February 21, 2013

Malu Pulang Tepat Waktu

Ilustrasi: Jam sibuk di stasiun kereta di Jepang
Malu terlambat datang ke tempat kerja, itu biasa! Bagi orang Jepang, ada malu yang lain, yang mungkin tidak terlalu lazim dalam budaya lain termasuk di Indonesia, yaitu malu kalau pulang kerja tepat waktu. Nah loh!

Jam kerja resmi di Jepang adalah mulai pukul 09:00 pagi hingga pukul 17:00 sore. Tapi, kebanyakan orang Jepang akan melebihkan waktu jam kerjanya sampai pukul 18:00 atau pukul 22:00, atau lebih dari itu!

Seorang kawan Nihonjin yang saya kenal, Takatoki, bercerita pada suatu ketika, kalau seorang Jepang pulang kerja pas tepat waktu, maka ia akan dianggap oleh koleganya sebagai tidak tekun, tidak rajin, dan kurang semangat bekerja!

Salajengna......

February 13, 2013

Berisik: Lain Padang Lain Tokyo

Kalau kita pernah naik angkutan umum, seperti angkot atau bis kota, di Padang Sumatra Barat, pasti tidak akan asing dengan suara bising musik yang memekakkan telinga....biasanya, jenis musik yang terdengar adalah berjenis kelamin rock atau sebangsanya yang menghentak-hentak...

Konon, menurut sang sopir, suara musik yang menggelegar itu sebagai daya tarik bagi penumpang, khususnya anak-anak muda agar mau menjadi penumpangnya. "Tidak ada musik, tidak ada penumpang", mungkin seperti itu ibaratnya....

Bukan hanya di Padang tentunya, di kota-kota lain pun di Indonesia kita relatif terbiasa "diganggu" ketika naik kendaraan umum, bis atau kereta, baik oleh suara musik yang sengaja dipasang oleh sang pengemudi, maupun oleh suara orang yang berteriak-teriak di HPnya.

Nah, tapi jangan coba-coba melakukan itu di dalam angkutan umum di Jepang, baik ketika naik kereta maupun bis! aturan main di hampir keseluruhan fasilitas angkutan publik di sini adalah tidak mengganggu privasi orang lain. Boleh dengerin musik, asal untuk kuping sendiri, boleh menggunakan HP, sebatas jari-jari saja yang menari, kira-kira begitu falsafahnya.

Tak heran kalau kita akan melihat aktivitas orang yang relatif "seragam" dalam sebuah kereta di Jepang: baca buku, maen game di console, ngutak-ngatik HP, atau pasang headset di telinga. Tentu bukan tidak boleh ngobrol sama sekali, sejauh suaranya masih diambang batas kewajaran. 

Tentu juga bukan hanya di Tokyo, saya masih ingat ketika awal pertama kali naik bus di Bonn, Jerman, saya menerima telpon dari kolega Indonesia, dalam bahasa Indonesia, dengan suara "normal" tentunya. Saya pun mendengar sang sopir mengumandangkan sebuah pengumuman lewat mikrofonnya, tapi karena saya belum faham bahasa Jerman, saya tidak terpengaruh. 

Barulah saya sadar ketika semua mata memandang saya, ternyata sang sopir mengingatkan aturan main yang harus dipatuhi untuk tidak berisik... bitte!

Jadi, pilih mana? Padang atau Tokyo? Terserah nasib saja! kalau ada garis harus ke Tokyo, ya siapkan headset dan buku bacaan ketika naik bis atau kereta, tapi kalau masih di Padang, nikmati sajalah gelegar musik meski di tengah terik matahari itu...

Salajengna......

Annisa dan "Angkot" di Tokyo

Rabu, 6 Februari, Anisa Azwar ( baru berusia 20 tahun) melompat dari angkot U-10 yang ditumpanginya di Jakarta Barat, karena ia merasa terancam dengan situasi yang dihadapinya.  
Tiga hari kemudian, ia pun akhirnya meregang nyawa. Anisa saat itu pasti mencium gelagat tidak beres yang menyebabkan dia merasa terpaksa harus nekad melakukan tindakan berbahaya! 


Anisa pergi selamanya, Uda Azwar dan Uni Eli Helviza di Bukittinggi, Sumatra Barat berduka ditinggal anak sulung yang dicintainya, Fakultas Kedokteran Ilmu Keperawatan (FKIK) Universitas Indonesia (UI) kehilangan salah seorang mahasiswinya yang cerdas, dan Indonesia pun menangis kehilangan salah satu bibit generasi muda potensial, akibat sistim jaminan sosial dan keamanan yang belum berpihak kepada warganya.


Anisa mustahil bisa loncat dari angkutan umum andai saja ia tinggal di Tokyo! Sistim keamanan di Kota ini mungkin menganut prinsip “nanti bagaimana” (Sunda: engke kumaha?), bukan “bagaimana nanti” (Sunda: kumaha engke). Semuanya disiapkan dan diterapkan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, bukan baru difikirkan dan ramai dibicarakan ketika kecelakaan sudah terjadi.

Saya tinggal di sebuah kota kecil, Fuchu di Tokyo; beberapa kali saya juga naik Chu-Bus, semacam angkutan kota unit terkecil dari stasiun Tama ke pusat kota Fuchu. Pintu masuk dan keluar penumpang hanya terbuka jika Chu-Bus berhenti di halte yang sudah ditentukan, bukan di sembarang tempat seperti halnya angkot di negeri kita. Jadi, penumpang gila sekalipun hampir mustahil loncat ketika bus berjalan, kecuali kalau ia pecahin kaca dan benar-benar gila! 


Ongkos Chu-Bus dibayarkan ketika penumpang naik, dan tidak mengganggu konsentrasi supir karena cukup dimasukkan ke dalam kotak yang sudah disediakan, Bus pun sedang berhenti ketika penumpang masih proses membayar. Untuk bus-bus yang lebih besar, pembayaran bisa dilakukan menggunakan Kartu Pasmo, semacam e-money yang berfungsi sebagai alat pembayaran multifungsi; tinggal tempel, langsung duduk! Tarifnya sudah jelas, tidak mungkin terjadi sopir beradu mulut dengan penumpang yang iseng membayar ongkos sedikit lebih murah! 


Prinsip kemanan lain yang dianut angkutan kota di sini adalah: semakin besar kemungkinan terjadinya risiko kecelakaan, semakin tinggi pula sistim keamanan ditingkatkan! 

Untuk angkutan bus jarak jauh seperti Airport Limousine menuju Bandara Narita misalnya, kursi penumpang dilengkapi dengan sealt belt layaknya dalam pesawat terbang! Sebelum berangkat, sang sopir akan mengingatkan penumpang melalui mikrofon yang standby dalam balutan seragamnya, agar semua penumpang mengenakan seat belt, untuk jaga-jaga “nanti bagaimana” kalau terjadi kecelakaan. O ya, sopir Chu-Bus di kota kecil pun mengenakan seragam dan topi kehormatan, sehingga tidak punya tampang akan berbuat tidak senonoh kepada penumpangnya! 


Prinsip keamanan preventif tentu saja bukan hanya milik angkutan kota di Tokyo atau kota-kota lain di Jepang, tapi juga diterapkan di banyak Negara maju yang sudah “beradab” dan sangat menghargai arti sebuah nyawa. 


Sayang, Anisa tinggal di sebuah kota yang sebagian warganya masih was-was dengan kejahatan dan kriminalitas, yang keamanannya belum terjamin ketika menggunakan angkutan umum, yang nyawanya tidak menjadi prioritas ketika Rumah Sakit tidak menerima uang muka! 


Pantas saja istri saya di Jakarta sering was-was kalau anak kami naik angkot dan belum pulang pada jam yang diperkirakan! Pantas saja orang tua di negeri ini sering over-protective terhadap anak gadisnya karena sering menjadi korban rusaknya sistim sosial! 


Tapi saya masih optimis dan menaruh harapan, ke depan, Indonesia akan menjadi lebih baik, angkutan umum seperti Busway di Jakarta adalah contohnya, Metromini dan Kopaja kini pun sudah mulai digiring paksa untuk memiliki sistim pintu seperti TransJakarta. Kelak, pasti tidak akan ada lagi pintu pelintasan kereta yang tidak ditutup saat gerbong kereta lewat, dan tidak ada lagi lampu merah yang diterobos! Annisa sudah mengingatkan kita semua.

Selamat jalan Anisa, semoga pengorbanan itu tidak sia-sia, dan menjadi awal pembenahan keseluruhan sistim sosial di Negara yang kita cintai bersama. Simpati saya dan keluarga untuk Uda Azwar dan Uni Eli, semoga keluarga ikhlas meski terpaksa. 

Fuchu, 13 Februari 2013

Salajengna......

February 6, 2013

Salju di Fuchu, Tokyo

Hari ini, Rabu 6 Februari, kali kedua salju turun di Tokyo! Sebelumnya, 14 Januari lalu, Tokyo dihujani salju paling tebal dalam 9 tahun terakhir...saat itu aku melihat di sekitar Kampus Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) banyak orang asyik menikmati salju tebal itu, berguling-guling, dan membentuknya menjadi rumah-rumahan atau boneka salju….

Sayang, tidak seperti pengalaman dulu waktu tinggal di Bonn, Jerman, istri dan anak-anakku tidak ikut bersamaku di Jepang, mereka malah sedang berkutat dengan hujan, banjir, dan masalah kemacetan di Jakarta.

Hari ini pula, sudah hampir 5 bulan aku tinggal di Tokyo. Harusnya hari ini adalah jadwal kursus bahasa Jepang bersama Taira-sensei, tapi malam tadi dia kirim email, ini isinya:

こんばんは、 Omanさん ! あしたは ゆきが ふるでしょう。 It is supposed to snow tomorrow. If it is snow tomorrow, I can't come to see you. In that case , I will inform you again. さようなら たいら 

Begitulah, bagian dari pelajaranku yang paling mendasar adalah menulis email dalam aksara Hiragana. Mungkin karena Taira-sensei tahu bahwa bahasa Jepangku sangat pas-pasan, ia sering menggabungkannya dengan bahasa Inggris. 

Aku pun bekerja seperti biasa, masuk kantor jam 9 pagi, pulang jam 7 malam….., di sini tempatku "bersemedi". Penulisan hasil risetku masih terlalu banyak, harus aku selesaikan sampai siap terbit sebelum 31 Juli nanti.

Salajengna......

May 22, 2012

Dari Asongan ke Manuskrip

cita-cita awal si Encep....
Rubrik Persona, Kompas, Minggu, 20 Mei 2012.
Konten dikutip dari: [I:Boekoe].
---------------
Oman Fathurahman tidak pernah merancang hidupnya. Namun, sejak remaja dia memelihara cita-cita: suatu ketika bisa jadi mahasiswa. Lewat jalan berliku–termasuk jadi pedagang asongan–Oman melampaui cita-citanya.
”Cita-cita saya bertahap karena harus mengukur diri,” ujar laki-laki asal Kuningan, Jawa Barat, yang menghabiskan masa remaja di lingkungan Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.
Oman bukan berasal dari keluarga berada. Ketika diterima di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, melalui jalur PMDK, orangtua Oman, KH M Harun dan Sukesih, tidak sanggup membiayainya. Oman kemudian dikirim ke Pesantren Haurkuning, Tasikmalaya, untuk belajar tata bahasa Arab.

Dengan setengah hati, Oman belajar di Haurkuning. Setahun di sana, Oman pamit pada kiai dan kembali ke rumah. ”Saya minta izin lagi ke orangtua untuk kuliah. Tapi tidak diizinkan. Saya malah dimasukkan ke pesantren tauhid di Manonjaya, Tasikmalaya.”

Seminggu di sana, Oman menunjukkan prestasi. Dia juara pidato seasrama dan sepesantren. Dia dielu-elukan, diberi hadiah makan gratis. Namun, Oman justru galau. ”Kalau begini terus saya enggak akan kuliah.”

Akhir 1980-an, Oman kabur ke Jakarta mencari uang. Usianya baru 19 tahun ketika dia merasakan kerasnya hidup di Jakarta. Setiap hari Oman jalan kaki dari rumah sepupunya di Kebayoran Lama–tempat dia menumpang hidup–ke bioskop Djakarta Theater, di sekitar kawasan Sarinah, Jakarta, untuk mengasong. Hasil bersih yang didapat Oman hanya Rp 1.000 per hari. ”Saya nangis beberapa kali. Kok jadi tukang asongan. Bagaimana bisa ngumpulkan uang untuk biaya kuliah.”

Enam bulan kemudian, Oman membaca iklan yang mencari editor bahasa Arab. Oman melamar dan berhasil mendapatkan pekerjaan itu. ”Gajinya Rp 80.000, dan saya bisa tinggal di asrama perusahaan di Roxy.”
Nasibnya membaik. Oman bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Tahun 1990, dia akhirnya kuliah di Jurusan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. ”Nyatanya, setelah lulus saya jadi pengangguran.”
Saat itulah, Profesor Nabila Lubis, dosen filologi pertama UIN, Jakarta, meminta bantuan Oman mengedit suntingan manuskrip berbahasa Arab dengan terjemahan beraksara Jawa. ”Saya ambil tawaran itu karena ada duitnya. Ternyata tidak terlalu sulit. Saya hanya memberi komentar pada terjemahan yang salah. Rupanya itulah pekerjaan filolog.”
Sejak saat itu, Oman berkenalan dengan filologi. Dia lebih jauh mengarungi rimba filologi setelah mendapat beasiswa S-2 dan S-3 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Begitulah, jalannya di dunia filologi lumayan mulus sebab sejak di pesantren Oman terbiasa membaca kitab tua. ”Cuma waktu itu enggak ada yang bilang kalau itu manuskrip.”
Setelah sukses menjadi filolog dengan spesialisasi naskah Islam Indonesia, Oman membangun satu lagi obsesi: menyebarkan kajian manuskrip ke pesantren. ”Kalau itu sudah dilakukan, puaslah hidup saya.” (BSW/AIK)

Salajengna......

Oman Fathurahman Pengembara Di Jagat Manuskrip

Kompas/Wawan H Prabowo
Rubrik Persona, Kompas, Minggu 20 Mei 2012.
Konten dikutip dari: [I:Boekoe].
---------------

Pascabencana gempa dan tsunami Aceh, ribuan orang berdatangan memberi bantuan kemanusiaan. Oman Fathurahman (43) datang menyelamatkan kitab tua.
Oman tiba di Banda Aceh 20 hari pascatsunami yang terjadi 26 Desember 2004 pagi. Ketika itu kota sesak oleh ribuan orang yang membantu evakuasi korban. Ditemani rekannya, Hasnul Arifin Melayu, Oman bersepeda motor menembus lumpur, air, dan reruntuhan. Tujuan filolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu hanya satu: menyelamatkan naskah-naskah tua yang tersisa.
Selain menewaskan lebih dari 150.000 penduduk Aceh, tsunami juga menjarah banyak manuskrip kuno. Seratusan manuskrip koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang diidentifikasi Oman pada tahun 1999, misalnya, hilang tanpa bekas. Enam puluh manuskrip di Balai Kajian Sejarah Nilai Tradisional (BKSNT) dan mungkin ribuan naskah yang ada di tangan masyarakat juga lenyap.

Manuskrip sangat penting yang lenyap, antara lain, Bajan Tajalli karangan ulama Aceh Abdurrauf al-Sinkili, Qanun al Asyi atau Undang-Undang Aceh, dan kitab hadis pertama dalam bahasa Melayu karangan Nuruddin al-Raniri berjudul Hidayat al-habib fi al-targhib wa al-tarhib.

Dokumen rencana induk Kota Banda Aceh yang dibuat Belanda juga lenyap. ”Dokumen itu sebelum tsunami tidak diizinkan untuk digandakan sehingga tidak ada salinannya sama sekali. Kini, kita hanya bisa meratapi hilangnya dokumen berharga itu,” ujar Oman.

Mengapa memilih menyelamatkan manuskrip?

Pertanyaan itu sering saya terima. Saya berusaha memberi kontribusi sesuai kapasitas, yaitu menyelamatkan kekayaan intelektual. Di Jepang ada standar, upaya penyelamatan pascabencana tidak hanya ditujukan pada manusia, tapi juga benda cagar budaya.

Belakangan, urgensi penyelamatan data manuskrip bersejarah Aceh yang kami lakukan ternyata sangat penting dan berdampak pada rehabilitasi Aceh di bidang budaya. Orang baru sadar, selain jiwa, Aceh juga kehilangan banyak manuskrip penting.
Untungnya, kami punya data lapangan dan merekamnya dengan video. Data itu segera saya sebarkan ke sejumlah lembaga internasional untuk mencari bantuan dana rekonstruksi Aceh di bidang budaya. Responsnya bagus. Tahun 2005/2006, Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) membantu digitalisasi dan katalogisasi naskah koleksi Yayasan Ali Hasjmi di Banda Aceh dan naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee.
Tahun 2005/2006 Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, mendapat bantuan dari Prince Claus Fund untuk membangun gedung perpustakaan manuskrip. Tahun 2007-2009, Leipzig University di Jerman bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) melestarikan manuskrip Aceh di Museum Negeri Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, Zawiyah Tanoh Abee, dan beberapa koleksi pribadi lain.
Tafsir gempa
Kegigihan Oman menyelamatkan kitab-kitab kuno di Aceh secara tak sengaja menguak fakta penting lainnya. Tahun 2005, ketika mendokumentasikan manuskrip di Perpustakaan Ali Hasjmy, dia menemukan kitab Takbir Gempa. Kitab anonim yang ditulis dalam aksara Arab berbahasa Melayu itu memaparkan kejadian yang akan mengikuti gempa dalam rentang waktu dari subuh hingga tengah malam dalam 12 bulan.
Disebutkan, ”… Jika gempa pada bulan Rajab, pada waktu subuh, alamatnya segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika pada waktu duha, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri itu….
Temuan itu menyentak Oman, juga dunia ilmu pengetahuan. Maklum, selama ini, catatan lokal tentang gempa dan tsunami dianggap tidak ada. Ternyata catatan itu ada, tetapi diabaikan. Selanjutnya, Oman berturut-turut menemukan catatan terkait gempa lainnya di daerah yang pernah dilanda gempa. Tahun 2006, Oman menemukan tulisan tangan di sampul sebuah manuskrip asal abad ke-19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang menyebutkan, pernah terjadi gempa besar untuk kedua kali pada pagi hari Kamis, 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah atau sekitar 3 November 1832.
Terakhir, tahun 2012, Oman menemukan naskah gempa versi Jawa di lingkungan Keraton Cirebon berjudul Kitab Lindu. ”Dalam bahasa Jawa, lindu itu berarti ’gempa’. Catatannya pendek dan hanya merupakan satu bab dari Kitab Tatamba yang arti sebenarnya berobat,” ujar Ketua Manassa itu.
Beberapa rekan Oman di Manassa juga menemukan kitab Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Sumatera Barat. Belakangan diketahui, naskah-naskah soal gempa juga tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta dan perpustakaan di Delft serta Leiden, Belanda.
Sejauh ini, lanjut Oman, naskah gempa yang telah ditemukan umumnya berisi takwil atau tafsir hikmah atas gempa. Tafsirnya selalu dua hal, yakni mengabarkan berita baik dan buruk. Berita baiknya (gempa) ditafsir sebagai tanda akan munculnya buah-buahan dan panen padi. Berita buruknya, gempa pada waktu tertentu ditafsir sebagai tanda akan datangnya bala atau musibah termasuk menimbulkan (gelombang) air yang besar.
Oman belum menemukan kitab gempa yang isinya terkait mitigasi. ”Kalau ada itu menarik sekali. Mungkin belum ditemukan saja mengingat data digital manuskrip yang telah terkumpul belum semuanya selesai dibaca.”
Bagaimanapun, penemuan yang baru sedikit itu cukup untuk membuktikan pentingnya pendokumentasian manuskrip kuno. Jika saja, naskah tentang gempa dan tsunami di Aceh terkuak lebih cepat, lanjut Oman, barangkali masyarakat Aceh bisa memetik pelajaran dari situ sehingga bisa lebih waspada.
Rimba pengetahuan
Meski telah menemukan beberapa kitab gempa, Oman tidak berniat memfokuskan diri di situ. Pasalnya, masih banyak pengetahuan berharga lainnya yang bisa dikorek dari manuskrip Nusantara. Oman memilih memasuki jagat manuskrip apa pun sedalam mungkin ketimbang berhenti di satu tema.
”Saya sekarang ingin membabat ilalangnya dulu. Soal meneliti detailnya itu belakangan dan sambil jalan, sebab semuanya penting,” ujar Oman yang melahap manuskrip berbahasa Arab, Jawi, Melayu, Sunda dengan aksara Arab.
Pengembaraan di rimba manuskrip membuka mata Oman tentang banyak hal. Salah satunya tentang posisi kultural-politik ulama kita di kawasan yang sekarang bernama ASEAN. Sejak dulu, kata Oman, wilayah yang kini bernama Indonesia menjadi rujukan pengetahuan regional. Ini bisa terlihat dari jaringan ulama di masa lalu.
”Mungkin Anda tahu disertasinya Pak Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Jakarta) yang memetakan jaringan ulama Nusantara. Filipina Selatan tadinya belum terhubungkan dengan Nusantara. Namun, manuskrip yang kami temukan di Mindanao menyebut, guru ulama Mindanao adalah Syeh Abdul Qahhar al-Bantani dari Banten.”
Berarti ada hubungan keilmuan antara Nusantara dan Mindanao. Temuan ini diperkuat dengan keberadaan naskah di Perpustakaan Nasional yang ditulis Abdul Majid Al-Mindanawi di Aceh zaman Mahmudsyah. ”Dugaan saya, ulama Mindanao itu belajar ke Aceh, kemudian menulis di sana, sekitar abad ke-19.”
Terakhir di Keraton Cirebon, ada naskah yang menyebutkan, Abdul Qahhar al-Bantani pernah menjadi guru bagi ulama tarekat Syattariah di Cirebon. ”Jaringannya bertambah lagi menjadi Aceh, Banten, Mindanao, Cirebon. Jadi, kita ini kurang apa dalam konteks peradaban. Itu, kan, hampir sama dengan Mekkah dan Madinah yang jadi rujukan negara-negara lain.”
Dengan mengkaji manuskrip, lanjut Oman, kita bisa merekonstruksi kejayaan Nusantara dan khazanah keilmuan nenek moyang kita. Sayangnya, ilmu filologi yang mengkaji manuskrip belum begitu populer di Indonesia sehingga kejayaan lama itu belum banyak terkuak.
Mengapa bisa begitu?
Kajian pernaskahan Nusantara sebenarnya dikembangkan sejak abad ke-19 oleh sarjana kolonial. Sayangnya, arahnya sebatas menerjemahkan dan menyunting teks sebab tujuan mereka adalah mempelajari bahasa. Sampai tahun 1980-an juga masih begitu.
Kalau pekerjaannya hanya menyunting, itu tidak menarik. filolog seperti juru masak. Ada naskah, ada teks, dia transkripsi, tugas selesai. Siapa pembacanya? Para sejarawan, yang mengonsumsinya untuk merekonstruksi sebuah konteks.
Ketika saya memperkuat kajian filologi di UIN awal 2000-an, saya tidak ingin filolog sebatas juru masak. Dia harus jadi penikmat dan pemberi konteks juga. Kalau Anda menemukan naskah gempa, jangan hanya berkata, ini nih naskah gempa. Lebih baik tulis lengkap dan berikan konteksnya. Jangan menganggap teks itu mati dan hanya bisa diterjemahkan. Teks itu bisa dibunyikan kalau diberi konteks.
Awalnya banyak yang menentang karena menganggap kegiatan filologi sebatas menyunting. Sekarang justru ada tren di perguruan tinggi agama Islam, tesis filologi diberi konteks.
Tuntutannya jadi multidisiplin, ya…
Benar, studinya jadi teks, interteks, hermeunetik, dan sebagainya. Filologi itu buat saya sekadar alat untuk masuk ke jagat manuskrip.

Salajengna......