February 13, 2013
Annisa dan "Angkot" di Tokyo
Anisa pergi selamanya, Uda Azwar dan Uni Eli Helviza di Bukittinggi, Sumatra Barat berduka ditinggal anak sulung yang dicintainya, Fakultas Kedokteran Ilmu Keperawatan (FKIK) Universitas Indonesia (UI) kehilangan salah seorang mahasiswinya yang cerdas, dan Indonesia pun menangis kehilangan salah satu bibit generasi muda potensial, akibat sistim jaminan sosial dan keamanan yang belum berpihak kepada warganya.
Anisa mustahil bisa loncat dari angkutan umum andai saja ia tinggal di Tokyo! Sistim keamanan di Kota ini mungkin menganut prinsip “nanti bagaimana” (Sunda: engke kumaha?), bukan “bagaimana nanti” (Sunda: kumaha engke). Semuanya disiapkan dan diterapkan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, bukan baru difikirkan dan ramai dibicarakan ketika kecelakaan sudah terjadi.
Saya tinggal di sebuah kota kecil, Fuchu di Tokyo; beberapa kali saya juga naik Chu-Bus, semacam angkutan kota unit terkecil dari stasiun Tama ke pusat kota Fuchu. Pintu masuk dan keluar penumpang hanya terbuka jika Chu-Bus berhenti di halte yang sudah ditentukan, bukan di sembarang tempat seperti halnya angkot di negeri kita. Jadi, penumpang gila sekalipun hampir mustahil loncat ketika bus berjalan, kecuali kalau ia pecahin kaca dan benar-benar gila!
Ongkos Chu-Bus dibayarkan ketika penumpang naik, dan tidak mengganggu konsentrasi supir karena cukup dimasukkan ke dalam kotak yang sudah disediakan, Bus pun sedang berhenti ketika penumpang masih proses membayar. Untuk bus-bus yang lebih besar, pembayaran bisa dilakukan menggunakan Kartu Pasmo, semacam e-money yang berfungsi sebagai alat pembayaran multifungsi; tinggal tempel, langsung duduk! Tarifnya sudah jelas, tidak mungkin terjadi sopir beradu mulut dengan penumpang yang iseng membayar ongkos sedikit lebih murah!
Prinsip kemanan lain yang dianut angkutan kota di sini adalah: semakin besar kemungkinan terjadinya risiko kecelakaan, semakin tinggi pula sistim keamanan ditingkatkan!
Untuk angkutan bus jarak jauh seperti Airport Limousine menuju Bandara Narita misalnya, kursi penumpang dilengkapi dengan sealt belt layaknya dalam pesawat terbang! Sebelum berangkat, sang sopir akan mengingatkan penumpang melalui mikrofon yang standby dalam balutan seragamnya, agar semua penumpang mengenakan seat belt, untuk jaga-jaga “nanti bagaimana” kalau terjadi kecelakaan. O ya, sopir Chu-Bus di kota kecil pun mengenakan seragam dan topi kehormatan, sehingga tidak punya tampang akan berbuat tidak senonoh kepada penumpangnya!
Prinsip keamanan preventif tentu saja bukan hanya milik angkutan kota di Tokyo atau kota-kota lain di Jepang, tapi juga diterapkan di banyak Negara maju yang sudah “beradab” dan sangat menghargai arti sebuah nyawa.
Sayang, Anisa tinggal di sebuah kota yang sebagian warganya masih was-was dengan kejahatan dan kriminalitas, yang keamanannya belum terjamin ketika menggunakan angkutan umum, yang nyawanya tidak menjadi prioritas ketika Rumah Sakit tidak menerima uang muka!
Pantas saja istri saya di Jakarta sering was-was kalau anak kami naik angkot dan belum pulang pada jam yang diperkirakan! Pantas saja orang tua di negeri ini sering over-protective terhadap anak gadisnya karena sering menjadi korban rusaknya sistim sosial!
Tapi saya masih optimis dan menaruh harapan, ke depan, Indonesia akan menjadi lebih baik, angkutan umum seperti Busway di Jakarta adalah contohnya, Metromini dan Kopaja kini pun sudah mulai digiring paksa untuk memiliki sistim pintu seperti TransJakarta. Kelak, pasti tidak akan ada lagi pintu pelintasan kereta yang tidak ditutup saat gerbong kereta lewat, dan tidak ada lagi lampu merah yang diterobos! Annisa sudah mengingatkan kita semua.
Selamat jalan Anisa, semoga pengorbanan itu tidak sia-sia, dan menjadi awal pembenahan keseluruhan sistim sosial di Negara yang kita cintai bersama. Simpati saya dan keluarga untuk Uda Azwar dan Uni Eli, semoga keluarga ikhlas meski terpaksa.
Fuchu, 13 Februari 2013 Salajengna......
Posted by
Oman Fathurahman
at
2/13/2013 07:50:00 PM
0
comments
Labels: Dongeng Si Encep, Refleksi, Travelling
February 6, 2013
Salju di Fuchu, Tokyo
Sayang, tidak seperti pengalaman dulu waktu tinggal di Bonn, Jerman, istri dan anak-anakku tidak ikut bersamaku di Jepang, mereka malah sedang berkutat dengan hujan, banjir, dan masalah kemacetan di Jakarta.
Hari ini pula, sudah hampir 5 bulan aku tinggal di Tokyo. Harusnya hari ini adalah jadwal kursus bahasa Jepang bersama Taira-sensei, tapi malam tadi dia kirim email, ini isinya:
こんばんは、 Omanさん ! あしたは ゆきが ふるでしょう。 It is supposed to snow tomorrow. If it is snow tomorrow, I can't come to see you. In that case , I will inform you again. さようなら たいら
Begitulah, bagian dari pelajaranku yang paling mendasar adalah menulis email dalam aksara Hiragana. Mungkin karena Taira-sensei tahu bahwa bahasa Jepangku sangat pas-pasan, ia sering menggabungkannya dengan bahasa Inggris.
Aku pun bekerja seperti biasa, masuk kantor jam 9 pagi, pulang jam 7 malam….., di sini tempatku "bersemedi". Penulisan hasil risetku masih terlalu banyak, harus aku selesaikan sampai siap terbit sebelum 31 Juli nanti. Salajengna......
Posted by
Oman Fathurahman
at
2/06/2013 07:35:00 PM
0
comments
Labels: Dongeng Si Encep, Travelling
August 7, 2007
Hamburg: Model Lain Kota di Jerman
Foto: Landungsbrücken
Di penghujung liburan sekolah anak-anak, bersyukur aku dan keluarga masih dapat menikmati indahnya Hamburg, Kota terbesar kedua setelah Berlin. Ini berkat Kang Ahya yang merekomendasikan kami bersilaturahmi ke Keluarga Mas Prio dan Mbak Ninoek di Kota Pelabuhan itu.
Dibanding kota-kota lain di Jerman yang pernah kami kunjungi, Hamburg kayaknya punya kesan unik tersendiri. Kota ini tampak sangat metropolis berkat Pelabuhan tuanya yang sangat terkenal, Landungsbruecken. Di Kota ini pula untuk pertama kalinya kami ketemu Toko dan Restoran Indonesia, “Cita Rasa”, yang memang katanya cuma satu-satunya di Jerman. Hamburg juga punya Doner unik yang belum pernah kami temukan di kota-kota lain di Jerman.
Kami mengawali perjalanan hari pertama di jantung Kota tempat berdirinya gedung Rathaus, tentunya setelah istirahat sejenak di rumah kawan baru kami, Mas Prio dan Mbak Ninoek.
Setiap memandang gedung-gedung tua di kota-kota di Jerman, aku sering termenung, betapa Negeri ini pandai merawat dan merajut sejarahnya. Rathaus yang tampak megah ini konon pertama kali dibangun pada 1189. Pernah hancur pada 1842, Rathaus Hamburg mengalami restorasi pada 1886, dan akhirnya diresmikan pada 1887.
Seperti biasa kalau lagi berkunjung ke sebuah kota, sore itu kami ingin sekali menunggu saat matahari terbenam, sehingga bisa menikmati kelap-kelipnya lampu Rathaus, plus shot foto sunset di Alster. Sayangnya, hujan kembali turun, kami pun terpaksa pulang tergesa-gesa.
Kekecewaan di hari pertama sungguh tergantikan keesokan harinya, karena cuaca begitu cerah, dan Mas Prio, yang ternyata seorang fotografer handal ini, dengan sangat telaten menunjukkan lokasi-lokasi mana saja yang patut dikunjungi dan indah untuk berfoto.
Landungsbruecken adalah tujuan kami berikutnya. Dermaga ini menghubungkan para pengunjung ke kota-kota lainnya seperti Finkenwerder, Oevelgoenne, dan Blankenesse menggunakan kapal Feri yang tiketnya menyatu dengan tiket Bus, U-Bahn, dan S-Bahn, suatu kemudahan yang baru di Kota ini kami menjumpainya.
Selesai wisata dengan Feri, kami mengunjungi Miniatur Wunderland, sebuah objek wisata yang menghadirkan “the largest model railway in the world”. Tentu saja anak-anak kami begitu antusias, maklum selama di Jerman ini, salah satu ‘hobi’ mereka, khususnya Jiddane, adalah melihat kereta api lewat, dan tentu saja menaikinya.
Akhirnya, prejalanan hari kedua berakhir seiring dengan terbenamnya matahari di Pelabuhan Elbe, sungguh pemandangan yang sangat indah, boleh lihat sebagian foto-foto Sunset ini di Album Flickr sebelah.
Hari terakhir adalah milik anak-anak, khususnya Fadli dan Alif. Mereka sangat menikmati beberapa jenis permainan, seperti Bom-Bom Car dan pesiar di “rumah hantu” di Arena Hamburger Dom, sebuah Festival terbesar Jerman Utara, yang setiap tahun diadakan pada April, Agustus, dan November.
Sebelum itu, kami juga sempat menikmati “Planten und Blumen”, sebuah lapangan luas yang sangat cocok sebagai tempat wisata keluarga. Rasanya baru di sini kami menjumpai Spielplatz besar dengan permainan basah-basahan yang sangat menggoda anak-anak. Sayangnya, sore itu kami sudah harus kembali ke Bonn, jadi anak-anak gak bisa menikmati permainan yang disediakan.
Akhirnya, sesaat sebelum naik kereta ICE ke Bonn, kami mencicipi Doner khas Hamburg yang lain daripada yang lain. Aku gak perlu cerita ramuannya deh (karena memang gak ngerti), yang jelas kalau di tempat lain satu potong Doner pun gak pernah habis kami makan (bukan karena gedenya, tapi kurang cocok rasanya), di Hamburg anak-anakku sanggup menghabiskan satu porsi masing-masing. Ah, apa karena mereka kelaparan yah? Mungkin juga dua-duanya. Tapi, sungguh deh, Doner Hamburg memang beda…..!
Mas Prio, Mbak Ninoek, dan ananda Alisha, makasih yah atas kemurahan hatinya menampung kami berlima, semoga suatu saat kami bisa membalas kebaikannya.
Posted by
Oman Fathurahman
at
8/07/2007 12:03:00 PM
0
comments
Labels: Travelling
July 11, 2007
Heidelberg dan Ketulusan seorang Kawan
Sejak pertengahan Juni lalu, anak-anakku libur sekolah, lumayan panjang liburannya, mereka baru akan masuk lagi pada awal Agustus nanti. Kalau tinggal di Indonesia, mungkin masa liburan ini tidak terlalu terasa membosankan bagi anak-anak, karena mereka bisa bermain dengan banyak kawan-kawannya, atau berenang bersama.
Liburan panjang di sini masalahnya menjadi lain, anak-anak lebih banyak tinggal di rumah, apalagi musim panas kali ini tidak seperti biasanya, udara tetep dingin, hujan pun turun hampir setiap hari, bikin malas keluar rumah! Tapi aku perlu memikirkan agenda supaya mereka tidak bosan tinggal di rumah. Kota Heidelberg menjadi salah satu pilihan kami untuk jalan-jalan pekan ini…
Kami beruntung punya kawan yang buaaik banget di Heidelberg, Mas Ken dan Teh Liza, dengan putri tunggalnya yang mungil, Nesa; di rumahnya kami sekeluarga menginap; meski di rumah tinggalnya hanya ada dua ruangan, buat tidur dan ruang utama, tapi kelapangan hati Mas Ken dan Teh Liza membuat suasana terasa begitu hangat; saat itu, bahkan bukan hanya kami berlima yang menjadi tamunya, plus dua anak yang “dititipkan” oleh dua kawan mereka berdua; jadi praktis ada sepuluh jiwa di rumah yang kayaknya tidak lebih dari 60 meter persegi itu. Sungguh sebuah ketulusan yang patut ditiru!
Seolah tahu kesukaan kami, Teh Liza dan Mas Ken menyambut kedatangan kami dengan masakan Bakso ramuan sendiri, karuan saja kami semangat melahapnya, maklum waktu di Indo biasa langganan Bakso Pak Kumis atau Bakso Atom di Ciputat, itung-itung obat kangen lah... Mas Ken memang pandai memasak, selain ngegiling Bakso, saat itu Mas Ken juga sedang membuat tempe dari kacang kedele, wah…nggak kebayang deh kita mah!
Heidelberg sungguh kota yang cantik! Schloss Heidelberg dengan Königstuhl, Molkenkur, dan Kastilnya yang tampak biasa-biasa saja pada siang hari, berubah berkelip dan bersinar menjelang sore dan malam hari; keindahannya semakin sempurna saat memandang Schloss dari kejauhan yang berpadu dengan kelap-kelipnya bangunan lain serta pantulan cahaya di sungai yang memanjang sepanjang kota. Beruntung Mas Ken dengan tulus mengantar kami jalan-jalan memutar Alte Brücke di malam hari…
Sayangnya, waktu kami terlalu terbatas, tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat menarik, salah satunya adalah Schloss Schwetzingen, tempat dimana terletak Masjid yang konon begitu indah di dalamnya. Ah, mungkin ini bisa jadi alasan untuk berkunjung lagi ke Heidelberg yang ternyata membuat kangen itu...
Rasanya, keindahan Heidelberg hanya bisa ditandingi oleh Salzburg, kotanya Mozart, sang legendaries musik klasik, di Austria. Sayang, kami sekeluarga baru sempat berkunjung ke Salzburg di siang hari, mungkin lain kali perlu jalan-jalan lagi.
Makasih Mas Ken dan Teh Liza, semoga ‘jamuan’ kemaren menjadi amal baik buat anda sekeluarga….amin.
Posted by
Oman Fathurahman
at
7/11/2007 04:31:00 AM
0
comments
Labels: Travelling
April 20, 2007
Pegunungan Alpen Yang Tak Terlupakan...
Pengalaman aku dan keluarga naek ke puncak Pegunungan Alpen sungguh tak akan terlupakan! Rasanya kami sudah dekat berada di atap langit nan biru, putih salju terhampar sejauh mata memandang, puluhan bukit dan gunung seperti ‘tunduk’ berada di bawah kaki-kaki kami.
Ini semua berkat Kang Ahya, kawan di München yang menjamu kami selama 5 hari mengisi liburan anak-anak, dan menunjukkan beberapa objek menarik yang patut dikunjungi, terima kasih, Kang!
Dua puluh satu tahun yang lalu (1986), aku juga pernah naik ke puncak gunung, ya, Gunung Galunggung di Tasikmalaya, bahkan dua kali aku turun ke dasar puncak Gunung yang meletus empat tahun sebelumnya itu. Saat itu aku adalah komandan Pramuka di Madrasah Aliyah (MAN) Cipasung, atau istilahnya, Pradana, juga pengalaman yang tidak pernah terlupakan.
Tapi, Gunung Galunggung dan Pegunungan Alpen tentu berbeda, terutama pemandangan di sekitarnya. Pun untuk sampai ke puncak tertingginya, Zugspitse, yang merupakan puncak gunung tertinggi di Jerman (hampir 3000 km), kita difasilitasi menaiki kereta bergerigi (karena rodanya harus kuat mencengkram jalan yang dilalui) dan kereta gantung.
Saat berada di atas kereta gantung kecil yang hanya muat beberapa puluh penumpang itulah kami hanya bias pasrah kepada Yang Kuasa; jika sesuatu terjadi dengan tali-tali yang dibuat oleh manusia itu, hampir bisa dipastikan maut akan menjemput semua penumpangnya, wallahu a’lam.
Selain ke Garmisch dan Zugspitze, pada hari yang lain kami juga mengunjungi beberapa tempat menarik di kota München. Salah satunya adalah Deutsches Museum yang sangat besar dan terkenal itu. Bukan hanya di München, hampir semua museum di Jerman rasanya tidak pernah membosankan, semuanya terorganisasi dengan baik, jauh dari kesan kusam, serem, atau membosankan. Jujur aku akui, Negara ini pandai memelihara khazanah budayanya, dan mengorganisasinya menjadi komoditi yang bisa ‘dijual’.
Anak-anakku begitu menyukai Deutsches Museum di München! Saking lamanya ‘bermain-main’ di sini, hari itu kami sampai tidak sempat mengunjungi objek lainnya. Sejak saat itulah, ketika kami kembali ke Bonn, kami menyempatkan mengunjungi beberapa museum yang banyak tersebar di Kota ini. Entahlah kalau sudah kembali ke Jakarta, apa anak-anak juga akan suka mengunjungi museum di sana? Lagi-lagi, wallahu a’lam.
Posted by
Oman Fathurahman
at
4/20/2007 07:50:00 PM
0
comments
Labels: Travelling

