September 16, 2016

Riset dan Menulis: Pengalaman Pribadi (1)

ASAFAS, Kyoto University
Sulit melukiskan emosi yang meledak-ledak saat saya sudah menemukan alur ide yang akan ditulis, dengan tumpukan referensi primer dan sekunder yang siap kutip, lengkap dengan nomor-nomor halamannya, dan terutama dengan mutu informasi yang meyakinkan.

Luapan emosi semacam itu biasanya semakin menjadi-jadi saat saya memulai menulis paragraf pertama, bersambung ke paragraf kedua, ketiga, dan seterusnya. Alur ide dalam kepala sering melintas lebih cepat ketimbang sepuluh (kadang menggunakan ‘sebelas’) jari yang menari-nari di atas papan tombol (keyboard) komputer, sehingga saya seirngkali memanfaatkan aplikasi tertentu untuk menyimpan ide-ide yang berseliweran. Ini penting, biar gak lupa saat dibutuhkan.

Salajengna......

May 16, 2016

Berkeringat Membangun Distingsi Keilmuan: Dongeng si Encep

Judul: 
Dari Pesantren untuk Dunia: 
Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Penerbit: Prenada Media Group, 2016.
==========

Aku juga tidak pernah membayangkan kalau suatu saat akan mendapat kesempatan menginjakkan kaki di beberapa kota besar di sejumlah Negara, mulai dari Paris, Belanda, Amsterdam, London, Oxford, Austria, dan Belgia di Eropa, Mesir di Afrika, Tanah Suci di Makkah dan Madinah, hingga Osaka, Nara, Kyoto, dan bahkan mengecap posisi prestisius sebagai visiting professor di Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa (ILCAA), Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Tokyo Jepang pada September 2012 hingga Juli 2013 lalu. 
Ini melengkapi nikmat lain yang pernah aku terima sebagai Gastwissenschaftler dari the Alexander von Humboldt Stiftung, sebuah Yayasan terkemuka dan bergengsi di Jerman, untuk melakukan riset di Orientalisches Seminar der Universität zu Köln pada 2006 hingga 2008, dan dari the Chevening Fellowship untuk shortcourse di Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS) dua tahun setelahnya. Sungguh benar-benar di luar ekspektasiku!
Dulu, ketika pertama kali mau nyobain naik pesawat saja, rasanya heboh banget! Saat itu tahun 1999, ketika aku diundang oleh kawan-kawan di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat untuk mendiskusikan buku pertama karanganku, Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke 17; Aku masih ingat, betapa ngebetnya aku kepengen duduk di dekat jendela pesawat terbang agar aku bisa melihat-lihat pemandangan di luar pesawat….yah, maklumlah aku ini si Encep yang orang kampung! 


Salajengna......

July 27, 2015

Raka Dewo Putranto (IP_6B_2015): Belajar Filologi yang Menyenangkan!

“Pada semester enam ini kita akan menggunakan Google Classroom sebagai perantara kita dengan dosen mata kuliah Filologi yaitu bapak Oman Fathurahman. Tolong dicatat akun kalian agar segera dibuat yaaa.” Tutur ketua kelas jurusan ilmu perpustakaan semester 6B pada hari kedua kami masuk kuliah. Dalam benak saya, aplikasi seperti apa yang akan digunakan? Apakah efektif untuk perkuliahan? Tanpa berpikir panjang, saya mengikuti alur yang dibuat oleh dosen tersebut. Akun pun dibuat dan diserahkan kepada masing-masing mahasiswa.

Dengan terbuatnya akun Google Classroom, kami disambut oleh bapak Oman Fathurahman dengan memberikan teori dan metode filologi serta kami diminta memberikan respon singkat tentang filologi dan mengukur kemampuan mahasiswanya dalam mata kuliah filologi. Saat saya membaca komentar dari teman-teman saya mengenai filologi, sebagian besar memang belum mengenal apa itu filologi, mereka sama seperti saya, masih awam mengenai mata kuliah ini. Bapak Oman pun memaklumi dengan hal ini, karena beliau banyak menemukan orang-orang yang masih belum mengenal disiplin ilmu filologi.

Wah asik juga aplikasi ini, kami seakan sedang mengikuti kuliah di kelas. Dosen memberikan pertanyaan dan mahasiswa memberikan tanggapan satu per satu, sehingga seluruh mahasiswa dapat mengutarakan pendapat tanpa harus ragu-ragu seperti halnya di kelas. Sepengalaman saya, kalau dosen mengajukan pertanyaan di kelas, sebagian besar mahasiswa masih malu-malu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Takut salah, takut dilecehkan, takut melenceng dari topik pembicaraan dan diejek oleh kawan-kawan sekelas dan lain sebagainnya. Saya pun termasuk salah satu dari mahasiswa yang belum berani mengutarakan pendapat sehingga saya merasa senang adanya aplikasi ini.

Salajengna......