Foto: Cologne Cathedral
Tiba-tiba aku ingat, Juni, satu tahun yang lalu, aku mulai tinggal di Bonn, cuma masih sendiri. The Humboldt Foundation baru memberiku kesempatan untuk menjemput keluarga setelah 2 bulan aku mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe Institut, Bonn, dan setelah aku memiliki tempat tinggal tetap yang dianggap memenuhi standar kelayakan untuk sebuah keluarga dengan tiga anak.
Kini, setelah satu tahun berlalu, banyak hal yang telah aku lihat dan aku pelajari dari masyarakat yang relatif menganut nilai-nilai atau budaya berbeda dengan Negeri asalku. Aku sering merenung dan membandingkan, sisi mana yang dari Negeri ini yang patut ditiru, dan sisi mana pula dari Negeriku yang patut aku banggakan.
Tapi, karena niatnya ‘mempelajari’, jadinya aku lebih sering mencari-cari sisi buruk mana yang perlu dibenahi di Negeriku, dan sisi baik mana yang bisa aku bawa pulang dari Negerinya para filsuf ini.
Jujur harus aku bilang, tata kehidupan bermasyarakat di sini jauh lebih teratur, tertib, dan lebih beradab. Hanya satu dua kali aku melihat penyebrang jalan yang menerobos lampu merah, itu pun biasanya karena ia terlihat terburu-buru mengejar jadwal kereta. Umumnya mereka akan menunggu lampu hijau menyala, meski tidak ada kendaraan yang lewat...
Hak-hak dan privasi seseorang pun demikian terjaga, karena setiap orang berusaha keras untuk menghargai dan tidak mengganggu privasi orang lain, karena hanya dengan cara itulah ia akan dihargai orang lain. Jangan harap juga anda bisa bertemu atau bertamu ke rumah orang lain tanpa bikin janji terlebih dahulu; dan jangan coba-coba anda ingkar janji, kalau tidak ingin seumur hidup dicela orang.
Jangankan dengan Negara sendiri, dibanding Negara tetangga di sini, Belanda, pun, penghargaan terhadap privasi orang di Jerman kayaknya jauh lebih baik. Aku ingat waktu menginap di Leiden beberapa waktu lalu, sampai jam 2 pagi tetangga sebelah masih ketawa-ketiwi dengan suara keras.
Di sini, anda boleh besuara keras sebelum jam 22.00 malam, setelah itu, jangan coba-coba kalau tidak ingin menerima pengaduan! Mungkin cuma waktu Piala Dunia 2006 saja Pemerintah Jerman membuat aturan yang memperbolehkan seseorang berteriak di atas jam 22.00 malam, maklum, sebagai Tuan Rumah, saat itu Jerman berhak untuk sering berpesta.
Kriminalitas? Kecelakaan? Tentu juga ada dan terjadi di sini, tapi kadarnya jelas jauh lebih rendah dibanding di Indonesia, apalagi kalau ukurannya Koran Pos Kota di Jakarta, wah…di sini jelas jauh lebih sempurna. Aku rasanya tidak pernah merasa perlu memegang erat dompetku saat naik angkutan umum, meski jalan di malam hari.
Padahal di Indonesia, aku ingat kawanku, Kang Fuad, yang tanga kanan dan kirinya pernah harus bergantian "melindungi" dompet kesayangannya di mikrolet, gara-gara orang di depannya maksa memberikan "pijat gratis", sementara penumpang di sampingnya, yang ternyata konconya, mulai merogoh-rogoh kantong celananya.
“Sedia payung sebelum hujan”, kayaknya pepatah itu sudah secara diterapkan mendekati sempurna di sini, dalam segala urusan, mulai dari anak-anak yang harus mengenakan safety belt tersendiri kalau naik mobil, harus mengenakan helm kalau naik sepeda, dan yang pasti wajib membayar asuransi, baik asuransi kesehatan maupun jiwa.
Ah, masih banyak yang aku pelajari di sini.
July 13, 2007
Satu Tahun yang lalu...
Posted by
Oman Fathurahman
at
7/13/2007 03:33:00 AM
0
comments
Labels: Refleksi
July 11, 2007
Heidelberg dan Ketulusan seorang Kawan
Sejak pertengahan Juni lalu, anak-anakku libur sekolah, lumayan panjang liburannya, mereka baru akan masuk lagi pada awal Agustus nanti. Kalau tinggal di Indonesia, mungkin masa liburan ini tidak terlalu terasa membosankan bagi anak-anak, karena mereka bisa bermain dengan banyak kawan-kawannya, atau berenang bersama.
Liburan panjang di sini masalahnya menjadi lain, anak-anak lebih banyak tinggal di rumah, apalagi musim panas kali ini tidak seperti biasanya, udara tetep dingin, hujan pun turun hampir setiap hari, bikin malas keluar rumah! Tapi aku perlu memikirkan agenda supaya mereka tidak bosan tinggal di rumah. Kota Heidelberg menjadi salah satu pilihan kami untuk jalan-jalan pekan ini…
Kami beruntung punya kawan yang buaaik banget di Heidelberg, Mas Ken dan Teh Liza, dengan putri tunggalnya yang mungil, Nesa; di rumahnya kami sekeluarga menginap; meski di rumah tinggalnya hanya ada dua ruangan, buat tidur dan ruang utama, tapi kelapangan hati Mas Ken dan Teh Liza membuat suasana terasa begitu hangat; saat itu, bahkan bukan hanya kami berlima yang menjadi tamunya, plus dua anak yang “dititipkan” oleh dua kawan mereka berdua; jadi praktis ada sepuluh jiwa di rumah yang kayaknya tidak lebih dari 60 meter persegi itu. Sungguh sebuah ketulusan yang patut ditiru!
Seolah tahu kesukaan kami, Teh Liza dan Mas Ken menyambut kedatangan kami dengan masakan Bakso ramuan sendiri, karuan saja kami semangat melahapnya, maklum waktu di Indo biasa langganan Bakso Pak Kumis atau Bakso Atom di Ciputat, itung-itung obat kangen lah... Mas Ken memang pandai memasak, selain ngegiling Bakso, saat itu Mas Ken juga sedang membuat tempe dari kacang kedele, wah…nggak kebayang deh kita mah!
Heidelberg sungguh kota yang cantik! Schloss Heidelberg dengan Königstuhl, Molkenkur, dan Kastilnya yang tampak biasa-biasa saja pada siang hari, berubah berkelip dan bersinar menjelang sore dan malam hari; keindahannya semakin sempurna saat memandang Schloss dari kejauhan yang berpadu dengan kelap-kelipnya bangunan lain serta pantulan cahaya di sungai yang memanjang sepanjang kota. Beruntung Mas Ken dengan tulus mengantar kami jalan-jalan memutar Alte Brücke di malam hari…
Sayangnya, waktu kami terlalu terbatas, tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat menarik, salah satunya adalah Schloss Schwetzingen, tempat dimana terletak Masjid yang konon begitu indah di dalamnya. Ah, mungkin ini bisa jadi alasan untuk berkunjung lagi ke Heidelberg yang ternyata membuat kangen itu...
Rasanya, keindahan Heidelberg hanya bisa ditandingi oleh Salzburg, kotanya Mozart, sang legendaries musik klasik, di Austria. Sayang, kami sekeluarga baru sempat berkunjung ke Salzburg di siang hari, mungkin lain kali perlu jalan-jalan lagi.
Makasih Mas Ken dan Teh Liza, semoga ‘jamuan’ kemaren menjadi amal baik buat anda sekeluarga….amin.
Posted by
Oman Fathurahman
at
7/11/2007 04:31:00 AM
0
comments
Labels: Travelling
July 4, 2007
Berita itu pun akhirnya tiba....!
Foto: The Reichstag, Berlin
Sore itu, jam 15.30 waktu sini, berita itu pun tiba…! The Alexander von Humboldt Foundation akhirnya menyetujui perpanjangan fellowship penelitianku di Jerman untuk sembilan bulan ke depan. Itu artinya kerinduan kami ke tanah air baru akan terpenuhi pada April 2008 mendatang.
Pengen sih pulang, udah kangen juga sama jajanan-jajanan khas Indonesia yang tidak pernah ditemui di sini, apalagi di Ciputat ada yang namanya baso BBS, pecel lele, indomie rebus, wah….! Jangankan para pedagang kaki lima, yang jualan koran, rokok, atau minuman ringan pun di sini Cuma seonggok mesin, tinggal masukin koin uang, keluarlah barang yang kita mau….
Cuma aku harus berfikir realistis juga, untuk menyelesaikan riset yang sudah lebih dari separuh jalan ini, aku butuh sarana dan prasarana yang mendukung, terutama waktu, ketersediaan bahan bacaan, dan koneksi internet yang tak terbatas. Ini jelas masih susah ditemui di Indonesia! waktu kita juga sering kali habis untuk memikirkan bagaimana mencari aktivitas tambahan supaya penghasilan tidak pas-pasan; begitu pula koneksi internet yang masih menjadi barang mewah, meski sekarang konon harganya sudah jauh lebih murah daripada sebelumnya, padahal fasilitas internet ini menjadi pendukung yang luar biasa untuk kegiatan riset, apapun subjeknya.
Di sini, aku bisa duduk tanpa memikirkan apapun selain risetku, dan semua kebutuhanku, yang primer maupun yang sekunder, sudah dipenuhi oleh Humboldt. Aku sering merasa iri kalau ingat Negeri sendiri yang belum bisa mensejahterakan rakyatnya, dan perputaran uang hanya terjadi pada kelompok-kelompok tertentu saja.
Dalam batin aku sering bergumam dan mengucap terima kasih kepada Yayasan Humboldt atas dukungan penuh terhadap aktivitas risetku. Terima kasih juga Pak Edwin, professor yang dengan sangat baik hati menjadi academic host ku selama di Jerman.
Posted by
Oman Fathurahman
at
7/04/2007 05:13:00 AM
0
comments
Labels: Pernak-pernik