May 22, 2012

Dari Asongan ke Manuskrip

cita-cita awal si Encep....
Rubrik Persona, Kompas, Minggu, 20 Mei 2012.
Konten dikutip dari: [I:Boekoe].
---------------
Oman Fathurahman tidak pernah merancang hidupnya. Namun, sejak remaja dia memelihara cita-cita: suatu ketika bisa jadi mahasiswa. Lewat jalan berliku–termasuk jadi pedagang asongan–Oman melampaui cita-citanya.
”Cita-cita saya bertahap karena harus mengukur diri,” ujar laki-laki asal Kuningan, Jawa Barat, yang menghabiskan masa remaja di lingkungan Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.
Oman bukan berasal dari keluarga berada. Ketika diterima di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, melalui jalur PMDK, orangtua Oman, KH M Harun dan Sukesih, tidak sanggup membiayainya. Oman kemudian dikirim ke Pesantren Haurkuning, Tasikmalaya, untuk belajar tata bahasa Arab.

Dengan setengah hati, Oman belajar di Haurkuning. Setahun di sana, Oman pamit pada kiai dan kembali ke rumah. ”Saya minta izin lagi ke orangtua untuk kuliah. Tapi tidak diizinkan. Saya malah dimasukkan ke pesantren tauhid di Manonjaya, Tasikmalaya.”

Seminggu di sana, Oman menunjukkan prestasi. Dia juara pidato seasrama dan sepesantren. Dia dielu-elukan, diberi hadiah makan gratis. Namun, Oman justru galau. ”Kalau begini terus saya enggak akan kuliah.”

Akhir 1980-an, Oman kabur ke Jakarta mencari uang. Usianya baru 19 tahun ketika dia merasakan kerasnya hidup di Jakarta. Setiap hari Oman jalan kaki dari rumah sepupunya di Kebayoran Lama–tempat dia menumpang hidup–ke bioskop Djakarta Theater, di sekitar kawasan Sarinah, Jakarta, untuk mengasong. Hasil bersih yang didapat Oman hanya Rp 1.000 per hari. ”Saya nangis beberapa kali. Kok jadi tukang asongan. Bagaimana bisa ngumpulkan uang untuk biaya kuliah.”

Enam bulan kemudian, Oman membaca iklan yang mencari editor bahasa Arab. Oman melamar dan berhasil mendapatkan pekerjaan itu. ”Gajinya Rp 80.000, dan saya bisa tinggal di asrama perusahaan di Roxy.”
Nasibnya membaik. Oman bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Tahun 1990, dia akhirnya kuliah di Jurusan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. ”Nyatanya, setelah lulus saya jadi pengangguran.”
Saat itulah, Profesor Nabila Lubis, dosen filologi pertama UIN, Jakarta, meminta bantuan Oman mengedit suntingan manuskrip berbahasa Arab dengan terjemahan beraksara Jawa. ”Saya ambil tawaran itu karena ada duitnya. Ternyata tidak terlalu sulit. Saya hanya memberi komentar pada terjemahan yang salah. Rupanya itulah pekerjaan filolog.”
Sejak saat itu, Oman berkenalan dengan filologi. Dia lebih jauh mengarungi rimba filologi setelah mendapat beasiswa S-2 dan S-3 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Begitulah, jalannya di dunia filologi lumayan mulus sebab sejak di pesantren Oman terbiasa membaca kitab tua. ”Cuma waktu itu enggak ada yang bilang kalau itu manuskrip.”
Setelah sukses menjadi filolog dengan spesialisasi naskah Islam Indonesia, Oman membangun satu lagi obsesi: menyebarkan kajian manuskrip ke pesantren. ”Kalau itu sudah dilakukan, puaslah hidup saya.” (BSW/AIK)

Salajengna......

Oman Fathurahman Pengembara Di Jagat Manuskrip

Kompas/Wawan H Prabowo
Rubrik Persona, Kompas, Minggu 20 Mei 2012.
Konten dikutip dari: [I:Boekoe].
---------------

Pascabencana gempa dan tsunami Aceh, ribuan orang berdatangan memberi bantuan kemanusiaan. Oman Fathurahman (43) datang menyelamatkan kitab tua.
Oman tiba di Banda Aceh 20 hari pascatsunami yang terjadi 26 Desember 2004 pagi. Ketika itu kota sesak oleh ribuan orang yang membantu evakuasi korban. Ditemani rekannya, Hasnul Arifin Melayu, Oman bersepeda motor menembus lumpur, air, dan reruntuhan. Tujuan filolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu hanya satu: menyelamatkan naskah-naskah tua yang tersisa.
Selain menewaskan lebih dari 150.000 penduduk Aceh, tsunami juga menjarah banyak manuskrip kuno. Seratusan manuskrip koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang diidentifikasi Oman pada tahun 1999, misalnya, hilang tanpa bekas. Enam puluh manuskrip di Balai Kajian Sejarah Nilai Tradisional (BKSNT) dan mungkin ribuan naskah yang ada di tangan masyarakat juga lenyap.

Manuskrip sangat penting yang lenyap, antara lain, Bajan Tajalli karangan ulama Aceh Abdurrauf al-Sinkili, Qanun al Asyi atau Undang-Undang Aceh, dan kitab hadis pertama dalam bahasa Melayu karangan Nuruddin al-Raniri berjudul Hidayat al-habib fi al-targhib wa al-tarhib.

Dokumen rencana induk Kota Banda Aceh yang dibuat Belanda juga lenyap. ”Dokumen itu sebelum tsunami tidak diizinkan untuk digandakan sehingga tidak ada salinannya sama sekali. Kini, kita hanya bisa meratapi hilangnya dokumen berharga itu,” ujar Oman.

Mengapa memilih menyelamatkan manuskrip?

Pertanyaan itu sering saya terima. Saya berusaha memberi kontribusi sesuai kapasitas, yaitu menyelamatkan kekayaan intelektual. Di Jepang ada standar, upaya penyelamatan pascabencana tidak hanya ditujukan pada manusia, tapi juga benda cagar budaya.

Belakangan, urgensi penyelamatan data manuskrip bersejarah Aceh yang kami lakukan ternyata sangat penting dan berdampak pada rehabilitasi Aceh di bidang budaya. Orang baru sadar, selain jiwa, Aceh juga kehilangan banyak manuskrip penting.
Untungnya, kami punya data lapangan dan merekamnya dengan video. Data itu segera saya sebarkan ke sejumlah lembaga internasional untuk mencari bantuan dana rekonstruksi Aceh di bidang budaya. Responsnya bagus. Tahun 2005/2006, Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) membantu digitalisasi dan katalogisasi naskah koleksi Yayasan Ali Hasjmi di Banda Aceh dan naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee.
Tahun 2005/2006 Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, mendapat bantuan dari Prince Claus Fund untuk membangun gedung perpustakaan manuskrip. Tahun 2007-2009, Leipzig University di Jerman bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) melestarikan manuskrip Aceh di Museum Negeri Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, Zawiyah Tanoh Abee, dan beberapa koleksi pribadi lain.
Tafsir gempa
Kegigihan Oman menyelamatkan kitab-kitab kuno di Aceh secara tak sengaja menguak fakta penting lainnya. Tahun 2005, ketika mendokumentasikan manuskrip di Perpustakaan Ali Hasjmy, dia menemukan kitab Takbir Gempa. Kitab anonim yang ditulis dalam aksara Arab berbahasa Melayu itu memaparkan kejadian yang akan mengikuti gempa dalam rentang waktu dari subuh hingga tengah malam dalam 12 bulan.
Disebutkan, ”… Jika gempa pada bulan Rajab, pada waktu subuh, alamatnya segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika pada waktu duha, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri itu….”
Temuan itu menyentak Oman, juga dunia ilmu pengetahuan. Maklum, selama ini, catatan lokal tentang gempa dan tsunami dianggap tidak ada. Ternyata catatan itu ada, tetapi diabaikan. Selanjutnya, Oman berturut-turut menemukan catatan terkait gempa lainnya di daerah yang pernah dilanda gempa. Tahun 2006, Oman menemukan tulisan tangan di sampul sebuah manuskrip asal abad ke-19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang menyebutkan, pernah terjadi gempa besar untuk kedua kali pada pagi hari Kamis, 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah atau sekitar 3 November 1832.
Terakhir, tahun 2012, Oman menemukan naskah gempa versi Jawa di lingkungan Keraton Cirebon berjudul Kitab Lindu. ”Dalam bahasa Jawa, lindu itu berarti ’gempa’. Catatannya pendek dan hanya merupakan satu bab dari Kitab Tatamba yang arti sebenarnya berobat,” ujar Ketua Manassa itu.
Beberapa rekan Oman di Manassa juga menemukan kitab Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Sumatera Barat. Belakangan diketahui, naskah-naskah soal gempa juga tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta dan perpustakaan di Delft serta Leiden, Belanda.
Sejauh ini, lanjut Oman, naskah gempa yang telah ditemukan umumnya berisi takwil atau tafsir hikmah atas gempa. Tafsirnya selalu dua hal, yakni mengabarkan berita baik dan buruk. Berita baiknya (gempa) ditafsir sebagai tanda akan munculnya buah-buahan dan panen padi. Berita buruknya, gempa pada waktu tertentu ditafsir sebagai tanda akan datangnya bala atau musibah termasuk menimbulkan (gelombang) air yang besar.
Oman belum menemukan kitab gempa yang isinya terkait mitigasi. ”Kalau ada itu menarik sekali. Mungkin belum ditemukan saja mengingat data digital manuskrip yang telah terkumpul belum semuanya selesai dibaca.”
Bagaimanapun, penemuan yang baru sedikit itu cukup untuk membuktikan pentingnya pendokumentasian manuskrip kuno. Jika saja, naskah tentang gempa dan tsunami di Aceh terkuak lebih cepat, lanjut Oman, barangkali masyarakat Aceh bisa memetik pelajaran dari situ sehingga bisa lebih waspada.
Rimba pengetahuan
Meski telah menemukan beberapa kitab gempa, Oman tidak berniat memfokuskan diri di situ. Pasalnya, masih banyak pengetahuan berharga lainnya yang bisa dikorek dari manuskrip Nusantara. Oman memilih memasuki jagat manuskrip apa pun sedalam mungkin ketimbang berhenti di satu tema.
”Saya sekarang ingin membabat ilalangnya dulu. Soal meneliti detailnya itu belakangan dan sambil jalan, sebab semuanya penting,” ujar Oman yang melahap manuskrip berbahasa Arab, Jawi, Melayu, Sunda dengan aksara Arab.
Pengembaraan di rimba manuskrip membuka mata Oman tentang banyak hal. Salah satunya tentang posisi kultural-politik ulama kita di kawasan yang sekarang bernama ASEAN. Sejak dulu, kata Oman, wilayah yang kini bernama Indonesia menjadi rujukan pengetahuan regional. Ini bisa terlihat dari jaringan ulama di masa lalu.
”Mungkin Anda tahu disertasinya Pak Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Jakarta) yang memetakan jaringan ulama Nusantara. Filipina Selatan tadinya belum terhubungkan dengan Nusantara. Namun, manuskrip yang kami temukan di Mindanao menyebut, guru ulama Mindanao adalah Syeh Abdul Qahhar al-Bantani dari Banten.”
Berarti ada hubungan keilmuan antara Nusantara dan Mindanao. Temuan ini diperkuat dengan keberadaan naskah di Perpustakaan Nasional yang ditulis Abdul Majid Al-Mindanawi di Aceh zaman Mahmudsyah. ”Dugaan saya, ulama Mindanao itu belajar ke Aceh, kemudian menulis di sana, sekitar abad ke-19.”
Terakhir di Keraton Cirebon, ada naskah yang menyebutkan, Abdul Qahhar al-Bantani pernah menjadi guru bagi ulama tarekat Syattariah di Cirebon. ”Jaringannya bertambah lagi menjadi Aceh, Banten, Mindanao, Cirebon. Jadi, kita ini kurang apa dalam konteks peradaban. Itu, kan, hampir sama dengan Mekkah dan Madinah yang jadi rujukan negara-negara lain.”
Dengan mengkaji manuskrip, lanjut Oman, kita bisa merekonstruksi kejayaan Nusantara dan khazanah keilmuan nenek moyang kita. Sayangnya, ilmu filologi yang mengkaji manuskrip belum begitu populer di Indonesia sehingga kejayaan lama itu belum banyak terkuak.
Mengapa bisa begitu?
Kajian pernaskahan Nusantara sebenarnya dikembangkan sejak abad ke-19 oleh sarjana kolonial. Sayangnya, arahnya sebatas menerjemahkan dan menyunting teks sebab tujuan mereka adalah mempelajari bahasa. Sampai tahun 1980-an juga masih begitu.
Kalau pekerjaannya hanya menyunting, itu tidak menarik. filolog seperti juru masak. Ada naskah, ada teks, dia transkripsi, tugas selesai. Siapa pembacanya? Para sejarawan, yang mengonsumsinya untuk merekonstruksi sebuah konteks.
Ketika saya memperkuat kajian filologi di UIN awal 2000-an, saya tidak ingin filolog sebatas juru masak. Dia harus jadi penikmat dan pemberi konteks juga. Kalau Anda menemukan naskah gempa, jangan hanya berkata, ini nih naskah gempa. Lebih baik tulis lengkap dan berikan konteksnya. Jangan menganggap teks itu mati dan hanya bisa diterjemahkan. Teks itu bisa dibunyikan kalau diberi konteks.
Awalnya banyak yang menentang karena menganggap kegiatan filologi sebatas menyunting. Sekarang justru ada tren di perguruan tinggi agama Islam, tesis filologi diberi konteks.
Tuntutannya jadi multidisiplin, ya…
Benar, studinya jadi teks, interteks, hermeunetik, dan sebagainya. Filologi itu buat saya sekadar alat untuk masuk ke jagat manuskrip.

Salajengna......

August 5, 2011

Oman Fathurahman, Peneliti Manuskrip Kuno Islam di Indonesia

Berita terbit di: Indo Pos, 27 Juni 2011

Tak banyak ahli filologi (ilmu yang mempelajari manuskrip kuno) spesialis agama Islam. Salah seorang Indonesia yang menekuninya adalah Oman Fathurahman, dosen Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta. Bagaimana liku-likunya berburu naskah kuno Islam ke seluruh Nusantara? MOH. HILMI SETIAWAN, Jakarta

SUASANA di kompleks Kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, tampak lengang kemarin (26/7). Maklum, aktivitas perkuliahan sedang libur. Tapi, tidak demikian di gedung Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM). Di gedung berlantai tiga itu, beberapa peneliti sibuk membolak- balik buku yang menjadi bahan penelitian. Salah seorang yang tampak sibuk itu adalah Oman Fathurahman. Di ruang kerja ber ukuran sekitar 3 x 3 meter tersebut, dia terlihat serius mencermati manuskrip atau buku-buku kuno agama Islam.

Buku-buku itu sudah kumal. Ujung sampulnya tampak bergerigi tidak rata karena dimakan ngengat dan rayap. ’’Jika tidak hati-hati membukanya, bisa rusak dan semakin sulit dibaca,’’ ujar pria kelahiran Kuningan, 8 Agustus 1969, itu.

Manuskrip kuno yang diteliti Oman kemarin, antara lain, berasal dari Makassar, Minangkabau, dan Aceh. Rata-rata, manuskrip yang diteliti menggunakan bahasa Melayu dan ditulis dengan huruf Arab. Ada juga yang ditulis dengan huruf-huruf kuno daerah setempat. Misalnya, manuskrip keluaran Makassar yang masih menggunakan huruf Lontara.

Ayah Fadli Husnurrahman, 14; Alif Alfaini Rahman, 11; dan Jiddane Asykura Rahman, 7, itu menuturkan, dirinya tidak mengalami persoalan jika naskah-naskah kuno tersebut ditulis dalam bahasa Arab. Sebab, dirinya adalah lulusan Bahasa dan Sastra Arab UIN ’’Tapi, jika ditulis dengan huruf-huruf lokal yang tidak saya kuasai, saya perlu bantuan,’’ ungkap suami Husnayah al Hudayah tersebut.

Dalam kasus itu, dia harus meminta bantuan mahasiswa yang tersebar di penjuru tanah air. Oman merupakan ahli filologi spesialis naskah agama Islam di Indonesia. Karirnya sebagai peneliti dan dosen filologi datang begitu saja. Sama sekali tidak direncanakan. Dia mengungkapkan, selama kuliah S-1 di jurusan bahasa dan sastra Arab, tidak terbayang dirinya akan bergelut dalam dunia manuskrip kuno. Sebab, awalnya profesi tersebut benar- benar asing bagi dirinya.

Tapi, nasib berkata lain. Beberapa saat setelah diwisuda pada 1994, Oman ditawari salah seorang dosennya, Prof. Dr. Nabilah Lubis, untuk masuk menjadi tim penyusun sebuah buku di bawah pimpinan seorang sarjana Prancis, Prof. Dr. Henri Chambert-Loir. Waktu itu, dia mendapat tawaran untuk mentranskrip manuskrip kuno dari Makassar. Judul buku kuno itu adalah Zubdat al-Asrar karya Syekh Yusuf Al Makassari yang dibuat pada abad ke-17. Buku tersebut berbahasa Arab dengan terjemahan Pegon berbahasa Jawa.

Tugas Oman adalah menggubah tulisan buku yang berisi ajaran tasawuf Islam itu ke dalam huruf Latin. Awalnya, dia ogah bergabung dengan tim penyusun buku tersebut. Tapi, akhirnya dia luluh juga. Sebab, dirinya diiming-imingi bayaran yang cukup gede. ’’Bayarannya waktu itu dihitung setiap halaman,’’ ujar Oman. Sayangnya, dia enggan menyebutkan bayaran yang didapat. Oman hanya menyatakan, saat itu, buku yang dia transkrip setebal 60 halaman.

Keterlibatan Oman dalam mentranskrip manuskrip kuno tersebut menjadi titik awal karirnya. Dia lantas mendapat beasiswa dari Yayasan Naskah Nusantara dan EFEO (Ecole Francaise d’Extreme-Orient), lembaga donatur asal Prancis yang concern pada penelitian benda purbakala, untuk mendalami bidang filologi agama Islam.

Oman lantas meneruskan kuliah S-2 dan S-3 sastra di Universitas Indonesia (UI). Selama kuliah pascasarjana itu, kiprahnya di bidang filologi semakin moncer, bahkan sejak 2008 menjabat Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Oman mencatat, dirinya sudah meneliti sepuluh manuskrip kuno untuk dijadikan buku dan tugas akhir. Sampai saat ini, dia sudah mendigitalkan sekitar 10 ribu manuskrip kuno. Diperkirakan, butuh beberapa truk kontainer besar untuk mengangkut manuskrip-manuskrip kuno itu.

Tapi, secara teknis, Oman dan para mahasiswa serta pemerhati filologi yang tergabung dalam Manassa memiliki semacam kode etik dalam meneliti manuskrip kuno. ’’Aturan tegas, antara lain, tidak boleh membawa pulang manuskrip kuno itu,’’ tegas pria yang pernah nyantri di Ponpes Cipasung, dan Ponpes Haurkuning Salopa,
Tasikmalaya, tersebut. Oman menyebut aturan itu dengan istilah yang dia peroleh dari teman-temanya di Minangkabau, search and save. ’’Mencari dan menyelamatkan,’’ katanya. Caranya, mencari masyarakat yang menyimpan manuskrip-manuskrip kuno. Sampai saat ini, fokus garapan Oman lebih dominan pada manuskrip agama Islam dari Melayu. Setelah berhasil didapatkan, manuskrip itu difoto. Selanjutnya, naskah asli dibersihkan dan dimasukkan amplop, kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.

Manuskrip itu tidak sampai dibawa ke luar rumah sang pemilik. Yang dibawa ke Jakarta hanya hasil jepretannya. ’’Hasil jepretan itu sekaligus menjadi kunci penelitian manuskrip kuno,’’ paparnya. Selama menelusuri daerah-daerah di Indonesia yang kental dengan budaya Melayu untuk mencari manuskrip kuno, Oman menjumpai beragam pengalaman. Mulai dicurigai sebagai mata-mata luar negeri hingga kolektor gelap manuskrip kuno.

Dia mengakui, selama ini, banyak dijumpai tengkulak manuskrip kuno. ’’Itu sudah bukan rahasia,’’ ujarnya. Para kolektor tersebut rela merogoh kocek untuk membeli manuskrip bersejarah dari masyarakat, kemudian dijual lagi, biasanya ke luar Negeri. Jual-beli itu terjadi karena masyarakat butuh uang. Dia berharap Pemerintah lebih memperhatikan manuskrip-manuskrip tersebut.

Dia yakin, manuskrip itu merupakan bagian dari cagar budaya yang harus dilestarikan. ’’Sebagian besar manuskrip itu dimiliki masyarakat biasa,’’ terang Oman. Sebagian kecil lagi sudah masuk lemari museum-museum sejarah. Pengalaman yang mengesankan lainnya adalah budaya masyarakat yang memegang manuskrip itu.

Di beberapa tempat, manuskrip tersebut menjadi barang yang sakral, bahkan jimat. Suatu ketika, Oman beserta tim tertarik hunting manuskrip kuno di sebuah pusat perkembangan Melayu di Indonesia. Perjalanan lantas berujung pada sebuah penemuan manuskrip kuno yang sangat disakralkan pemiliknya. ’’Manuskrip itu dibungkus kain putih dan ditaburi bunga,’’ ucapnya lantas mewanti-wanti untuk tidak menyebutkan daerah asal manuskrip itu. Menurut sang pemilik, Oman harus menjalankan ritual khusus untuk membuka dan menjepret buku usang tersebut. Ritual yang harus dijalankan, Oman dan rekan-rekannya harus berpuasa tujuh hari.

Selain itu, harus ada penyembelihan kambing! Tidak ingin buruan yang sudah di depan mata lepas, akhirnya Oman dan rekan-rekannya bersedia memenuhi persyaratan tersebut. Setelah berpuasa dan menyembelih kambing, upacara pembukaan kain pembungkus naskah kuno itu pun dimulai. Ternyata, setelah dipelajari, manuskrip tersebut hanya berisi catatan utang sang raja setempat. ’’Ya akhirnya kami hanya membersihkan kembali. Setelah itu, pulang, cari buruan lain,’’ ujar Oman.

Dia menegaskan, pada beberapa manuskrip, meski ditulis dengan huruf Arab, tidak berarti isinya bermuatan ajaran agama Islam. Ada juga manuskrip-manuskrip yang berisi primbon serta ajaran-ajaran mistis yang ditulis dengan huruf Arab. Selain itu, media manuskrip tersebut beragam. Selain kertas, Oman pernah menemukan manuskrip yang ditulis di kayu, bambu, tulang hewan, serta kulit binatang.

Dengan mempelajari manuskrip-manuskrip kuno itu, dia bisa memetakan persebaran Islam di Indonesia. Khususnya di daerah-daerah basis budaya Melayu. Oman menuturkan, budaya peninggalan manuskrip itu mulai berkembang pada abad ke-17. Pada abad tersebut, rata-rata manuskrip agama Islam berisi ajaran tasawuf. ’’Ilmu ketauhidan menjadi dasar penyebaran Islam,’’ jelasnya. Menurut dia, Islam masuk ke Indonesia tidak didahului pengajaran hukum-hukum fikih seperti tata cara beribadah. Tidak juga mengajarkan urusan halal dan haram.

Menurut analisis Oman, aturan fikih serta halal dan haram bisa menghambat persebaran agama Islam jika menjadi prioritas utama saat itu. Sebab, di awal perkembangan Islam, penduduk masih kental dengan ajaran Hindu, Buddha, dan mistis lokal. Sebaliknya, lanjut Oman, Islam masuk dengan pengenalan ketauhidan.

’’Penanaman syahadat menjadi kunci utama,’’ katanya. Dengan cara itu, Islam masuk ke Indonesia tanpa diiringi pertempuran. Selanjutnya, memasuki abad ke-18 hingga ke-19, baru ditemukan manuskrip-manuskrip kuno yang berisi ajaran-ajaran fikih serta aturan halal dan haram. Menurut Oman, ajaran tersebut bisa diterapkan setelah penduduk menghayati konsep tauhid.

Saat ini, Oman tidak sendiri menjadi peneliti manuskrip kuno agama Islam. Sebab, dari perjuangannya merayu pemerintah, sejak 2010, di UIN Jakarta dibuka program pascasarjana konsentrasi filologi khusus karya-karya kuno agama Islam, atas beasiswa dari Puslitbang Lektur Keagamaan, Kementerian Agama. Dalam setiap angkatan, ada 12 mahasiswa yang belajar filologi. ’’Mereka semua mendapat beasiswa,’’ ujarnya.

Dengan perkembangan tersebut, dia berharap profesi filologi manuskrip kuno agama Islam tidak menjadi sesuatu yang langka di negeri ini. Dari perkembangan itu, Oman yakin khazanah keislaman tanah air bisa terjaga. (c5/nw)

Salajengna......