April 13, 2007

Meniti Karir: Panutup

Selepas dari IAIN pada 1995, rupanya roda kehidupan terus berputar, sekali lagi..ibarat air mengalir, aku mencoba mengikuti arusnya...suatu ketika aku bertemu dengan Henri Chambert-Loir, seorang filolog asal Prancis, yang sedang mengedit dan berencana menerbitkan sebuah manuskrip kuno berbahasa Arab karangan Shaikh Yusuf al-Makassari, Zubdat al-Asrar, dengan terjemahan bahasa Jawa. Teks itu merupakan bagian dari disertasi Prof. Dr. Nabilah Lubis, guru besar di Fakultas Adab UIN Jakarta.

Atas usulan dari Prof. Dr. Nabilah Lubis, aku diminta membantu mengedit teksnya. Saat itu, Henri Chambert-Loir melihat potensiku yang dianggap menguasai sejumlah bahasa yang banyak dibutuhkan oleh seorang filolog, yaitu bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan terutama bahasa Arab...Ia pun mendorongku untuk mengambil kuliah Magister di UI, dengan pengkhususan bidang filologi.

Sebetulnya pada saat yang sama aku juga diterima sebagai penerima beasiswa penuh untuk kuliah Magister di almamater sendiri, IAIN Jakarta, tapi aku lebih memilih kuliah di UI karena bidang kajiannya lebih menantang... Henri Chambert-Loir mendukung pilihanku, ia pun sangat berjasa dalam mencarikan beasiswa, sehingga aku mendapatkannya dari Program Penggalakan Kajian Naskah-naskah Nusantara. Lebih dari itu, ia memberiku kesempatan magang di Ecole francaise d’Extreme Orient (EFEO), lembaga riset Prancis di Jakarta yang dipimpinnya, sehingga aku mendapatkan tambahan penghasilan...

Pada 1996 pula, tepatnya 7 April 1996, aku mempersunting gadis yang kemudian menjadi pendampingku kini, Ida. Melalui ikatan keluarga inilah kami mendapat karunia tiga buah hati, Fadli Husnurrahman (1997), Alif Alfaini Rahman (2000), dan Jiddane Ashkura Rahman (2004). Mereka inilah yang sampai detik ini setia mendampingiku dalam berbagai suka dan duka. Aku bertemu dengan ”pacarku” itu saat mengajar ngaji keponakan-keponakannya, he he...Aku akan cerita soal istri dan anak-anakku pada bagian tersendiri...

Aku merampungkan kuliah Magister dengan cepat, tepatnya tahun 1998, tidak lebih dari 2 tahun...ini bisa aku tempuh karena relatif tidak ada hambatan dari segi biaya...alhamdulillah, aku bersyukur berulang kali, aku sering mengingat masa-masa sulit dulu, susahnya minta ampun mau memulai kuliah, tapi begitu ”pintunya” terbuka, rezeki sepertinya datang sendiri...apalagi mulai tahun 1996 aku mulai diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di almamaterku sebelumnya, IAIN Jakarta, yang mulai tahun 2000 berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta...

Tahun 1998, aku resmi menyandang gelar Magister Humaniora (M.Hum), sungguh bangga rasanya menyandang gelar itu...maklum, aku ini si Encep yang orang kampung! Belum ada anggota keluargaku yang mencapai prestasi ini, aku pun tidak pernah membayangkan sebelumnya, apalagi saat aku ”hanya” sebagai pedagang asongan...

Dulu aku sempat berfikir, bisa menjadi mahasiswa adalah kejutan dan pengalaman terbesar dalam hidupku...tapi mulai tahun 1998 itu, ternyata masih banyak perjalanan hidup yang membuatku terkejut sendiri...! sampai tahun 1999, aku lebih intensif magang di EFEO, dan pada masa inilah aku berhasil menerbitkan tiga buah buku sekaligus: pertama, buku Menyoal Wahdatul Wujud, tesis yang kemudian diterbitkan oleh salah satu Penerbit terkemuka di Indonesia, Mizan; kelak buku ini dianggap sebagai salah satu buku terbaik oleh almamater tempatku mengajar, UIN Jakarta.

Buku ini pula yang membawaku untuk pertama kalinya terbang ke Sumatra Barat dalam sebuah peluncuran dan diskusi buku yang diselenggarakan oleh kawan-kawan di Universitas Andalas. Buku kedua adalah Jawa Barat: Katalog Lima Lembaga, dimana aku bertindak sebagai editor atas buku yang menghimpun sejumlah naskah-naskah kuno di Jawa Barat itu; dan terakhir adalah buku Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia se-Dunia; buku ini ditulis berdua bersama Henri Chambert-Loir, dan melalui buku inilah namaku mulai dikenal di kalangan peminat pernaskahan di seluruh dunia...sungguh bangga rasanya ketika aku search namaku sendiri di dunia maya, maka muncullah buku-buku karanganku itu yang tersimpan di berbagai perpustakaan di universitas-universitas ternama di dunia...!

Aku pun memulai pengalaman internasional di dunia akademik dalam sebuah seminar tentang ”History of Translation in Indonesia and Malaysia(Project Association Archipel” di Paris pada 1-5 April 2001. Saat itu aku mempresentasikan sebuah paper tentang tradisi intelektual Islam di Palembang. Lagi-lagi Henri Chambert-Loir yang untuk pertama kalinya memfasilitasi karir keilmuan internasionalku. Dia lah yang memprakarsai dan mengusulkan agar aku menjadi salah seorang pembicara dalam seminar itu, terima kasih ”Pak” Henri....

Aku memanfaatkan kesempatan ke Paris itu untuk berkunjung juga ke Perpustakaan Leiden "surga" nya referensi tentang kajian Indonesia. Tentu saja aku sangat bersuka cita, ini untuk pertama kalinya aku terbang ke luar negeri, apalagi atas undangan sebagai pembicara seminar, wah! Pokoknya aku semakin yakin deh bahwa ”orang kampung” pun bukan mustahil meraih kesuksesan asal mau belajar, gigih, pantang menyerah, dan jujur...Tak dinyana, belakangan aku bisa kembali ke Paris bersama keluarga, saat kami tinggal di Jerman.

Berikutnya, dunia penelitian dan tulis menulis sepertinya benar-benar menjadi duniaku, terutama setelah pada 1999 aku melanjutkan studi program doktoral di Universitas Indonesia, atas beasiswa penuh dari Indonesian International Education Foundation (IIEF). Sejak masa itu, aku benar-benar jatuh hati pada Sumatra Barat yang ternyata menyimpan khazanah naskah yang sedemikian kaya, khususnya naskah keagamaan, dan aku pun banyak menulis artikel berkaitan dengan wilayah ini.....disertasi yang aku tulis pun memilih tema ”Tarikat Shattariyyah di Dunia Melayu-Indonesia: Penelitian atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-naskah di Sumatra Barat”.

Aku berhasil mempertahankan disertasi itu pada 11 September 2003, dan dinyatakan lulus dengan predikat cum laude...jujur saja aku sangat bangga dengan prestasiku ini, apalagi promotorku, Prof. Dr. Achadiati Ikram, bilang dalam pidatonya bahwa aku adalah orang pertama yang mengkaji naskah dengan metode dan pendekatan yang aku lakukan, yakni pendekatan filologis dan sejarah sosial intelektual Islam....si Encep pun kini bergelar DR......! Alhamdulillah ya Allah, aku sungguh tak pernah membayangkan akan mendapatkan semua karunia-Mu yang sangat besar ini, perkenankan lah aku untuk dapat mensyukurinya...!

Minatku pada dunia penelitian dan tulis menulis semakin terkondisikan ketika aku diminta oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra, yang sampai saat ini masih sebagai Rektor UIN Jakarta, untuk aktiv di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM). Belakangan, aku pun terlibat dalam penerbitan jurnal internasional, Studia Islamika, yang mengkhususkan kajiannya pada Islam di Indonesia dan Asia Tenggara...aku bersyukur sekali, apalagi saat itu aku bisa mendampingi kawanku yang sangat energik, Dr. Jamhari, yang duduk sebagai Direktur PPIM. Aku sungguh banyak belajar dari Mas Jamhari yang antropolog ini, baik dalam hal membangun jaringan dengan kolega-kolega, di dalam maupun di luar negeri.

Melalui kesempatan yang diberikan oleh Mas Jamhari dan PPIM pula, pada September 2005 lalu aku terbang ke Jepang dan mengunjungi beberapa kota besar di sana, mulai dari Osaka, Nara, Kyoto, sampai Tokyo. Selain mendapat tugas memimpin rombongan 10 orang kyai dari guru dari pesantren di Indonesia untuk melihat dari dekat pendidikan sains dan teknologi di sekolah-sekolah di Jepang, pada saat yang sama aku juga mendapat undangan untuk presentasi dalam sebuah seminar di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) tentang tradisi intelektual Islam di Aceh.

Aku pun patut berterima kasih ke kawan-kawan di PPIM, tempatku beraktivitas sebagai peneliti; mereka banyak memberiku kesempatan untuk menulis dan mengedit sejumlah artikel dan buku, sehingga memperpanjang daftar karya tulisku..Belakangan, buku-buku dan tulisan-tulisanku yang terbit sejak 1999 sampai 2005 itulah yang menjadi pertimbangan utama penilaian the Alexander von Humboldt-Stiftung, sehingga memberiku fellowship sebagai “Gastwissenschaftler” di Cologne University, bersama Prof. Dr. Edwin Wieringa sebagai academic hostku...<>pede (percaya diri) dengan pendidikan madrasah dan pesantren yang aku terima, kadang aku mengeluh dalam hati, kenapa orang tuaku tidak menyekolahkan aku ke jurusan sains atau teknologi, biar bisa cepat bekerja...! ternyata kunci masalahnya bukan pada sekolah agama atau umum, tapi bagaimana kita menekuninya...

Pencapaian pendidikan tidak harus selalu tergantung pada tingkat kemakmuran ekonomi keluarga.....banyak beasiswa menunggu di mana-mana, tergantung bagaimana kita berusaha meraihnya....!

Kini, aku dan keluarga masih menikmati kehidupan di Bonn, sebuah kota kecil di Jerman yang sangat tertib dan bersahabat...persis seperti bersahabatnya kawan-kawan Indonesia yang kami kenal, baik dari Bonn maupun Köln...

Sekian...

7 comments:

Nadirsyah said...

ceritanya menarik kang...seru banget hehehe selamat atas semua kesuksesan yang diraih dan semoga lebih sukses lagi di masa mendatang. Amin

Candra said...

Kang, kumaha di Jerman teh, betah? Ngiring bingah puguh ge, nu cenah urang kampung bau lisung teh geuning tiasa ngalanglang ka nagara deungeun. Reueus abdi mah. Sumuhun dugi ka hilap, salam wanoh ti abdi pun Candra urang Ciamis. Dihaturan sindang ka rorompok di www.bujanggamanik.co.nr. Hatur nuhun.

Aang said...

wah saya baru buka blog Kang Oman. jadi tambah semangat untuk belajar dan berprestasi, coz saya sendiri orang kampung dan bukan dari middle or high class. makasih ceritanya kang. sungguh inspiratif. Aang Abu Bakar-Scotland

wi2en said...

pak oman menarik sekali perjalanan hidupnya... :)

memang segala sesuatu tergantung pada individunya. Saya juga tamat SD langsung dikirim ortu dari riau ke jawa utk mengeyam pendidikan pesantren selama 6 tahun.Kini alhamdulillah baru saja selesai S1 syariah islamiyah azhar Unv. Ada rencana mau apply magister di jurusan Sejarah dan peradaban IIU malaysia. Jurusan yg jarang diminati orang.Tapi saya menyukainya.

mohon doa :)

Oman Fathurahman said...

Makasih buat kawan-kawan yang telah memberikan apresiasinya, semoga kita selalu bisa meraih apa yang kita cita-citakan. Salam sukses selalu.

Nur Sobah said...

sungguh sangat luar biasa perjuangan pak oman.. saya sebagai mahasiswanya turut berbangga hati atas perjuangan dan kesuksesannya. semoga menjadi inspirasi buat saya,..aamiiinnn..

selamat ya pak... :)

Oman Fathurahman said...

Terima kasih Nur Sobah. Saya yakin anda dan kawan-kawan lain bisa lebih maju lagi di masa depan, amin.