June 21, 2017

Jangan Menjadi Marawi

KOMPAS, 21 Juni 2017
----------
Saya tak pernah membayangkan kota Marawi di Mindanao, Filipina selatan, akan mengalami tragedi terburuknya saat ini.
Saat melakukan riset atas manuskrip-manuskrip kuno di Marawi bersama Profesor Kawashima Midori dari Sophia University, Tokyo, Februari 2012, situasi keamanan masih cukup terkendali. Obrolan dengan tokoh agama dan masyarakat setempat saat itu pun nyaris tidak pernah menyinggung adanya kemungkinan kota ini diakuisisi oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam.
Sebagian besar tokoh Islam yang kami temui di Marawi berpaham Islam moderat, alumni Al Azhar, Kairo, dan sangat menghormati Muslim Indonesia. Kami sangat leluasa menjalankan misi penyelamatan manuskrip kuno sebagai benda bersejarah (cultural heritage) di Marawi, melalui digitalisasi dan kajian. Semua berubah ketika kelompok militan Maute muncul ke permukaan!

Salajengna......

September 16, 2016

Riset dan Menulis: Pengalaman Pribadi (1)

ASAFAS, Kyoto University
Sulit melukiskan emosi yang meledak-ledak saat saya sudah menemukan alur ide yang akan ditulis, dengan tumpukan referensi primer dan sekunder yang siap kutip, lengkap dengan nomor-nomor halamannya, dan terutama dengan mutu informasi yang meyakinkan.

Luapan emosi semacam itu biasanya semakin menjadi-jadi saat saya memulai menulis paragraf pertama, bersambung ke paragraf kedua, ketiga, dan seterusnya. Alur ide dalam kepala sering melintas lebih cepat ketimbang sepuluh (kadang menggunakan ‘sebelas’) jari yang menari-nari di atas papan tombol (keyboard) komputer, sehingga saya seirngkali memanfaatkan aplikasi tertentu untuk menyimpan ide-ide yang berseliweran. Ini penting, biar gak lupa saat dibutuhkan.

Salajengna......

May 16, 2016

Berkeringat Membangun Distingsi Keilmuan: Dongeng si Encep

Judul: 
Dari Pesantren untuk Dunia: 
Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Penerbit: Prenada Media Group, 2016.
==========

Aku juga tidak pernah membayangkan kalau suatu saat akan mendapat kesempatan menginjakkan kaki di beberapa kota besar di sejumlah Negara, mulai dari Paris, Belanda, Amsterdam, London, Oxford, Austria, dan Belgia di Eropa, Mesir di Afrika, Tanah Suci di Makkah dan Madinah, hingga Osaka, Nara, Kyoto, dan bahkan mengecap posisi prestisius sebagai visiting professor di Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa (ILCAA), Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Tokyo Jepang pada September 2012 hingga Juli 2013 lalu. 
Ini melengkapi nikmat lain yang pernah aku terima sebagai Gastwissenschaftler dari the Alexander von Humboldt Stiftung, sebuah Yayasan terkemuka dan bergengsi di Jerman, untuk melakukan riset di Orientalisches Seminar der Universität zu Köln pada 2006 hingga 2008, dan dari the Chevening Fellowship untuk shortcourse di Oxford Centre for Islamic Studies (OXCIS) dua tahun setelahnya. Sungguh benar-benar di luar ekspektasiku!
Dulu, ketika pertama kali mau nyobain naik pesawat saja, rasanya heboh banget! Saat itu tahun 1999, ketika aku diundang oleh kawan-kawan di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat untuk mendiskusikan buku pertama karanganku, Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad ke 17; Aku masih ingat, betapa ngebetnya aku kepengen duduk di dekat jendela pesawat terbang agar aku bisa melihat-lihat pemandangan di luar pesawat….yah, maklumlah aku ini si Encep yang orang kampung! 


Salajengna......