June 26, 2007

Menunggu, Kalau, dan Arab Gundul....

Menunggu, konon memang sangat tidak menyenangkan, apapun yang kita tunggu! Terutama sejak satu minggu lalu, aku menunggu keputusan dari The Alexander von Humboldt-Foundation, apakah usulanku untuk memperpanjang periode riset di Jerman diterima atau tidak.

Aku memang mengajukan usulan perpanjangan itu pada akhir April 2007 lalu, karena berdasarkan perkembangan selama periode pertama, penyelesaian riset ini tidak akan selesai sampai berakhirnya fellowship pada akhir Juli 2007.

Sejak aku mengajukan usulan perpanjangan itu, setiap hari, obrolanku bersama istri dan anak-anak selalu dimulai dengan kata “kalau”…”kalau diperpanjang, bla bla bla…………, dan kalau tidak, bla bla bla…………”.

Aku jadi ingat kata “lau” [لو] (yang artinya ya ‘kalau’ itu) yang sering aku temukan dalam kitab-kitab fikih berbahasa Arab semasa di pesantren dulu. Fikih memang penuh dengan pengandaian, atau tepatnya antisipasi kalau-kalau sesuatu terjadi (nah, pake kata ‘kalau’ lagi nih!).

Biasanya, setelah kata “lau” ini, ada kata lain yang khas digunakan dalam kitab-kitab kuning itu, yaitu kata “wa illa fala” [والافلا] (kalau tidak demikian, maka tidak demikian!), bingung kan? jangankan memahaminya, dulu santri-santri di pesantren pun bahkan banyak yang bingung cara membacanya, maklum kitab kuning itu dikenal juga sebagai kitab gundul, karena memang ditulis tanpa tanda baca....kawanku pernah diledek karena membaca kata itu menjadi "wal afla"...tentu anda tidak akan bingung, 'kalau'' anda memahami bahasa Arab dengan baik.

Ah, jadi ngalor ngidul gak karuan yah, maklum lah lagi gelisah...! Semoga penantianku ini segera berakhir!

Salajengna......

April 20, 2007

Pegunungan Alpen Yang Tak Terlupakan...


Pengalaman aku dan keluarga naek ke puncak Pegunungan Alpen sungguh tak akan terlupakan! Rasanya kami sudah dekat berada di atap langit nan biru, putih salju terhampar sejauh mata memandang, puluhan bukit dan gunung seperti ‘tunduk’ berada di bawah kaki-kaki kami.

Ini semua berkat Kang Ahya, kawan di München yang menjamu kami selama 5 hari mengisi liburan anak-anak, dan menunjukkan beberapa objek menarik yang patut dikunjungi, terima kasih, Kang!

Dua puluh satu tahun yang lalu (1986), aku juga pernah naik ke puncak gunung, ya, Gunung Galunggung di Tasikmalaya, bahkan dua kali aku turun ke dasar puncak Gunung yang meletus empat tahun sebelumnya itu. Saat itu aku adalah komandan Pramuka di Madrasah Aliyah (MAN) Cipasung, atau istilahnya, Pradana, juga pengalaman yang tidak pernah terlupakan.


Tapi, Gunung Galunggung dan Pegunungan Alpen tentu berbeda, terutama pemandangan di sekitarnya. Pun untuk sampai ke puncak tertingginya, Zugspitse, yang merupakan puncak gunung tertinggi di Jerman (hampir 3000 km), kita difasilitasi menaiki kereta bergerigi (karena rodanya harus kuat mencengkram jalan yang dilalui) dan kereta gantung.

Saat berada di atas kereta gantung kecil yang hanya muat beberapa puluh penumpang itulah kami hanya bias pasrah kepada Yang Kuasa; jika sesuatu terjadi dengan tali-tali yang dibuat oleh manusia itu, hampir bisa dipastikan maut akan menjemput semua penumpangnya, wallahu a’lam.

Selain ke Garmisch dan Zugspitze, pada hari yang lain kami juga mengunjungi beberapa tempat menarik di kota München. Salah satunya adalah Deutsches Museum yang sangat besar dan terkenal itu. Bukan hanya di München, hampir semua museum di Jerman rasanya tidak pernah membosankan, semuanya terorganisasi dengan baik, jauh dari kesan kusam, serem, atau membosankan. Jujur aku akui, Negara ini pandai memelihara khazanah budayanya, dan mengorganisasinya menjadi komoditi yang bisa ‘dijual’.

Anak-anakku begitu menyukai Deutsches Museum di München! Saking lamanya ‘bermain-main’ di sini, hari itu kami sampai tidak sempat mengunjungi objek lainnya. Sejak saat itulah, ketika kami kembali ke Bonn, kami menyempatkan mengunjungi beberapa museum yang banyak tersebar di Kota ini. Entahlah kalau sudah kembali ke Jakarta, apa anak-anak juga akan suka mengunjungi museum di sana? Lagi-lagi, wallahu a’lam.


Salajengna......

Bubuka: Dongeng Si Encep

Aku juga tidak pernah membayangkan kalau suatu saat akan mendapat kesempatan mengunjungi beberapa kota besar di sejumlah negara: Paris, Amsterdam, Salsburg, München, Berlin, dan banyak kota cantik lain di Eropa, kemudian Osaka, Nara, Kyoto, dan Tokyo di Negara Matahari Terbit, Jepang. Bahkan sejak Agustus 2006 lalu aku boyongan keluarga untuk tinggal di Bonn, sebagai “Gastwissenschaftler” dari the Alexander von Humboldt Stiftung, sebuah Yayasan terkemuka dan bergengsi di Jerman.

Dulu, ketika pertama kali mau nyobain naik pesawat saja, rasanya heboh banget! Saat itu tahun 1999, ketika aku diundang oleh kawan-kawan di Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat untuk mendiskusikan buku pertama karanganku, Menyoal Wahdatul Wujud, aku masih ingat, betapa ngebetnya aku kepengen duduk di dekat jendela pesawat terbang agar aku bisa melihat-lihat pemandangan di luar pesawat….yah, maklumlah aku ini si Encep yang orang kampung!

Saterasna....

MASA KECIL DI KAMPUNG HALAMAN...

Salajengna......