumber cerita.

Ini dia salah satu cerita Nasrudin Hoja itu:

-------------------------------------------
Seorang filosof menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."

"Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata Nasrudin Hoja.

"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.

"Aku pernah," sahut Nasrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan dengan sama rata."

"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"

"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."
-------------------------------------------
Ah, dasar Nasrudin....mungkin berbagi sama rata memang harus proporsional yah!

Salajengna......

July 25, 2007

Cuaca yang tidak Normal...

Rasanya kami kurang beruntung dengan perputaran iklim di Eropa saat ini, atau mungkin di benua lain pun situasinya sama. Pada musim dingin lalu, terutama menurut kawan-kawan yang beberapa kali mengalami Winter, cuacanya tergolong tidak terlalu dingin, antara 5-10 derajat celcius, seingatku suhu terendah di Bonn hanya sampai 0 derajat celcius.

Saat Frühling, atau musim semi, juga tergolong tidak normal, cuacanya seperti sudah masuk musim panas. Sebaliknya, saat musim panas tiba seperti saat ini, kami seperti berada di musim gugur, hampir setiap hari angin bertiup kencang, hujan turun, dan matahari pun seperti enggan memperlihatkan diri.

Alhasil, selama libur panjang ini, aku pun tidak bisa terlalu sering mengajak keluarga jalan-jalan, kami lebih banyak bercengkerama di rumah, meski kadang terasa membosankan, tapi aku bersyukur, anak-anakku bisa menerima apa adanya, dan yang penting semuanya sehat, meski kadang mereka mengalami sakit ringan juga…

Apakah ini yang disebut oleh para ahli sebagai dampak dari Pemanasan Global? Entahlah, konon, Pemanasan Global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi dengan lebih cepat akibat aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi. Begitulah yang aku baca dari "Si Ensiklopedi Pintar", Wikipedia.

Kenaikan temperatur ini katanya akan mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9 - 100 cm (4 - 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat menenggelamkan pulau-pulau. Sebaliknya, beberapa daerah dengan iklim yang hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi.

Meski para ahli bersilang pendapat apakah Pemanasan Global ini akibat ulah manusia, atau merupakan siklus alam saja, tapi baik juga kalau manusia, khususnya kalangan industri, lebih berhati-hati dengan aktivitas yang menjadi penyebabnya. Apalagi, sebagai orang beragama, kita sudah diingatkan bahwa: “…telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat perbuatan manusia" (30: 41), atau mungkin alam memang menghendaki demikian sampai akhirnya tiba Hari yang Dijanjikan? wallahu a'lam.

Salajengna......

July 23, 2007

Membaca yang lain...

Beralih dari sesuatu yang menjadi rutinitas sehari-hari terkadang mengasyikkan juga. Karena pilihan minat akademisku pada bidang Indonesia klasik, selama ini aku lebih sering membaca dan menelaah kandungan isi naskah-naskah kuno, khususnya yang berkaitan dengan topik keagamaan.

Tapi, dalam sebuah undangan ulang tahun seorang kawan, beberapa hari lalu aku ketemu Sanusi. Dia seorang mahasiswa di Uni Bonn yang sedang menulis peran politik Ali Moertopo (1924-1984) di zaman Orde Lama dan Orde Baru. Ngalor-ngidul kami bincang-bincang, rupanya dia tertarik dengan arsip-arsip dan tulisan ‘bawah tanah’ masa itu yang banyak mengemukakan berbagai intrik para elit politiknya.

Entah karena Sanusinya yang pandai cerita, atau karena aku memang agak jenuh dengan rutinitas bacaanku, aku tiba-tiba tertarik mengetahui lebih jauh dokumen-dokumen yang menjadi fokus bacaan Sanusi. Untungnya, Sanusi, yang belakangan baru ‘ngeuh’ bahwa dia adalah nonoman Sunda dari Subang, berbaik hati membagi beberapa file dan link internet berkaitan dengan itu, yang dia sebut sebagai ‘halaman rahasia’. Tentu tidak berarti orang lain tidak boleh tahu halaman-halaman itu, karena link-link internet itu pasti dengan mudah bisa diakses oleh siapa saja…

Ah, membaca dokumen-dokumen itu, aku semakin sadar, betapa nisbinya ‘dongeng-dongeng’ yang pernah aku dengar tentang perjalanan sejarah bangsa ini, padahal itu belum berlalu seratus tahun…..Makasih Sanusi atas sharingnya!

Salajengna......

July 13, 2007

Jangan Lihat Kematian Taufik Savalas Hanya sebagai Takdir!

Aku bukan tidak percaya takdir! Tapi, bersikap fatalis dan mengembalikan semuanya hanya sebagai takdir Tuhan sering kali membuat kita tidak pernah belajar dan tidak menjadi lebih baik. Padahal agama sendiri mengajarkan agar hari ini dan hari esok harus selalu lebih baik dari hari sebelumnya.

Taufik Savalas sudah pergi dalam sebuah kecelakaan tabrakan mobil dengan truk di jalur pertigaan Desa Kredetan, Kecamatan Bagelan, Purworejo, Jawa Tengah (11/7), inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Sekali lagi, aku bukan tidak percaya takdir, tapi mari kita lihat hukum sebab akibat dan mata rantai lingkaran setan peristiwa yang pasti tidak sekali ini saja terjadi.

Mobil yang dikendarai Taufik dan kru lainnya ditabrak sebuah Truk yang nyalip kedaraan di depannya tanpa perhitungan, jelas ini akibat masih banyak pengendara kita yang tidak disiplin. Jadi, Taufik pergi karena ada sikap indisipliner! Kayaknya, pelajaran disiplin berlalu lintas di jalanan harus diberikan sejak dini secara resmi di sekolah-sekolah kita.

Di sekolah sini, anak-anakku mendapat pelajaran praktek mengendarai sepeda di jalan raya, langsung turun ke jalan dengan dikawal polisi, bukan cuma belajar teori rambu-rambu lalu lintas! Sebelum ke jalan, para polisi yang baik itu memeriksa kelayakan sepeda yang akan dipakai, remnya, lampunya, baut-bautnya, dan lain-lain, polisi sendiri lo yang ngecek!

Polisi yang memeriksa kecelakaan Taufik Savalas bilang, kemungkinan rem Truk yang menjadi penyebab kecelakaan itu tidak bekerja dengan baik, di samping supirnya yang kelelahan. Jadi, Taufik pergi karena sistem cek kelayakan kendaraan di kita tidak berjalan dengan semestinya!

Menurut pengakuan supir Truk, ia membawa muatan Semen dengan kelebihan beban, 30 Ton, sehingga keseimbangan Truknya tidak stabil. Kita memang punya sih aturan bobot maksimal muatan sebuah kendaraan, Truk itu pun hanya boleh ngangkut barang seberat 28 Ton, tapi di sinilah letak masalahnya! Supir truk itu “berhasil” menyogok petugas jembatan timbang dengan uang Rp. 25.000,-, “hanya” sekitar 2,- euro saja….., kalau di sini, bahkan tidak cukup untuk sekedar membeli sebuah Doner Kebap! Jadi, Taufik juga pergi karena budaya sogok menyogok sudah begitu mengakar!

Pak Presiden! Pak Gubernur! Pak Walikota! Pak Camat! Pak Kades! dan kita semua! tugas masih begitu banyak untuk membenahi sistem dan mental masyarakat kita sendiri. Jangan biarkan juga rakyat kita terlalu sering melihat peristiwa seperti kecelakaan Taufik Savalas ini sebagai "kesalahan setan" yang katanya memang menghuni jalur maut angker itu. Kalau memang sering terjadi kecelakaan di situ, mungkin lebih baik pikirkan sistem untuk menghindarinya atau, setidaknya, menguranginya. Aku yakin setan bisa mencari tempat tinggal lain, kok! Aku juga tidak tahu sih, sistem dulu atau mental orangnya dulu yang perlu dibenahi? pilihan yang sulit, sama dengan pertanyaan: ayam dulu atau telor dulu yang lahir ke dunia ini?

Huhhh! Begitulah aku bisa melihat kematian komedian bersahaja, sang "Presiden Republik BBM" ini. Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tapi dalam bentuk yang lain, aku merasa punya jalan hidup yang sama dengannya. Kalau Taufik pernah menjadi kondektur angkutan kota sebelum sukses menjadi selebriti, aku pun harus bertahan hidup sebagai pedagang asongan antara Kebayoran Lama dan Tanah Abang sebelum menjadi sarjana.

Sekali lagi, aku bukan tidak percaya takdir! Tapi, jangan 'bebankan' semuanya kepada Tuhan, ambillah jatah kita sebagai hamba-Nya untuk berbenah diri. Innallaha la yugayyiru ma bi-qaumin, hatta yugayyiru ma bi-anfusihim, Tuhan tidak akan mengubah nasib segolongan masyarakat, hingga mereka sendiri berusaha memperbaikinya (al-Ra’d: 11). May he in rest, amin.

Salajengna......

Satu Tahun yang lalu...

Foto: Cologne Cathedral
Tiba-tiba aku ingat, Juni, satu tahun yang lalu, aku mulai tinggal di Bonn, cuma masih sendiri. The Humboldt Foundation baru memberiku kesempatan untuk menjemput keluarga setelah 2 bulan aku mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe Institut, Bonn, dan setelah aku memiliki tempat tinggal tetap yang dianggap memenuhi standar kelayakan untuk sebuah keluarga dengan tiga anak.

Kini, setelah satu tahun berlalu, banyak hal yang telah aku lihat dan aku pelajari dari masyarakat yang relatif menganut nilai-nilai atau budaya berbeda dengan Negeri asalku. Aku sering merenung dan membandingkan, sisi mana yang dari Negeri ini yang patut ditiru, dan sisi mana pula dari Negeriku yang patut aku banggakan.

Tapi, karena niatnya ‘mempelajari’, jadinya aku lebih sering mencari-cari sisi buruk mana yang perlu dibenahi di Negeriku, dan sisi baik mana yang bisa aku bawa pulang dari Negerinya para filsuf ini.

Jujur harus aku bilang, tata kehidupan bermasyarakat di sini jauh lebih teratur, tertib, dan lebih beradab. Hanya satu dua kali aku melihat penyebrang jalan yang menerobos lampu merah, itu pun biasanya karena ia terlihat terburu-buru mengejar jadwal kereta. Umumnya mereka akan menunggu lampu hijau menyala, meski tidak ada kendaraan yang lewat...

Hak-hak dan privasi seseorang pun demikian terjaga, karena setiap orang berusaha keras untuk menghargai dan tidak mengganggu privasi orang lain, karena hanya dengan cara itulah ia akan dihargai orang lain. Jangan harap juga anda bisa bertemu atau bertamu ke rumah orang lain tanpa bikin janji terlebih dahulu; dan jangan coba-coba anda ingkar janji, kalau tidak ingin seumur hidup dicela orang.

Jangankan dengan Negara sendiri, dibanding Negara tetangga di sini, Belanda, pun, penghargaan terhadap privasi orang di Jerman kayaknya jauh lebih baik. Aku ingat waktu menginap di Leiden beberapa waktu lalu, sampai jam 2 pagi tetangga sebelah masih ketawa-ketiwi dengan suara keras.

Di sini, anda boleh besuara keras sebelum jam 22.00 malam, setelah itu, jangan coba-coba kalau tidak ingin menerima pengaduan! Mungkin cuma waktu Piala Dunia 2006 saja Pemerintah Jerman membuat aturan yang memperbolehkan seseorang berteriak di atas jam 22.00 malam, maklum, sebagai Tuan Rumah, saat itu Jerman berhak untuk sering berpesta.

Kriminalitas? Kecelakaan? Tentu juga ada dan terjadi di sini, tapi kadarnya jelas jauh lebih rendah dibanding di Indonesia, apalagi kalau ukurannya Koran Pos Kota di Jakarta, wah…di sini jelas jauh lebih sempurna. Aku rasanya tidak pernah merasa perlu memegang erat dompetku saat naik angkutan umum, meski jalan di malam hari.

Padahal di Indonesia, aku ingat kawanku, Kang Fuad, yang tanga kanan dan kirinya pernah harus bergantian "melindungi" dompet kesayangannya di mikrolet, gara-gara orang di depannya maksa memberikan "pijat gratis", sementara penumpang di sampingnya, yang ternyata konconya, mulai merogoh-rogoh kantong celananya.

“Sedia payung sebelum hujan”, kayaknya pepatah itu sudah secara diterapkan mendekati sempurna di sini, dalam segala urusan, mulai dari anak-anak yang harus mengenakan safety belt tersendiri kalau naik mobil, harus mengenakan helm kalau naik sepeda, dan yang pasti wajib membayar asuransi, baik asuransi kesehatan maupun jiwa.

Ah, masih banyak yang aku pelajari di sini.



Salajengna......

July 11, 2007

Heidelberg dan Ketulusan seorang Kawan



Sejak pertengahan Juni lalu, anak-anakku libur sekolah, lumayan panjang liburannya, mereka baru akan masuk lagi pada awal Agustus nanti. Kalau tinggal di Indonesia, mungkin masa liburan ini tidak terlalu terasa membosankan bagi anak-anak, karena mereka bisa bermain dengan banyak kawan-kawannya, atau berenang bersama.

Liburan panjang di sini masalahnya menjadi lain, anak-anak lebih banyak tinggal di rumah, apalagi musim panas kali ini tidak seperti biasanya, udara tetep dingin, hujan pun turun hampir setiap hari, bikin malas keluar rumah! Tapi aku perlu memikirkan agenda supaya mereka tidak bosan tinggal di rumah. Kota Heidelberg menjadi salah satu pilihan kami untuk jalan-jalan pekan ini…

Kami beruntung punya kawan yang buaaik banget di Heidelberg, Mas Ken dan Teh Liza, dengan putri tunggalnya yang mungil, Nesa; di rumahnya kami sekeluarga menginap; meski di rumah tinggalnya hanya ada dua ruangan, buat tidur dan ruang utama, tapi kelapangan hati Mas Ken dan Teh Liza membuat suasana terasa begitu hangat; saat itu, bahkan bukan hanya kami berlima yang menjadi tamunya, plus dua anak yang “dititipkan” oleh dua kawan mereka berdua; jadi praktis ada sepuluh jiwa di rumah yang kayaknya tidak lebih dari 60 meter persegi itu. Sungguh sebuah ketulusan yang patut ditiru!

Seolah tahu kesukaan kami, Teh Liza dan Mas Ken menyambut kedatangan kami dengan masakan Bakso ramuan sendiri, karuan saja kami semangat melahapnya, maklum waktu di Indo biasa langganan Bakso Pak Kumis atau Bakso Atom di Ciputat, itung-itung obat kangen lah... Mas Ken memang pandai memasak, selain ngegiling Bakso, saat itu Mas Ken juga sedang membuat tempe dari kacang kedele, wah…nggak kebayang deh kita mah!

Heidelberg sungguh kota yang cantik! Schloss Heidelberg dengan Königstuhl, Molkenkur, dan Kastilnya yang tampak biasa-biasa saja pada siang hari, berubah berkelip dan bersinar menjelang sore dan malam hari; keindahannya semakin sempurna saat memandang Schloss dari kejauhan yang berpadu dengan kelap-kelipnya bangunan lain serta pantulan cahaya di sungai yang memanjang sepanjang kota. Beruntung Mas Ken dengan tulus mengantar kami jalan-jalan memutar Alte Brücke di malam hari…

Sayangnya, waktu kami terlalu terbatas, tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat menarik, salah satunya adalah Schloss Schwetzingen, tempat dimana terletak Masjid yang konon begitu indah di dalamnya. Ah, mungkin ini bisa jadi alasan untuk berkunjung lagi ke Heidelberg yang ternyata membuat kangen itu...

Rasanya, keindahan Heidelberg hanya bisa ditandingi oleh Salzburg, kotanya Mozart, sang legendaries musik klasik, di Austria. Sayang, kami sekeluarga baru sempat berkunjung ke Salzburg di siang hari, mungkin lain kali perlu jalan-jalan lagi.

Makasih Mas Ken dan Teh Liza, semoga ‘jamuan’ kemaren menjadi amal baik buat anda sekeluarga….amin.

Salajengna......

July 4, 2007

Berita itu pun akhirnya tiba....!

Foto: The Reichstag, Berlin
Sore itu, jam 15.30 waktu sini, berita itu pun tiba…! The Alexander von Humboldt Foundation akhirnya menyetujui perpanjangan fellowship penelitianku di Jerman untuk sembilan bulan ke depan. Itu artinya kerinduan kami ke tanah air baru akan terpenuhi pada April 2008 mendatang.

Pengen sih pulang, udah kangen juga sama jajanan-jajanan khas Indonesia yang tidak pernah ditemui di sini, apalagi di Ciputat ada yang namanya baso BBS, pecel lele, indomie rebus, wah….! Jangankan para pedagang kaki lima, yang jualan koran, rokok, atau minuman ringan pun di sini Cuma seonggok mesin, tinggal masukin koin uang, keluarlah barang yang kita mau….

Cuma aku harus berfikir realistis juga, untuk menyelesaikan riset yang sudah lebih dari separuh jalan ini, aku butuh sarana dan prasarana yang mendukung, terutama waktu, ketersediaan bahan bacaan, dan koneksi internet yang tak terbatas. Ini jelas masih susah ditemui di Indonesia! waktu kita juga sering kali habis untuk memikirkan bagaimana mencari aktivitas tambahan supaya penghasilan tidak pas-pasan; begitu pula koneksi internet yang masih menjadi barang mewah, meski sekarang konon harganya sudah jauh lebih murah daripada sebelumnya, padahal fasilitas internet ini menjadi pendukung yang luar biasa untuk kegiatan riset, apapun subjeknya.

Di sini, aku bisa duduk tanpa memikirkan apapun selain risetku, dan semua kebutuhanku, yang primer maupun yang sekunder, sudah dipenuhi oleh Humboldt. Aku sering merasa iri kalau ingat Negeri sendiri yang belum bisa mensejahterakan rakyatnya, dan perputaran uang hanya terjadi pada kelompok-kelompok tertentu saja.

Dalam batin aku sering bergumam dan mengucap terima kasih kepada Yayasan Humboldt atas dukungan penuh terhadap aktivitas risetku. Terima kasih juga Pak Edwin, professor yang dengan sangat baik hati menjadi academic host ku selama di Jerman.

Salajengna......

June 26, 2007

Menunggu, Kalau, dan Arab Gundul....

Menunggu, konon memang sangat tidak menyenangkan, apapun yang kita tunggu! Terutama sejak satu minggu lalu, aku menunggu keputusan dari The Alexander von Humboldt-Foundation, apakah usulanku untuk memperpanjang periode riset di Jerman diterima atau tidak.

Aku memang mengajukan usulan perpanjangan itu pada akhir April 2007 lalu, karena berdasarkan perkembangan selama periode pertama, penyelesaian riset ini tidak akan selesai sampai berakhirnya fellowship pada akhir Juli 2007.

Sejak aku mengajukan usulan perpanjangan itu, setiap hari, obrolanku bersama istri dan anak-anak selalu dimulai dengan kata “kalau”…”kalau diperpanjang, bla bla bla…………, dan kalau tidak, bla bla bla…………”.

Aku jadi ingat kata “lau” [لو] (yang artinya ya ‘kalau’ itu) yang sering aku temukan dalam kitab-kitab fikih berbahasa Arab semasa di pesantren dulu. Fikih memang penuh dengan pengandaian, atau tepatnya antisipasi kalau-kalau sesuatu terjadi (nah, pake kata ‘kalau’ lagi nih!).

Biasanya, setelah kata “lau” ini, ada kata lain yang khas digunakan dalam kitab-kitab kuning itu, yaitu kata “wa illa fala” [والافلا] (kalau tidak demikian, maka tidak demikian!), bingung kan? jangankan memahaminya, dulu santri-santri di pesantren pun bahkan banyak yang bingung cara membacanya, maklum kitab kuning itu dikenal juga sebagai kitab gundul, karena memang ditulis tanpa tanda baca....kawanku pernah diledek karena membaca kata itu menjadi "wal afla"...tentu anda tidak akan bingung, 'kalau'' anda memahami bahasa Arab dengan baik.

Ah, jadi ngalor ngidul gak karuan yah, maklum lah lagi gelisah...! Semoga penantianku ini segera berakhir!

Salajengna......

April 20, 2007

Pegunungan Alpen Yang Tak Terlupakan...


Pengalaman aku dan keluarga naek ke puncak Pegunungan Alpen sungguh tak akan terlupakan! Rasanya kami sudah dekat berada di atap langit nan biru, putih salju terhampar sejauh mata memandang, puluhan bukit dan gunung seperti ‘tunduk’ berada di bawah kaki-kaki kami.

Ini semua berkat Kang Ahya, kawan di München yang menjamu kami selama 5 hari mengisi liburan anak-anak, dan menunjukkan beberapa objek menarik yang patut dikunjungi, terima kasih, Kang!

Dua puluh satu tahun yang lalu (1986), aku juga pernah naik ke puncak gunung, ya, Gunung Galunggung di Tasikmalaya, bahkan dua kali aku turun ke dasar puncak Gunung yang meletus empat tahun sebelumnya itu. Saat itu aku adalah komandan Pramuka di Madrasah Aliyah (MAN) Cipasung, atau istilahnya, Pradana, juga pengalaman yang tidak pernah terlupakan.


Tapi, Gunung Galunggung dan Pegunungan Alpen tentu berbeda, terutama pemandangan di sekitarnya. Pun untuk sampai ke puncak tertingginya, Zugspitse, yang merupakan puncak gunung tertinggi di Jerman (hampir 3000 km), kita difasilitasi menaiki kereta bergerigi (karena rodanya harus kuat mencengkram jalan yang dilalui) dan kereta gantung.

Saat berada di atas kereta gantung kecil yang hanya muat beberapa puluh penumpang itulah kami hanya bias pasrah kepada Yang Kuasa; jika sesuatu terjadi dengan tali-tali yang dibuat oleh manusia itu, hampir bisa dipastikan maut akan menjemput semua penumpangnya, wallahu a’lam.

Selain ke Garmisch dan Zugspitze, pada hari yang lain kami juga mengunjungi beberapa tempat menarik di kota München. Salah satunya adalah Deutsches Museum yang sangat besar dan terkenal itu. Bukan hanya di München, hampir semua museum di Jerman rasanya tidak pernah membosankan, semuanya terorganisasi dengan baik, jauh dari kesan kusam, serem, atau membosankan. Jujur aku akui, Negara ini pandai memelihara khazanah budayanya, dan mengorganisasinya menjadi komoditi yang bisa ‘dijual’.

Anak-anakku begitu menyukai Deutsches Museum di München! Saking lamanya ‘bermain-main’ di sini, hari itu kami sampai tidak sempat mengunjungi objek lainnya. Sejak saat itulah, ketika kami kembali ke Bonn, kami menyempatkan mengunjungi beberapa museum yang banyak tersebar di Kota ini. Entahlah kalau sudah kembali ke Jakarta, apa anak-anak juga akan suka mengunjungi museum di sana? Lagi-lagi, wallahu a’lam.


Salajengna......

Bubuka: Dongeng Si Encep

Aku juga tidak pernah membayangkan kalau suatu saat akan mendapat kesempatan mengunjungi beberapa kota besar di sejumlah negara: Paris, Amsterdam, Salsburg, München, Berlin, dan banyak kota cantik lain di Eropa, kemudian Osaka, Nara, Kyoto, dan Tokyo di Negara Matahari Terbit, Jepang. Bahkan sejak Agustus 2006 lalu aku boyongan keluarga untuk tinggal di Bonn, sebagai “Gastwissenschaftler” dari the Alexander von Humboldt Stiftung, sebuah Yayasan terkemuka dan bergengsi di Jerman.

Dulu, ketika pertama kali mau nyobain naik pesawat saja, rasanya heboh banget! Saat itu tahun 1999, ketika aku diundang oleh kawan-kawan di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat untuk mendiskusikan buku pertama karanganku, Menyoal Wahdatul Wujud, aku masih ingat, betapa ngebetnya aku kepengen duduk di dekat jendela pesawat terbang agar aku bisa melihat-lihat pemandangan di luar pesawat….yah, maklumlah aku ini si Encep yang orang kampung!

Saterasna....

MASA KECIL DI KAMPUNG HALAMAN...

Salajengna......

April 19, 2007

Masa Kecil di Kampung Halaman: Kuningan

Menurut sahibul hikayat, masa-masa awal kehidupan orang tuaku dulu termasuk sangat sederhana, hidup berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lain di daerah Kuningan, Jawa Barat, mulai dari Cipancur, Cidahu, lalu Cihideunghilir, dengan penghasilan pas-pasan sebagai Guru Agama SR, dan jumlah tanggungan keluarga yang cukup banyak.

Tentu aku juga tidak tahu persis seberapa prihatin kehidupan ekonomi keluargaku pada masa-masa awal itu, karena aku sendiri baru dilahirkan pada 8 Agustus 1969, saat Bapak dan Mimih sudah memboyong semua anggota keluarganya ke Pasapen, yang sekarang menjadi pusat kota Kuningan. Tapi konon, menurut cerita kakakku, A Dudung, pada tahun 1961 kehidupan keluarga benar-benar prihatin, tidak jarang Mimih hanya mampu memasak bubur 1 kali sehari untuk disantap oleh 8 anggota keluarga…!

Mungkin ketika aku lahir kondisi ekonomi orang tuaku sudah sedikit membaik. Yang aku ingat, pada sekitar tahun 1970-an itu Bapak malah sudah menjadi Pegawai Negeri dengan titel pendidikan Sarjana Muda (BA), dan bekerja sebagai Penilik Pendais, semacam pengawas sekolah-sekolah agama (madrasah) di Kuningan. Masih terbayang dalam ingatanku, bagaimana di atas pintu rumahku tertulis nama: M. Harun, BA. Jangan lupa, nilai sosial gelar sarjana muda pada masa itu mungkin setara dengan gelar Magister saat ini…! Mimih almarhumah pun seingatku adalah pensiunan pegawai Departemen Agama, aku lupa tugas sehari-harinya, tapi aku masih ingat sering main ke Kantor Mimih yang jaraknya memang tidak jauh dari rumah.

Memang, untuk ukuran rata-rata saat itu, dengan status sosial Bapak dan Mimih sebagai pegawai negeri, sebetulnya kehidupan keluargaku tidak terlalu berkekurangan. Hanya saja, ceritanya menjadi lain karena kami adalah keluarga besar, dengan 9 bersaudara, bahkan 13 bersaudara jika 4 saudara kami panjang umur. Aku sendiri adalah anak ketujuh. Dengan demikian, Bapak dan Mimih tidak punya pilihan selain menerapkan “sistem ekonomi ketat” pada anggota keluarganya, mulai dari ketat jatah pakaian, ketat biaya pendidikan, dan bahkan jatah makan pun harus dibagi rata seketat mungkin; tak jarang aku harus puas dengan menyantap sepotong atau bahkan seperempat potong telor saja saat makan, meski perut masih keroncongan…

Meski demikian, aku patut bersyukur punya Bapak dan Mimih yang memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Memang kami tidak mampu sekolah di SD Negeri yang di Kuningan saat itu dianggap cukup bergengsi. Apalagi Bapakku kayaknya fanatik banget untuk menyekolahkan anak-anaknya di madrasah, dan kemudian diasramakan di pondok pesantren, sebuah jenis pendidikan Islam tradisional yang memang banyak dijumpai di Indonesia. Alhasil, semua anak-anaknya sempat mengecam pendidikan di bangku madrasah dan pesantren. Aku sendiri menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) PUI Kuningan, berturut-turut tahun 1981 dan 1984, dan kemudian menghabiskan masa-masa SMU-ku di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung Singaparna Tasikmalaya, sekaligus menjadi santri di pesantren setempat.

Sungguh banyak kenangan manis dengan saudara-saudaraku, saling ledek, saling musuhan, dan lain-lain layaknya anak-anak. Hampir semua saudara-saudaraku punya nama panggilan di samping nama resminya; aku pun tidak pernah dipanggil Oman, tapi selalu si Encep…

Saterasna....

BELAJAR DI MADRASAH...

Salajengna......

April 18, 2007

Belajar di Madrasah

Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) PUI tempatku belajar tergolong madrasah yang sederhana; lokasi antara gedung MI dan MTs nyaris tak terpisahkan.

Sebagai salah satu madrasah swasta, para pengelola MI dan MTs PUI harus “jatuh bangun” mencari biaya agar madrasahnya tidak gulung tikar; dukungan dari Pemerintah tentu saja ada, tapi menurutku, kemampuannya bertahan tampaknya lebih karena ada semangat ideologis dari orang-orang seperti Bapak yang keukeuh untuk menghidupkan lembaga pendidikan bernafaskan keagamaan semisal MI dan MTs PUI ini. Aku tidak tahu persis bagaimana kondisinya sekarang, meski aku tahu proses belajar mengajar di Madrasah PUI masih tetap berlangsung hingga saat ini.

Dulu, semasa di MI, aku bukanlah murid yang terlalu menonjol, pembawaanku cenderung pendiam dan juga penakut. Prestasi belajarku juga datar-datar saja, bahkan untuk pelajaran tertentu seperti Matematika, Fisika, dan pelajaran eksak lainnya, nilaiku sering jeblok, kalau tidak 5 ya paling banter 6. Sekarang ini aku sering kagum sendiri sama Fadli, anak sulungku yang kelas 3, nilai matematikanya selalu tinggi, mungkin berkat kegigihan Mamahnya juga yang super ketat mengontrol PR sekolah.

Mungkin karena perawakanku kecil, sewaktu di MI aku sering menjadi “mainan” kawan-kawanku, badanku biasanya diangkat, lalu dilemparkan ke kerumunan murid-murid perempuan. Aku jengkel sekali, tapi tak berdaya. Sule, aku tak akan pernah lupa nama kawanku yang satu itu, dia “jagoan” yang paling ditakuti murid-murid lain, dan aku sering menjadi “korban”nya…Untungnya, di kalangan guru-guru, aku malah termasuk murid yang disayang, mungkin karena tidak pernah neko-neko, aku dekat dengan hampir semua guru, mulai dari Pak Suharno, Sang Kepala Sekolah, Pak Edi, Pak Puhun, Pak Mamat, dan guru-guru lainnya…wah, aku lupa kebanyakan nama guruku!

Menginjak MTs, penampilanku mulai berubah. Aku tidak lagi terlalu pendiam, meski tetap kalem, he he…aku juga “mulai agak pandai”, hampir setiap semester menjadi bintang kelas, mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Saingan beratku hanya satu, namanya Uu, kami sering saling bergantian sebagai juara kelas. Entah bagaimana cara belajarku di rumah, aku lupa….tapi aku rupanya memiliki bakat untuk menghapal pelajaran, sampai-sampai aku sering jadi utusan lomba cerdas cermat, dan menghapal, misalnya, semua nama-nama Menteri Kabinet Pembangunan saat itu. Saat di Tsanawiyah ini, aku mulai menyukai pelajaran bahasa Inggris. Bahkan aku sempat menyelesaikan kursus bahasa Inggris di English Language Institute di daerah Wirarangan, meski hanya sampai tingkat Elementary One saja. Lumayan lah…aku masih menyimpan ijazah kursus itu, dimana tertulis April, 30th 1984 sebagai tanggal kelulusanku…berarti saat itu aku duduk di kelas 3 MTs.

Mungkin melihat minatku inilah, A Dudung sebagai Kakak yang sudah bisa mengayomi adik-adiknya membelikan buku “Belajar Bahasa Inggris Sistem 50 Jam”, aku masih ingat warnanya merah. Biasanya buku itu aku bawa kemana pun pergi. Ya, sangat membantu memang, meski tidak fasih benar, aku merasakan manfaatnya saat ini, aku punya sedikit modal untuk berkomunikasi dengan dunia yang lebih luas…

Selain berusaha berprestasi, selama di MTs ini aku juga aktiv kegiatan pramuka dan gemar berolah raga. Selain bola voli, pingpong adalah olah raga favoritku. Pernah aku menjadi utusan sekolah untuk kejuaraan pingpong antarmadrasah, meski aku akhirnya kalah…aku pun tidak pernah lagi dilempar-lempat ke kerumunan murid perempuan; sebaliknya aku malah sudah mulai berani “melemparkan” diri dekat-dekat dengan siswi madrasah….ah bagian itu tidak perlu diceritain yah….nanti ada yang cemburu…!

Kenangan masa kecilku di kampung pada masa-masa sekolah di tingkat MTs ini masih banyak yang kuingat. Selain di sekolah, kenangan di rumah pun tak kurang indahnya….kebetulan saat itu adalah “masa-masa kejayaan” Majlis Taklim yang dirintis oleh Bapak dan Mimih almarhum. Bapak menyulap rumah menjadi semacam pesantren, tempat belajar mengaji, baik pada pagi, siang, dan terutama malam hari. Ratusan kawan-kawan belajar a-ba-ta-sa di rumahku setiap harinya, mulai dari tingkat alif-alifan, sampai belajar kitab Safinah dan Sullam al-Taufiq, dua buah kitab kuning klasik yang berisi tuntunan ibadah dan dasar-dasar ajaran moral.

Berkat Majlis Taklim di rumah ini pula, aku memiliki banyak sahabat. Beberapa nama masih melekat dalam benakku: Iman, Eki, Eti (ketiganya kakak beradik), Adin, Ijah, Ipah, Rohman, Dudung, Oban, dan banyak lagi. Bahkan, kalau mau jujur, aku juga suka deg-degan kalau ada salah satu di antara sahabatku, tentu saja yang perempuan bo!, tidak datang mengaji, gara-gara hujan misalnya, aku tidak mengerti apa artinya saat itu, he he.....Kini, sebagian besar sahabatku tidak ketahuan juntrungnya di mana, hanya sebagian kecil yang lantas ketemu lagi.


Bapak dan Mimih almarhum sangat piawai dalam mengelola urusan pendidikan agama ini, anak-anaknya “dipaksa” menjadi santri senior yang bertugas membantu mengajari anak-anak lainnya.

Memang tidak sulit karena sejak kecil anak-anak Bapak dan Mimih sudah harus pandai mengaji Quran dan Kitab. Bahkan aku masih ingat, sampai kelas 3 Tsanawiyah, aku sudah khatam al-Quran sebanyak 32 kali….saat itu aku memang rajin menghitung berapa kali tamat al-Quran, terutama pada bulan Ramadan, soalnya Bapak selalu memberikan hadiah seribu rupiah bagi yang khatam al-Quran…Selain al-Quran, Bapak dan Mimih juga mengajari aku dan saudara-saudaraku membaca dan memahami kitab Safinah itu berulang-ulang, sampai aku hafal bagian-bagian tertentu, baik teks Arab maupun terjemahannya dalam bahasa Sunda, misalnya wa bihi “sareng ka Gusti Allah”, nasta’inu “nyuhunkeun pitulung abdi sadaya”, ‘ala umuriddunya “kana perkara dunya” waddini “sareng kana perkara agama”…Wah, sungguh bekal pengetahuan yang sangat berharga, meski terus terang saat itu sih aku sering pundung juga karena dipaksa mengaji, tapi kelak aku benar-benar bangga memiliki kemampuan membaca teks-teks kitab kuning yang ditulis dengan Arab gundul itu…

Jujur saja, kemampuanku membaca kitab kuning itulah salah satu kunci yang membuka pintu karir seperti yang aku capai sekarang ini….nuhun Pak…nuhun Mih…nuhun ka sadayana…! Tentu saja sebagai anak-anak, kadang-kadang berat juga mengikuti irama pendidikan Bapak yang sangat ketat ini, khususnya untuk urusan pendidikan agama, seperti mengaji dan shalat. Kalau lupa shalat karena main layang-layang sama A Uud misalnya, aku disuruh berdiri menghadap tembok, lalu Bapak menempeleng betis kakiku seraya mengucap: …bismillahirrahmanirrahim….plak…plak…plak!

Kalau sudah begitu, aku pun merajuk sama Mimih yang biasanya akan segera menentramkanku…Begitulah Bapak dan Mimih almarhumah berbagi tugas sebagai orang tua dalam mendidik anak-anaknya: jika Bapak bersikap keras, maka bagian Mimih yang lembut, ibarat gas dan rem dalam kendaraan, dua-duanya saling dibutuhkan agar perjalanan bisa mulus, lancar, dan selamat….Kini terbukti sudah, anak-anak Bapak dan Mimih tidak ada yang menjadi baragajul……..! Sayang, Mimih keburu tutup usia pada tahun 1991, hingga tidak sempat menyaksikan semua kisah sukses yang diraih anak-anaknya…

Saterasna....

AA, CEUCEU, ADI...

Salajengna......

April 17, 2007

Aa, Ceuceu, Adi

Nah, ini bagian yang aku paling suka menceritakannya, soal hubungan antarsaudara, khususnya aku, A Uud, Ceu Evi, Ohan, dan Neng. Saat itu, saudara-saudara lainnya sudah banyak yang sekolah jauh di pesantren, atau sudah berumah tangga sehingga tidak pertemuan dengan mereka tidak sesering dengan saudara-saudara yang aku sebut itu.

Banyak suka dukanya, ada yang menjengkelkan, ada yang menyenangkan, ada pula yang lucu…aku tentu tidak ingat semuanya, tapi A Uud lumayan berkesan dalam ingatanku, tapi tidak semuanya manis lho, A! soalnya A Uud kan seneng banget ngerjain adik-adiknya…aku sering diledek dengan sebutan Cepot, mungkin karena nama panggilanku Encep, sekarang sih A Uud manggil aku Mang Oman, dulu mah kayaknya lebih sering Cepotnya daipada Encep, ngiri kali yah, soalnya Encep kan artinya kasep, he…he…. Aku pun jadinya ikut ngelunjak ke A Uud, aku ledek lagi dengan panggilan Udel…..! ah, gak tahu tuh nemu dari mana, lupa lagi…pokoknya ada “ud” nya lah….

Rupanya saling ledek ini jadi bumbu hubungan persaudaraan kami, dulu memang suka terasa menjengkelkan, tapi kini kan jadi kenangan, asal jangan saling bermusuhan saja sampai putus silaturahmi.

Dengan Ceu Evi pun aku tak kalah sengitnya, kalau Ceu Evi ngeledek aku dengan Cepotnya, maka aku pun punya ledekan si Mbok…gak tahu juga bagaimana ceritanya sampai muncul kata si Mbok, mungkin Ceu Evi masih ingat? Bahkan aku (tentunya “belajar” dari A Uud) suka melantunkan “puisi” ledekan buat Ceu Evi, begini lho: “bokser…bokser…si Mbok ditarik ka Sindangsari ngageleser…” waktu itu kita-kita memang sering maen ke SIindangsari, rumahnya Ceu Juju. Nah, kalau sudah diledek begitu, si Mbok, eh maksudnya Ceu Evi, pasti marah luar biasa, kita-kita bisa dikejar kemana pun larinya…

Begitu pun dengan Ohan, yang dulu mah dipanggilnya Ujang, seingatku aku baru memanggilnya Ohan setelah dia jadi mahasiswa; aku juga sering meledeknya dengan menyebut “Jangkrik”, lagi-lagi cuma nyari kata yang dimulai dengan kata “jang”, biar cocok dengan Ujang…., sama dengan “Udel” untuk A Uud…Jadi, kalau pengen si Ujang nangis, aku tinggal “nyanyi” saja: “jangkrik genggong jangkrik genggong, si Ujang ceurik huluna ngagorolong…”; kalau sudah begitu, Ujang pun pasti ikut-ikutan manggil aku si Cepot! Ah, anak-anak memang nakal, tapi begitulah dunianya, toh sekarang kelihatan semuanya harmonis, jadi kalau anak-anak seperti itu ya anggap biasa saja…tapi jujur saja, aku, A Uud, Ceu Evi, dan Ohan memang mengalami masa-masa kecil bersama sehingga banyak kenangan yang kalau diingat sekarang sangat menggelikan.


Dengan Ohan, aku juga ingat masa dikhitan bersama, Ohan dipangku sama Bapak, sementara aku dipangku sama Wa Makruf almarhum, pas memang kakak adik…Sayangnya aku tidak punya banyak kenangan yang kuingat dengan Neng, si Bungsu dari Mimih tea, maklum saat itu Neng masih sangat kecil.

Tentu saja di samping kenangan “buruk” tentang saling ledek itu, aku juga punya kenangan yang sangat manis dengan saudara-saudaraku. A Uud adalah teman main terbaikku: main laying-layang, main kelereng, main gambaran, main roger-rogeran, dan lain-lain. Kalau ada anak nakal yang ngerjain aku, maka A Uud pasti membelaku, entahlah di kalangan teman-teman main, A Uud rupanya cukup disegani juga, mungkin karena memang pemberani dan galak waktu itu, meski sekarang ini A Uud adalah figure orang yang luar biasa lembut, Kakak yang mengayomi dan rendah hati, pokoknya beda deh, aku semakin yakin, “manusia itu memang bisa berubah…!”

A Uud pula yang pertama kali ngajarin aku naik motor. Kebetulan A Uud memang paling berani uring-uringan dengan Bapak, walaupun suka dilarang bawa motor, A Uud sering umpet-umpetan meminjamnya. Aku ingat betul suatu ketika Bapak sedang menerima tamu, A Uud mengajakku belajar naik motor, pelan-pelan motor pun dikeluarkan lewat pintu samping, ini masih mendingan, A Uud bahkan pernah mengeluarkan motor lewat pintu jendela, wow! Aku pun membonceng A Uud kea rah Cigadung, dan ngeng…ngeng…ngeng…aku ikutin petunjuk A Uud yang bilang: “gasna dianggeran ambeh stabil…”, begitu katanya.

Masa-masa berikutnya, A Uud dan Ceu Evi pun pergi belajar di Pesantren Cipasung Singaparna Tasikmalaya, di mana kelak aku pun menyusul kesana, Bapak memang sangat keukeuh untuk membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama, khususnya di pesantren. A Uud sih pernah juga mesantren di Cidewa Ciamis, aku lupa alasannya, kenapa A Uud pundah-pindah, apa karena nakal juga yah? Waktu itu kalau di Cidewa memang ada A Dudung yang “ngawasin”, meski kayaknya A Uud ya tetep A Uud, waktu aku berkunjung sama Ceu Yayah ke Cidewa, ternyata A Uud kerjanya main kelereng, banyak banget kelerengnya, sampe-sampe aku pikir, enak juga yah mesantren, bias ngumpulin banyak kelereng, rupanya itu hanya A Uud, he he….punten lah A! saat itu aku juga diajak naik kereta, anehnya kok bias gratis, ah lagi-lagi A Uud memang kreativ…

Sudahlah, kalau diingat-ingat mungkin tidak akan pernah habis cerita tentang saudara-saudaraku ini, terlalu banyak. Memang dengna kakak-kakak yang lain aku tidak punya banyak memori selain satu dua peristiwa saja; maklum Ceu Yayah san Ceu Lili sudah suluan mesantren, A Dudung juga sudah kuliah, Ceu Juju bahkan sudah berumah tangga. Salah satu kenangan tentang A Dudung yang aku tidak akan pernah lupa adalah ketika aku turut mengantar kepergian A Dudung pergi ke Semarang naik sepeda, katanya mau kuliah…Wah, aku baru bisa bayangin sekarang ini betapa jauhnya Semarang kalau ditempuh dengan bersepeda dari Kuningan. Di Semarang pun A Dudung hidup prihatin, jadi tukang cukur, dan berjualan, kini A Dudung sudah jadi Hakim pengadilan agama, aku pun semakin yakin: “hidup prihatin seringkali membawa keberhasilan”.

Dari Ceu Lili juga hanya beberapa kenangan yang aku ingat, salah satunya adalah papatah Ceu Lili kalau aku ngepel: "Cep…” kata Ceu Lili, “lamun ngepel kudu hiji-hiji tehelna dilap ambeh imeut…”. Ya, saat itu kita memang sering bergiliran untuk merawat rumah, Mimih adalah “manager” yang mengatur dan membagi tugas, si Encep, si Ujang, A Uud, Ceu Evi, dan Neng melakukan pekerjaan rumah sebisanya…nyiram kembang, maraban hayam, dan lain-lain…bahkan juga Bantu-bantu bikin kue, bikin kecap, bikin kacang atom, dan macam-macam usaha yang pernah dilakukan oleh Bapak dan Mimih, orang tuaku memang sangat ulet menambah penghasilan keluarga, mungkin karena terdorong kebutuhan, sehingga dipaksa oleh keadaan untuk bisa kreativ, aku pun bahkan sempat bisa membuat kopiah berkat bimbingan Bapak. Waktu aku Tanya, bagaimana Bapak bisa tahu cara membuat kopiah? Bapak bilang, gampang saja, kopiah yang Bapak punya dibongkar, lalu dilihat cara nyusunnya…..ah, luar biasa!

Saterasna....

MULAI MENGEMBARA...

Salajengna......

April 15, 2007

Mulai mengembara

Tahun 1985 aku mulai berkelana ke luar rumah mengikuti jejak kakak-kakaku. Pesantren Cipasung di Singaparna, Tasikmalaya adalah tempat pertamaku memperdalam agama melanjutkan pelajaran dasar dari orangtua di rumah. Sore sampai malam aku menjadi santri, sedangkan pagi hari aku menjadi siswa di Madrasah Aliyah negeri (MAN) Cipasung sampai tahun 1987.

Hidup dan belajar sambil prihatin! Itulah kesan yang tidak pernah terlupakan selama aku di Pesantren. Bapak dan Mimih memang mengirimiku uang melalui pos wesel untuk biaya hidup setiap bulannya, “hanya” beberapa puluh ribu rupiah, jauh dari cukup, bahkan untuk kebutuhan pokok sekalipun, makanya setiap bulan aku pasti ngutang ke Ibu angkatku, terutama untuk keperluan makan. Kalau ingin lebih irit, aku pun masak nasi liwet sendiri, lalu nyari lauk seadanya di Mang Ucoy, tahu, atau tempe, atau oncom dan garam, bagiku sudah cukup saat itu…pokoknya, yang penting mah ada DS (deungeun santri) lah...

Untung aku tidak sendirian, aku punya kawan dan sahabat senasib sepenanggungan, istilah Sunda mah sapapait samamanis....di antara mereka adalah Sunardi dan Ade Saefullah. Bersama mereka aku melewati masa-masa pahit dan manis di Cipasung.

Meski demikian, kesederhanaan dan keprihatinan tidak membuatku surut semangat belajar. Di sekolah aku bahkan selalu menjadi juara kelas. Di Pramuka pun aku aktiv dan bahkan pernah menduduki jabatan tertinggi sebagai Ketua Pradana. Begitulah, bagiku saat itu tidak pernah berfikir bahwa aku ini orang yang datang dari keluarga sederhana, sebaliknya aku sering bersyukur karena masih bisa sekolah, banyak tentu saja orang lain yang lebih tidak beruntung dibanding aku, ada yang tidak bisa sekolah, dan kalau pun sekolah, tidak selalu bisa berprestasi...aku ingat beberapa kawanku di Kampung yang kerjanya luntang-lantung, jadi preman, dan bahkan mabuk-mabukan. Sekarang baru terasa buahnya, dulu memang tidak tahu bedanya antara yang kerja keras dan yang berleha-leha....ah, jadi menggurui yah...!

Sebetulnya sih banyak kenangan, baik yang manis maupun pahit, selama aku di Cipasung, tapi tidak mungkin semuanya aku tuliskan di sini. Singkat cerita, aku pun dinyatakan lulus dari MAN Cipasung pada 1987. Berkat prestasiku, aku mendapat penghargaan lulus PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) untuk langsung bisa masuk kuliah tanpa tes di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung. Awalnya aku bersorak gembira, tapi ternyata aku harus gigit jari karena Bapakku tidak menyanggupi membayar biaya kuliahnya. Memang, walaupun lulus melalui PMDK, tapi hanya bebas biaya masuknya saja...Aku memang sering mendengar Bapak setengah bersumpah untuk menyekolahkan semua anak-anaknya, tapi hanya tingkat SLTA saja, setelah itu, semua diminta mencari jalan hidup masing-masing, begitu katanya!

Aku pun tidak jadi kuliah, malah dimasukkan ke pesantren salaf (pesantren tanpa jenjang pendidikan formal) di Baitul Hikmah, Haurkuning, Salopa, Tasikmalaya. Jadilah aku santri ”murni” mulai pertengahan tahun 1987. Pesantren Haurkuning ini terkenal dengan kekhususannya mengajarkan ilmu tatabahasa Arab. Pimpinan Pesantrennya, K.H. Saefuddin Zuhri, yang akrab dipanggil Akang, mewajibkan santri-santrinya untuk menghafal kitab-kitab nahw sarf, seperti al-Ajurumiyya, Kailani, Nazm al-Maqsud, hingga yang tertinggi, Alfiyya ibn Malik.

Kalau ada yang dianggap melanggar, hukumannya adalah direndam di kolam samping masjid, aku pun sempat mengalami rendaman air kolam itu, lumayan bikin malu, meski hanya satu kali...Untungnya, berkat pengetahuan dasar dari orang tua di kampung, ditambah dengan tiga tahun menjadi santri di Cipasung, aku malah menjadi santri kesayangan Akang. Selain mengikuti berbagai pelajaran, aku juga sering diajak pergi oleh Akang untuk menemani undangan pengajian. Saat itu kebetulan Akang baru beli motor bekas, Honda 90, yang lebih sering disebut ”Serenet”. Kebetulan hanya aku santri yang punya SIM motor, jadilah aku supir pribadi Akang, wah seneng banget saat itu! maklum aku jadi sangat dekat dengan orang nomor satu di Pesantren...

Setiap hari aku memacu motor kesayangan Akang ini naik turun gunung, pasalnya Pesantren ini memang terletak di atas bukit, jadi kalau mau berangkat harus menukik dengan tajam, dan kalau pulang harus pasang perseneling rendah sejak awal sambil mengucap bismillahirrahmanirrahim...kadang si ”Serenet” tidak kuat juga naik gunung ini dan berhenti di tengah-tengah. Kalau sudah begitu, aku pun mengulang lagi dari bawah sampai berhasil.....wah!

Hanya satu tahun aku jalani mesantren di Haurkuning, sungguh banyak suka duka yang aku alami. Mengingat letaknya yang agak terpencil, pola kehidupan di Haurkuning pun lebih sederhana dibanding di Cipasung; kadang aku makan hanya dengan terasi yang dibakar saja, atau terasinya ”disop” dan diaduk ke dalam nasi, kadang juga aku mencari jantung pisang untuk dijadikan sebagai sayurnya. Untungnya sekali-sekali aku diajak makan di rumah Akang, yang lauknya biasanya lebih baik dibanding hidangan santri.

Meski aku merasa kerasan hidup di pesantren, tapi jujur saja aku tidak pernah berhenti memikirkan untuk bisa kuliah. Tahun 1998 aku pamit ke Akang, aku ingat saat itu habis liburan Idul Fitri, tapi Akang menahanku, dan memintaku untuk tinggal, minimal sampai habis Idul Idha berikutnya, katanya sih tanggung menyelesaikan pengajian kitab Tafsir. Tapi kali ini aku memaksa, aku merasa sudah terlalu lama belajar agama di pesantren, apalagi aku ingat bahwa masa berlaku ijazahku adalah paling lama tiga tahun setelah tahun kelulusan. Artinya, tahun 1990 adalah tahun terakhir aku memiliki kesempatan untuk masuk ke dunia perguruan tinggi.

Akhirnya dengan tidak terlalu mendapat restu dari Akang, aku pun kembali ke Kuningan, dan mengutarakan hasratku ke Bapak untuk melanjutkan kuliah. Tapi, lagi-lagi aku terbentur kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Alih-alih dikuliahkan, Bapak malah memaksaku untuk kembali belajar di pesantren yang lain, kali ini adalah Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, sebuah pesantren khusus di bidang ilmu tauhid (ketuhanan), pimpinan K.H. Khoer Affandi, yang di Jawa Barat dikenal sebagai mantan tokoh Darul Islam (DI/TII). Kebetulan salah seorang kerabat dekatku, Ayi Isah, menjadi menantu sang Kyai.

Tentu saja aku malas-malasan, meski aku tidak sanggup membantah kehendak Bapak, saat itu aku memang tidak punya pilihan...Ternyata aku hanya mampu empat bulan bertahan di Pesantren ini. Uniknya, meski aku tidak kerasan, selama empat bulan itu aku sempat mengikuti rangkaian lomba pidato yang kebetulan diadakan setiap tahun oleh Pesantren dalam rangka memperingati hari besar Islam. Awalnya juga tidak sengaja, peserta lomba perwakilan kamarku tiba-tiba sakit, dan aku diminta menggantikannya.

Tak dinyana, aku meraih juara pertama antarkamar, aku pun maju ke tahap berikutnya, dan ternyata aku juga menjadi juara pertama antarasrama, serta terakhir di babak final memboyong piala kejuaraan sebagai terbaik pertama tingkat pesantren. Saat itu aku masih ingat bahwa di babak final aku mengalahkan santri senior yang konon sebelumnya selalu menjadi juara pertama, kalau tidak salah namanya Kang Toni, punten lah, Kang...lumayan juga sih hadiahnya berupa kupon makan gratis dengan lauk yang komplit selama beberapa minggu... Bulan berikutnya aku dijadwalkan mengikuti lomba pidato antarpesantren, tapi aku keburu tidak tahan dan tidak betah lagi.

Berkali-kali aku minta izin ke Pimpinan Pesantren, saat itu melalui Kang Asep yang suaminya Ayi Isah kerabat dekatku, tapi aku tidak pernah mendapat izin pulang,”...sabar lah, nanti juga betah...”, begitu nasihat Kang Asep yang sering aku dengar setiap aku minta izin pulang. Akhirnya, kesabaranku habis sudah...! suatu subuh aku nekat minggat dari Pesantren dengan berharudum kain sarung dan menenteng sepatuku melewati rel kereta, aku pun menuju Terminal Bus Tasikmalaya dan meluncur ke Kuningan....ah, sungguh petualangan yang tak mungkin terlupakan!

Hari demi hari, hasrat hati untuk segera menjadi mahasiswa semakin menggebu, terutama kalau mengingat batas berlaku ijazahku itu, aku selalu berifkir bagaimana cara mengatasi masalah ekonomi yang menjadi kendala utamaku? Memang, di rumah aku tidak kekurangan kegiatan, bahkan pengetahuan agamaku sangat dibutuhkan masyarakat saat itu, sehingga aku sering sekali mengisi berbagai pengajian, tapi aku tidak puas dengan itu semua, aku merasa masih bisa mengembangkan potensiku dengan lebih baik, Bapak sendiri saja sarjana muda, masak aku tidak bisa mengenyam bangku kuliah? Begitu pikirku...

Motivasi itulah yang kelak kemudian mengubah jalan hidupku. Aku bersyukur memiliki saudara-saudara yang mendukung niatku, meski mereka juga tidak bisa menutupi kebutuhan finansialku. A Jojo, Ceu Lili, A Dudung, Ceu Juju, dan Kakak-kakak lainnya mendorongku untuk mencoba mengadu nasib di Kota Metropolitan, Jakarta, dan mencari jalan untuk kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Ciputat.

Saterasna....

BERGELUT DENGAN KEJAMNYA IBUKOTA...

Salajengna......