April 15, 2007

Mulai mengembara

Tahun 1985 aku mulai berkelana ke luar rumah mengikuti jejak kakak-kakaku. Pesantren Cipasung di Singaparna, Tasikmalaya adalah tempat pertamaku memperdalam agama melanjutkan pelajaran dasar dari orangtua di rumah. Sore sampai malam aku menjadi santri, sedangkan pagi hari aku menjadi siswa di Madrasah Aliyah negeri (MAN) Cipasung sampai tahun 1987.

Hidup dan belajar sambil prihatin! Itulah kesan yang tidak pernah terlupakan selama aku di Pesantren. Bapak dan Mimih memang mengirimiku uang melalui pos wesel untuk biaya hidup setiap bulannya, “hanya” beberapa puluh ribu rupiah, jauh dari cukup, bahkan untuk kebutuhan pokok sekalipun, makanya setiap bulan aku pasti ngutang ke Ibu angkatku, terutama untuk keperluan makan. Kalau ingin lebih irit, aku pun masak nasi liwet sendiri, lalu nyari lauk seadanya di Mang Ucoy, tahu, atau tempe, atau oncom dan garam, bagiku sudah cukup saat itu…pokoknya, yang penting mah ada DS (deungeun santri) lah...

Untung aku tidak sendirian, aku punya kawan dan sahabat senasib sepenanggungan, istilah Sunda mah sapapait samamanis....di antara mereka adalah Sunardi dan Ade Saefullah. Bersama mereka aku melewati masa-masa pahit dan manis di Cipasung.

Meski demikian, kesederhanaan dan keprihatinan tidak membuatku surut semangat belajar. Di sekolah aku bahkan selalu menjadi juara kelas. Di Pramuka pun aku aktiv dan bahkan pernah menduduki jabatan tertinggi sebagai Ketua Pradana. Begitulah, bagiku saat itu tidak pernah berfikir bahwa aku ini orang yang datang dari keluarga sederhana, sebaliknya aku sering bersyukur karena masih bisa sekolah, banyak tentu saja orang lain yang lebih tidak beruntung dibanding aku, ada yang tidak bisa sekolah, dan kalau pun sekolah, tidak selalu bisa berprestasi...aku ingat beberapa kawanku di Kampung yang kerjanya luntang-lantung, jadi preman, dan bahkan mabuk-mabukan. Sekarang baru terasa buahnya, dulu memang tidak tahu bedanya antara yang kerja keras dan yang berleha-leha....ah, jadi menggurui yah...!

Sebetulnya sih banyak kenangan, baik yang manis maupun pahit, selama aku di Cipasung, tapi tidak mungkin semuanya aku tuliskan di sini. Singkat cerita, aku pun dinyatakan lulus dari MAN Cipasung pada 1987. Berkat prestasiku, aku mendapat penghargaan lulus PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat) untuk langsung bisa masuk kuliah tanpa tes di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung. Awalnya aku bersorak gembira, tapi ternyata aku harus gigit jari karena Bapakku tidak menyanggupi membayar biaya kuliahnya. Memang, walaupun lulus melalui PMDK, tapi hanya bebas biaya masuknya saja...Aku memang sering mendengar Bapak setengah bersumpah untuk menyekolahkan semua anak-anaknya, tapi hanya tingkat SLTA saja, setelah itu, semua diminta mencari jalan hidup masing-masing, begitu katanya!

Aku pun tidak jadi kuliah, malah dimasukkan ke pesantren salaf (pesantren tanpa jenjang pendidikan formal) di Baitul Hikmah, Haurkuning, Salopa, Tasikmalaya. Jadilah aku santri ”murni” mulai pertengahan tahun 1987. Pesantren Haurkuning ini terkenal dengan kekhususannya mengajarkan ilmu tatabahasa Arab. Pimpinan Pesantrennya, K.H. Saefuddin Zuhri, yang akrab dipanggil Akang, mewajibkan santri-santrinya untuk menghafal kitab-kitab nahw sarf, seperti al-Ajurumiyya, Kailani, Nazm al-Maqsud, hingga yang tertinggi, Alfiyya ibn Malik.

Kalau ada yang dianggap melanggar, hukumannya adalah direndam di kolam samping masjid, aku pun sempat mengalami rendaman air kolam itu, lumayan bikin malu, meski hanya satu kali...Untungnya, berkat pengetahuan dasar dari orang tua di kampung, ditambah dengan tiga tahun menjadi santri di Cipasung, aku malah menjadi santri kesayangan Akang. Selain mengikuti berbagai pelajaran, aku juga sering diajak pergi oleh Akang untuk menemani undangan pengajian. Saat itu kebetulan Akang baru beli motor bekas, Honda 90, yang lebih sering disebut ”Serenet”. Kebetulan hanya aku santri yang punya SIM motor, jadilah aku supir pribadi Akang, wah seneng banget saat itu! maklum aku jadi sangat dekat dengan orang nomor satu di Pesantren...

Setiap hari aku memacu motor kesayangan Akang ini naik turun gunung, pasalnya Pesantren ini memang terletak di atas bukit, jadi kalau mau berangkat harus menukik dengan tajam, dan kalau pulang harus pasang perseneling rendah sejak awal sambil mengucap bismillahirrahmanirrahim...kadang si ”Serenet” tidak kuat juga naik gunung ini dan berhenti di tengah-tengah. Kalau sudah begitu, aku pun mengulang lagi dari bawah sampai berhasil.....wah!

Hanya satu tahun aku jalani mesantren di Haurkuning, sungguh banyak suka duka yang aku alami. Mengingat letaknya yang agak terpencil, pola kehidupan di Haurkuning pun lebih sederhana dibanding di Cipasung; kadang aku makan hanya dengan terasi yang dibakar saja, atau terasinya ”disop” dan diaduk ke dalam nasi, kadang juga aku mencari jantung pisang untuk dijadikan sebagai sayurnya. Untungnya sekali-sekali aku diajak makan di rumah Akang, yang lauknya biasanya lebih baik dibanding hidangan santri.

Meski aku merasa kerasan hidup di pesantren, tapi jujur saja aku tidak pernah berhenti memikirkan untuk bisa kuliah. Tahun 1998 aku pamit ke Akang, aku ingat saat itu habis liburan Idul Fitri, tapi Akang menahanku, dan memintaku untuk tinggal, minimal sampai habis Idul Idha berikutnya, katanya sih tanggung menyelesaikan pengajian kitab Tafsir. Tapi kali ini aku memaksa, aku merasa sudah terlalu lama belajar agama di pesantren, apalagi aku ingat bahwa masa berlaku ijazahku adalah paling lama tiga tahun setelah tahun kelulusan. Artinya, tahun 1990 adalah tahun terakhir aku memiliki kesempatan untuk masuk ke dunia perguruan tinggi.

Akhirnya dengan tidak terlalu mendapat restu dari Akang, aku pun kembali ke Kuningan, dan mengutarakan hasratku ke Bapak untuk melanjutkan kuliah. Tapi, lagi-lagi aku terbentur kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Alih-alih dikuliahkan, Bapak malah memaksaku untuk kembali belajar di pesantren yang lain, kali ini adalah Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, sebuah pesantren khusus di bidang ilmu tauhid (ketuhanan), pimpinan K.H. Khoer Affandi, yang di Jawa Barat dikenal sebagai mantan tokoh Darul Islam (DI/TII). Kebetulan salah seorang kerabat dekatku, Ayi Isah, menjadi menantu sang Kyai.

Tentu saja aku malas-malasan, meski aku tidak sanggup membantah kehendak Bapak, saat itu aku memang tidak punya pilihan...Ternyata aku hanya mampu empat bulan bertahan di Pesantren ini. Uniknya, meski aku tidak kerasan, selama empat bulan itu aku sempat mengikuti rangkaian lomba pidato yang kebetulan diadakan setiap tahun oleh Pesantren dalam rangka memperingati hari besar Islam. Awalnya juga tidak sengaja, peserta lomba perwakilan kamarku tiba-tiba sakit, dan aku diminta menggantikannya.

Tak dinyana, aku meraih juara pertama antarkamar, aku pun maju ke tahap berikutnya, dan ternyata aku juga menjadi juara pertama antarasrama, serta terakhir di babak final memboyong piala kejuaraan sebagai terbaik pertama tingkat pesantren. Saat itu aku masih ingat bahwa di babak final aku mengalahkan santri senior yang konon sebelumnya selalu menjadi juara pertama, kalau tidak salah namanya Kang Toni, punten lah, Kang...lumayan juga sih hadiahnya berupa kupon makan gratis dengan lauk yang komplit selama beberapa minggu... Bulan berikutnya aku dijadwalkan mengikuti lomba pidato antarpesantren, tapi aku keburu tidak tahan dan tidak betah lagi.

Berkali-kali aku minta izin ke Pimpinan Pesantren, saat itu melalui Kang Asep yang suaminya Ayi Isah kerabat dekatku, tapi aku tidak pernah mendapat izin pulang,”...sabar lah, nanti juga betah...”, begitu nasihat Kang Asep yang sering aku dengar setiap aku minta izin pulang. Akhirnya, kesabaranku habis sudah...! suatu subuh aku nekat minggat dari Pesantren dengan berharudum kain sarung dan menenteng sepatuku melewati rel kereta, aku pun menuju Terminal Bus Tasikmalaya dan meluncur ke Kuningan....ah, sungguh petualangan yang tak mungkin terlupakan!

Hari demi hari, hasrat hati untuk segera menjadi mahasiswa semakin menggebu, terutama kalau mengingat batas berlaku ijazahku itu, aku selalu berifkir bagaimana cara mengatasi masalah ekonomi yang menjadi kendala utamaku? Memang, di rumah aku tidak kekurangan kegiatan, bahkan pengetahuan agamaku sangat dibutuhkan masyarakat saat itu, sehingga aku sering sekali mengisi berbagai pengajian, tapi aku tidak puas dengan itu semua, aku merasa masih bisa mengembangkan potensiku dengan lebih baik, Bapak sendiri saja sarjana muda, masak aku tidak bisa mengenyam bangku kuliah? Begitu pikirku...

Motivasi itulah yang kelak kemudian mengubah jalan hidupku. Aku bersyukur memiliki saudara-saudara yang mendukung niatku, meski mereka juga tidak bisa menutupi kebutuhan finansialku. A Jojo, Ceu Lili, A Dudung, Ceu Juju, dan Kakak-kakak lainnya mendorongku untuk mencoba mengadu nasib di Kota Metropolitan, Jakarta, dan mencari jalan untuk kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Ciputat.

Saterasna....

BERGELUT DENGAN KEJAMNYA IBUKOTA...

Salajengna......

April 14, 2007

Kuliah, Berprestasi, dan Berdikari

Wah, awal tahun 1990 adalah masa transisi besar-besaran dalam sejarah hidupku! Aku mulai masuk dunia baru yang sudah lama aku idam-idamkan; kelak dunia inilah yang kemudian membawaku pada dunia akademis yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya...bagi orang lain yang jalan hidupnya ”lurus-lurus” saja, menjadi mahasiswa mungkin bukan hal istimewa, tapi bagiku, ini adalah hasil yang aku capai dengan keringat dan peluh selama beberapa waktu...

Aku hampir membayangkan, selesai lah sudah cita-cita hidupku dengan menjadi mahasiswa, meski ternyata nasib berkata lain karena belakangan aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah sampai jenjang tertinggi, program doktoral, dan bahkan menjadi ”Gastwissenschaftler”, atau peneliti tamu di Jerman, atas award dari the Alexander von Humboldt-Stiftung...sungguh sebuah pengalaman yang bahkan sudah melewati batas mimpi sendiri...!, maklumlah, aku ini si Encep yang orang kampung...

Selama kuliah di IAIN, aku juga tidak berarti berhenti mencari sesuap nasi, karena aku harus membayar sendiri biaya kuliahku. Kini, aku harus mencari kegiatan yang sifatnya tidak mengikat, sehingga tidak mengganggu aktivitas kuliah; banyak bisnis kecil-kecilan yang aku jalani, mulai dari berjualan jam tangan, batik, bisnis multilevel CNI, sampai terakhir membuka kios kacamata.

Aku masih ingat, modal awalku adalah pinjaman uang dari kakakku, A Jojo dan Ceu Lili, sebesar Rp 1.000.000,-; itu pun tidak cash semua, karena aku juga membawa sebuah televisi 14 inch merek National Quintrix, yang dihargai oleh A Jojo seharga Rp 400.000,-. Alhasil, aku membawa uang Rp 600.000,-; yang aku belikan alat periksa mata seharga Rp 500.000,-, dan sisanya untuk membeli beberapa buah frame kacamata sebagai koleksi untuk dipajang di etalase yang aku pesan secara khusus...tentu saja aku tidak memiliki pendidikan formal menjadi dokter kacamata, aku hanya kreativ bekerja sama dengan seorang sarjana optikal, Kang Makmun namanya, dan aku mempelajari "secara ilegal" bagaimana caranya memeriksa mata...

Begitulah, aku bak pengusaha kecil saja jadinya, mencari sebanyak-banyaknya uang untuk mendukung aktivitas kuliahku. Selain bisnis, aku juga banyak mengajar ngaji di rumah-rumah orang kaya yang sibuk dengan pekerjaannya, dan tidak sempat mengajari anak-anaknya, atau mengisi berbagai undangan pengajian, baik di masjid, di hotel, maupun di berbagai perkantoran, lumayan, uang tranpotnya seringkali dapat menambah tabunganku untuk membayar biaya kuliah semester berikutnya...Bahkan, karena mungkin terlalu serius mencari uang, aku sempat dijuluki sebagai ”mahasiswa kaya”, karena aku bisa membeli sepeda motor, televisi, dan membayar rumah kontrakan sendiri...


Meski aku sibuk mencari uang, aku juga tidak melupakan tugas utamaku sebagai mahasiswa, belajar...! bahkan lebih dari itu, aku sempat menjadi aktivis kampus, dan menduduki jabatan tertinggi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Cabang Ciputat tahun 1992-1993, serta Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Adab pada 1993-1994.

Di organisasi profesi, aku juga tidak ketinggalan aktiv di Lembaga Kaligrafi Al-Quran (LEMKA), dan mengikuti sejumlah lomba di DKI Jakarta. Dalam hal ini, prestasi tertinggiku adalah sebagai Juara Pertama lomba Kaligrafi bidang mushaf Al-Quran tingkat DKI Jakarta pada 1993. Lumayan juga, aku mengoleksi sejumlah piala kejuaraan, di samping piala lomba pidato yang memang menjadi ”kegemaranku” saat itu...



Syukurlah, semua ini tak luput dari bekal yang aku peroleh selama beberapa tahun belajar di pesantren, khususnya pengetahuanku atas bahasa Arab, sehingga aku tidak terlalu repot belajar lagi, dan bisa beraktivitas secara leluasa di luar kampus.

Bahkan, aku patut bersyukur karena bisa menyelesaikan kuliah dalam 4 tahun saja dengan predikat cumlaude, dan menjadi mahasiswa terbaik di Fakultas Adab. Aku pun didaulat untuk berpidato mewakili para wisudawan..., dan aku pun mengggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan terima kasih kepada orang tuaku, Bapak dan Mimih... entah apa perasaan Bapak yang saat itu duduk di deretan bangku undangan, aku sempat melihatnya menangis tersedu-sedu...sayang, Mimih tidak sempat menyaksikan semuanya ini, aku bahkan tidak sempat melihat kembali wajah lembutnya ketika Mimih wafat pada 1991...terakhir aku sempat melambaikan tangan perpisahan di Masjid Istiqlal, usai menyaksikan Festifal Istiqlal di Jakarta...semoga Mimih berbangga di alam baqa, dan tentram di sisi-Nya, amin...

Saterasna....

MENITI KARIR...

Salajengna......

Bergulat dengan Kejamnya Ibukota: Pedagang Asongan

Dengan mengucap basmallah dan bekal uang secukupnya, aku pun berangkat ke Ibukota. Tentu saja niat utamanya kuliah, tapi ternyata jalan yang harus aku tempuh tidak semulus yang dibayangkan. Beruntung aku punya Kakak sepupu, A Ihin dan Ceu Adah, yang tinggal di Jakarta, tepatnya di Sukabumi Udik Kebayoran Lama, meski masih ngontrak saja...aku berhutang budi sekali atas kebaikan mereka berdua yang untuk pertama kalinya memberikan tumpangan.

Aku sering bertukar pikiran dengan A Ihin dan Ceu Adah tentang rencana kuliahku, selain kami juga sering bertukar ilmu, A Ihin mengajariku bermain gitar, dan sebagai imbalannya aku diminta mengajarinya Kitab Alfiyya, tentang tatabahasa Arab...A Ihin saat itu memang seorang seniman yang kental nuansa Islamnya, skripsinya saja tentang musikalisasi Al-Quran, kalau tidak salah...

Aku tentu saja tidak mungkin hanya ucang-ucang angge di rumah A Ihin dan Ceu Adah. Aku harus mencari penghasilan sendiri. Tapi seperti yang sering orang bilang, :...Jakarta memang kejam, siapa suruh datang ke Ibukota! Tidak mudah mencari uang di Jakarta, aku pun nekat melakukan apa saja, ”...asal halal...”, pikirku!

Dengan bekal gendongan rokok pinjaman dari A Ihin, setiap hari aku berjalan kaki menyusuri jalan Kebayoran Lama sampai Tanah Abang sambil berteriak: ”...rokok...rokok...permen....”. begitulah, aku menjadi pedagang asongan demi mencari ”sesuap nasi”.

Aku jalani ”profesi” itu dalam beberapa bulan...aku masih ingat, seringkali pagi hari Ceu Adah mengantar kepergianku dengan tetes air mata haru, ”...duh, bertahun-tahun mesantren kok malah jadi pedagang asongan, sabar aja yah, insya Allah suatu saat akan lebih baik...” begitu kira-kira Ceu Adah sering menasihatiku...aku pun sering menangis dalam hati, ”...kalau cuma akan menjadi penjaja rokok, kenapa harus capek-capek belajar di pesantren...” begitu keluhku. Tapi sudahlah, aku anggap ini hanya batu loncatan saja, mungkin lebih baik aku jalani saja hidup ini bagai air yang mengalir...

Syukurlah, dengan menjadi pedagang asongan, aku punya penghasilan sendiri, mau tahu berapa? Setiap hari aku berhasil mengumpulkan uang rata-rata Rp. 10.000,- atau paling banyak Rp 15.000,-, tapi karena modalnya milik Kakakku, penghasilan bersihku hanya 10%, jadi sekitar Rp 1000,- sampai Rp 1.500,- saja setiap harinya. Pelan-pelan aku simpan uang itu di tabungan, tentu saja tidak disimpan di Bank, karena terlalu kecil, Ceu Adah lah yang mengatur dan menyimpannya.

Atas saran A Ihin, untuk menambah penghasilan, aku pun menjajakan permen ke warung-warung di sekitar tempat tinggal, aku simpan beberapa bungkus, minggu berikutnya aku tengok lagi, dan pemilik warung membayar permen yang terjual...lumayan juga, yang penting aku bisa berbangga karena punya penghasilan sendiri...

Nasibku saat itu jauh lebih baik dari Mang Kiman, kawan yang senasib menjadi pedagang asongan, sialnya, suatu hari ketika sedang berwudlu untuk shalat Zuhur di Kebayoran Lama, gendongannya dicuri orang, sungguh keterlaluan si Pencuri! orang susah kok dibikin masih susah....

Aku tak akan lupa, awal tahun 1989, melalui usaha A Ihin pula, aku mendapat informasi di koran tentang lowongan kerja di sebuah Penerbit buku, Kalam Mulia. Posisi yang dibutuhkan adalah sebagai editor bahasa Arab. Aku pun memberanikan diri melamar dan ikut tes, bersaing dengan beberapa mahasiswa IAIN Ciputat dan Insitut Ilmu Al-Quran (IIQ). Alhamdulillah, hanya aku yang lulus! Aku pun sangat berbangga, kali ini aku berfikir, ”...ah, ternyata tidak sia-sia bertahun-tahun mesantren, kemampuanku tidak kalah dibanding mahasiswa...”.



Bulan berikutnya aku pun ”naik pangkat”, dari seorang pedagang asongan menjadi editor bahasa Arab dan karyawan kantoran. Lumayan, kalau biasanya penghasilanku Rp 1.000,- per hari, atau sekitar Rp 30.000,- per bulan; kini aku mendapat gaji Rp 80.000,- per bulan, plus uang makan Rp 2000,- per hari, ditambah pula fasilitas penginapan di Mess Perusahaan. Aku bersyukur dan menikmati sekali dengan pekerjaanku kali ini karena aku merasa lebih bisa memanfaatkan hasil jerih payahku belajar ilmu bahasa Arab di pesantren selama bertahun-tahun. Tugasku saat itu adalah menjadi ”palang pintu” semua buku, termasuk kitab suci Al-Quran, yang akan dicetak. Aku harus memeriksanya kalau-kalau ada teks bahasa Arab yang salah tulis, baik huruf maupun harakatnya...

Bapak dan Mimih pun pernah menyempatkan diri mampir di Messku pada tahun 1989 itu. Mereka yang dulu tidak terlalu rela melepasku ke Jakarta karena meninggalkan tugas pengajian di Kampung, kini bisa mulai berbangga melihat apa yang aku peroleh...belakangan, aku juga bisa menghubungkan A Dudung yang rajin menulis dengan pihak Penerbit yang kebetulan bersedia menerbitkan karya-karyanya.

Pada masa ini pula aku berhutang budi pada keluarga Ceu Ai dan Kang Nazaruddin, karena aku juga sempat numpang di rumahnya beberapa waktu sebelum aku mendapat fasilitas Mess dari Perusahaan. Ceu Ai dan Akang banyak memberiku motivasi agar bisa bertahan dan terus mengembangkan potensi di Jakarta. Ceu Ai dan Akang sedemikian sabar menampungku meski rumahnya tidak terlalu besar. Sayang, beberapa waktu setelah aku pindah ke Mess, rumah ini malah hangus dalam suatu peristiwa kebakaran, meski tidak ada jiwa yang hilang...nuhun Ceu, nuhun Kang...

Meski aktivitas, penghasilan, dan status sosialku sudah lebih baik, aku tidak pernah berhenti memimpikan menjadi mahasiswa. Selama setahun lebih aku berusaha menyisihkan uang untuk biaya masuk kuliah, karena tahun depan, 1990, tidak ada pilihan lain kecuali harus masuk kuliah, kalau tidak, hanguslah ijazahku...

Usahaku tidak sia-sia, aku berhasil mengumpulkan uang ratusan ribu rupiah, dan cukup untuk membayar biaya pendaftaran kuliah ke IAIN Ciputat, aku lupa jumlah persis biayanya berapa..., aku bahkan bisa membeli sebuah sepeda motor tua, Honda CB seharga Rp 200.000,-, lumayan untuk mobilitas di Jakarta. Saat itu A Uud yang mencarikan motornya di Kuningan. Murah memang, karena surat-suratnya juga sudah mati, alias tidak berlaku lagi! Aku berani membelinya karena Kang Nazarudin bekerja di Polda Metro Jaya dan biasa mengurus surat-surat kendaran bermotor...

Juni 1990, aku terdaftar sebagai peserta tes masuk IAIN Ciputat, senengnya bukan main, meski baru mau tes saja...Malangnya, jalan yang harus aku lalui untuk sekedar ikut tes masuk pun rupanya harus terjal...!. Detik-detik terakhir menjelang waktunya tes, aku mendapat mengalami persitiwa yang nyaris memupuskan semua harapan dan cita-citaku untuk menjadi mahasiswa. Aku ingat, hari itu Rabu sore, aku masih pulang kerja dari Penerbit dan pulang langsung ke Ciputat, aku pun sudah minta izin ke pimpinan Perusahaan untuk tidak masuk kerja keesokan harinya. Saat itu, Aep, keponakanku, sudah duluan menjadi mahasiswa di Fakultas Tarbiyah (Pendidikan), aku pun biasa numpang di tempat kostnya. Malam itu, rencananya aku mau mempelajari bekas soal-soal ujian masuk tahun sebelumnya, sebagai persiapan tes besok hari.

Hanya saja, sore itu ceritanya menjadi lain karena Aep tidak ada di tempat. Celakanya, aku menitipkan Kartu Tanda Ujian di Aep, dan setahuku Kartu itu disimpan di buku agendanya. Menurut kawan sekamarnya, Alfan, Aep sedang ikut camping Pramuka di Cipatuguran Sukabumi, dan buku agenda itu pasti dibawanya. Gile, pikirku...! tidak ada pesan apapun dari Aep, apakah Kartu itu dititipkan atau disimpan di suatu tempat lain. Harap maklum, saat itu belum ada teknologi Hand Phone, sehingga belum bisa kontak melalui pesan singkat (SMS) seperti sekarang...Aku juga tidak tahu dimana itu yang namanya Cipatuguran? Kawan Aep pun sama-sama tidak tahu...

Sampai jam 20.00 aku masih mencoba mencari jalan keluar; aku memang menyimpan salinan Kartu itu, aku pun coba menemui saudara sepepu, Ayi Ade dan Ayi Didin, yang saat itu sudah menjadi dosen di IAIN dan Ayi Ade bahkan menjadi anggota panitia ujian masuk. Harapanku, besok hari, panitia memperbolehkan aku mengikuti ujian masuk dengan membawa salinan Kartunya...Malang nasibku, aku hidup di Indonesia, negara yang sistemnya seringkali lebih cenderung mempersulit daripada mempermudah urusan...! usahaku pun terbentur sistem yang dibuat itu...ah, agak emosional aku waktu itu!

Jam 21.00, aku pun memutuskan mencari dimana itu yang namanya Cipatuguran? Beruntung Alfan berbaik hati menemaniku berboncengan di Motor Honda CB bututku. Awalnya aku sempat ragu, karena sebetulnya hampir dua hari sekali Motorku suka ngadat, kadang-kadang rantainya putus, maklum Motor tua! Tapi aku tidak punya pilihan lain, kuisi tangki bensinnya sampai penuh, karena aku tidak akan tahu seberapa jauh perjalanan malamku ini...

Singkat cerita, setelah bertanya puluhan kali, aku pun nyampe di tempat yang disebut Cipatuguran, Sukabumi itu. Aku tidak tahu berapa kilometer jarak yang telah aku tempuh, yang jelas, dengan kecepatan kira-kira 50 km per jam, aku tiba di Cipatuguran jam 02.00 dinihari! Aku pun nekat mengetuk pintu sebuah rumah yang ada tulisan ”Ketua RT” untuk menanyakan apakah ada rombongan anggota Pramuka yang sedang camping di daerah ini...Beruntung, Pak RT berbaik hati untuk mengantarkanku ke lokasinya yang ternyata di pinggir pantai.

Aku pun membangunkan Aep yang saat itu sedang tertidur lelap...”dimana Kartu Ujian Masuk yang aku titipkan? Besok aku membutuhkannya” ujarku. Aep malah terkaget-kaget, mungkin karena baru bangun tidur, atau karena lupa pernah dititipin Kartu itu. Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadarannya, barulah Aep bilang: ”...waduh, Kartu itu aku pindahkan ke buku lain, kalau tidak salah buku Fiqh”...Alamaak! ternyata kartu itu tidak ada di Cipatuguran...aku pun tidak membuang-buang waktu di tempat itu, aku segera bergegas kembali pulang, mengingat waktu tempuh Cipatuguran-Ciputat yang sekitar 5 jam. Aku harus sudah ada di Ciputat sebelum jam 7 pagi...

Motor CB aku pacu secepat mungkin, meski mata mengantuk luar biasa...di sebuah persimpangan aku menabrak pinggir tebing akibat kantuk yang tak tertahankan! Beruntung hanya tali kopling Motorku yang putus...aku pun memutuskan istirahat sejenak sambil minum kopi di sebuah warung di pinggir jalan; setelah itu, aku kembali memacu Motorku, kali ini tanpa tali kopling! bayangkan saja betapa susahnya aku mengendarai motor dengan perseneling manual tanpa tali kopling....setiap habis berhenti dan mulai jalan, aku turun, lalu aku dorong sambil memasukkan perseneling ke gigi dua, dan setelah bunyi, aku dan Alfan pun loncat ke atasnya.....bak di filem saja!

Jam 6.00 pagi aku tiba di Ciputat, pas bensin motorku habis, aku pun menuntunnya ke pom bensin terdekat...tiba di tempat kost, aku tidak segera mencari buku yang disebut oleh Aep itu, karena aku muntah-muntah dan tidak enak badan, mungkin masuk angin, lagi pula aku pikir bukunya sudah pasti ada, dan kartunya pasti terselip di situ...Ternyata dugaanku meleset, bukunya memang ada, tapi tidak ada Kartu di dalamnya! Badanku lemas, nyaris pupus harapanku, jam sudah menunjukkan angka 7! Atas saran Alfan, aku memutuskan membongkar semua buku-buku Aep di lemarinya.....! akhirnya, kutemukan juga Kartu itu di buku yang lain...dasar si Aep!

Aku pun bergegas ke kampus, aku tidak bisa konsentrasi, mataku mengantuk berat, beruntung jadwal hari pertama ujian adalah bahasa Arab, bidang yang aku tekuni dan pelajari selama bertahun-tahun, jadi aku bisa mengerjakannya meski sambil sedikit mengantuk..saat istirahat tiba, aku benar-benar tertidur di atas rumput lapangan kampus, mungkin aku akan kehilangan jadwal berikutnya dan tidak jadi mahasiswa jika bel tanda masuk kelas lagi tidak membangunkanku...!

Alhamdulillah, singkat cerita aku dinyatakan lulus dan resmi menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Adab IAIN (kini namanya UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Aku pun secara resmi mengundurkan diri dari Penerbit Kalam Mulia, meski pada masa-masa awal masih nyambi mengerjakan ”proyek” lay out dan mounting buku-buku yang akan diterbitkan, atau menjualkan buku-buku terbitannnya ke toko-toko, sekedar menyambung penghasilan bulanan sebelum ada sumber penghasilan lain...

Saterasna....

KULIAH, BERPRESTASI, DAN BERDIKARI...

Salajengna......